Halaman

Begini Cara Supaya Bisa Mengucapkan Laailaahailallah Saat Sakaratul Maut

Harus saya katakan bahwa hanya sedikit manusia yang bisa mengucapkan tahlil saat menjelang kematian. Saya dan anda tidak jaminan, bahkan sekaliber ustadz sekalipun. Simak Begini Cara Supaya Bisa Mengucapkan Laailaahailallah Saat Sakaratul Maut.

 

ANYA ORANG INI YANG MAMPU MENGUCAP "LAAILAAHA ILALLAH" PADA SAAT KEMATIAN

ustadz ak liat yg LG viral skrng.kiyai Pondok besar kok marah ya hanya karna katanya di hina.berati kiyai pondok besar blm tentu juga tadz merasa AKU. ak berati beruntung tadz. yg bukan keluarga kiyai Ndak pernah mondok tp dihina TDK marah karena belajar dr ilmu ustadz tulisan ustadz

Jawab: Kemarin saya menulis tentang berita yang lagi viral yaitu ada sebuah stasiun TV swasta yang memberitakan tentang tradisi pesantren. TV tersebut condong nyinyir alias menistakan tradisi pesantren yang mengajarkan adab dan sopan santun. Lalu semua dikait kaitkan dengan harta benda keduniaan. 

Ada beberapa sahabat yang tersinggung dengan tulisan saya, padahal saya tidak menyinggung siapapun termasuk pesantrennya. Justru saya menyayangkan beberapa pihak yang gemar mendeskreditkan tradisi pesantren. Menganggap tradisi tersebut bid'ah, berlebihan dll.

Tema yang seperti ini akan selalu menjadi isu klasik. Pemicu perdebatan dan perpecahan paling gurih. Dan memang begitu kenyataannya. Umat islam di Indonesia mudah sekali diadu domba dengan satu perbedaan furuiyyah. Apalagi seribu perbedaan?

Harus saya katakan dengan apa adanya bahwa mental kita semua belum kuat. Salah satunya belum kuat dengan perbedaan dan keberagaman. Menganggap golongan lain yang berbeda pasti salah dan sesat. Karena salah dan sesat harus diperangi. 

Bagi saya pribadi cara pandang seperti ini lucu. Disatu sisi semua umat islam menghendaki persatuan supaya tidak seperti buih di lautan, disisi lain beda baju saja sudah menabuh genderang perang. Bukankah ini lucu dan konyol?

Tapi di malam ini saya tidak hendak membahas masalah pesantren.. Namun membahas hal yang lain meskipun ada sedikit keterkaitan. Yaitu tentang penghinaan dan penistaan. Tentang dirimu yang merasa mulia lalu direndahkan orang lain. 

Saya ingin meyakinkan anda semua bahwa cepat atau lambat kamu kamu pasti akan direndahkan serendah rendahnya. Apakah anda orang miskin, kaya, hina mulia, awam atau alim semua sama. Yaitu suatu saat nanti kehormatanmu benar benar akan dirampas.

Artinya: sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, (QS At Tiin: 5-6)

Sudah bagus andai kehormatanmu dirampas saat masih sehat. Misalnya orang kaya yang tiba tiba jatuh miskin, atau kyai/ ustadz yang tiba tiba kena kasus lalu ditinggalkan santri atau jamaah. Atau bisa juga pejabat yang ketahuan korupsi lalu masuk penjara. Artinya mereka dihinakan saat masih sehat. 

Bagi saya bagus malahan. Meskipun harus menderita selama bertahun tahun bahkan puluhan tahun. Bagus untuk akheratmu, tidak bagus bagi hawa nafsu dan duniamu. Pilih dunia apa akherat? Pilih yang sementara apa yang selamanya?

Dari pada kehormatan dan kemuliaanmu diambil saat menjelang ajal? Khan lebih bagus diambil saat masih sehat. Sebab kalau kehormatanmu diambil menjelang ajal sudah tidak ada lagi kesempatan memperbaiki diri.

Saya dan anda pasti akan diambil semua titipannya menjelang ajal. Semuanya tidak terkecuali. Semua yang anda sandang selama di dunia akan dipreteli satu persatu, termasuk nyawamu sendiri. 

Bayangkan saat menjelang ajal anda tergolek di kasur. Tangan yang selama ini anda gunakan untuk memukul orang lemah sudah tiada daya. Lisan yang anda gunakan untuk menyakiti orang lain sudah kaku tak mampu berucap. Kepintaranmu, hapalanmu, ilmumu saat itu hilang entah kemana.

Saat itu engkau diabaikan. Seakan akan keluarga kerabat, teman, jamaah, santri dll banyak yang peduli dengan menengokmu yang sudah tida ada daya. Sepulang mereka menengokmu mereka tertawa tawa kembali dan engkau dilupakan. 

Saat itu engkau merasa sangat terhina sekali. Hina sehina hinanya. Anda membayangkan para santri, jamaahmu, muridmu dll akan segera berpaling ke guru yang lain. Bayangkan rumah dan harta benda yang dikumpulkan bertahun tahun sebentar lagi pindah tangan. Istri/ suami yang cantik sebentar lagi akan dimiliki orang lain. 

Saat itulah sya dan anda baru sadar kalau ternyata selama ini hanya mengejar sesuatu yang semu tiada gunanya. Mengejar kehormatan, kemuliaan dan harta benda yang fana. Sebab semua yang anda perjuangan selama ini, dan semua yang engkau anggap milikmu sebentar lagi akan binasa. 

Sebuah kesadaran yang terlambat.... Hanya kepedihan dan penyesalan yang tiada bisa diungkapkan. Hanya air mata yang menetes di pipi, sementara bibir bergetar tak mampu mengucap sepatah kata. Tergolek lemah tiada daya.

Percayalah pada saat itu yang anda inginkan hanya satu. Yaitu diberikan kesempatan sekali lagi untuk berbuat baik sebesar besarnya dan sebanyak banyaknya. Saat itu anda berjanji tidak akan sombong lagi, tidak akan menyakiti orang lain lagi, tidak akan menyalahkan golongan lain lagi. 

Tapi semua sudah terlambat. Kemana saja selama ini? Sudah berlalu waktu yang cukup bagiku dan bagimu untuk berpikir, merenung dan muhasabah diri. Tetapi saya dan anda malah disibukkan dengan dunia. Sibuk menjaga kehormatan dan kemuliaan diri. Sibuk mengumpulkan harta benda dan kenikmatan dunia yang fana.

Maka pada saat itu saya dan anda akan merasakan pedihnya sakaratul maut yang nyata. Bayangkan disatu sisi anda menolak dan berontak sekuat tenaga dari tarikan malaikat Izroil yang menarikmu untuk menuju sebuah lobang kematian. Disisi lain malaikat Izroil terus menarikmu dengan paksa. 

Disatu sisi anda berjuang sekuat tenaga untuk tetap bernafas dan hidup lebih lama. Saat itu anda sangat berharap bisa keluar dari sakaratul maut lalu hidup sehat kembali untuk memperbaiki kesalahan. Disisi lain kematian terus menarikmu tanpa ampun. Sebuah perang batin yang sungguh pedih.

Semakin lama anda semakin ketakutan karena nyawa anda terus dipaksa untuk keluar. Anda teramat sangat takut sebab menyadari kelalaian selama ini. Hati anda bergetar hebat berisi kengerian saat harus mengadap Tuhan. Bagaimana mungkin menghadap Tuhan disaat dirimu belum siap karena jiwanya masih kotor?

Sahabat yang dirahmati Allah.. Apa yang saya sampaikan diatas bukan untuk menakut nakuti tetapi real akan kita alami semuanya tanpa kecuali. Oleh karena itu mumpung waktu itu belum terjadi, sadarlah. Sadarilah bahwa apapun yang anda sandang dan miliki semua hanya titipan. Semuanya pasti akan diambil pada masanya. Pasti tidak bisa tidak.

Oleh karena itu ketika saya dan anda ditegur pada saat masih sehat seharusnya bersyukur. Sebab ini peringatan Tuhan sebelum saya dan anda menghadapi hari yang berat dan sulit. Seharusnya ketika kemuliaan anda dinistakan tidak tersinggung. Seharusnya tidak terlalu over protektif meskipun semua tuduhan itu hanya fitnah. Seharusnya berterrimakasih kepada Allah yang sudah mengambil satu dari sekian titipanNya. Bukan malah marah marah. Harusnya loh.

Seharusnya ketika jabatan anda diambil anda bersyukur. Saat status sosial dan kehormatanmu diambil harusnya seneng. Saat harta benda anda diambil seharusnya bahagia. Seharusnya saya dan anda melepaskan apa apa yang sedang dan sudah dirampas oleh takdir. Harusnya begitu...

Sehingga saat sakaratul maut rasa pedihnya bisa berkurang. Ketika sisa sisa milikmu diambil pada saat menjelang kematian, anda ikhlas. Sebab menyadari itu semua bukan milikmu. Sehingga saya dan anda pada saat itu lebih siap saat harus menghadap Tuhan Sang Pemilik Segala Galanya.

"Ustadz ini asal ngomong aja kayak sudah ngalamin". Justru itu, karena sya ngalami makanya bisa ngomong. Saya pernah mengalami sakaratul maut dan rasanya memang nyata nyata sangat pedih sekali. Saya ngalami sakaratul maut bertahun tahun dan selalu gagal mengucapkan "laailaha ilallah".

Selama ini kau pikir mengucapkan laailaha ilallah saat menjelang kematian adalah hal yang gampang? Percayalah kepadaku bahkan orang orang yang sering ceramah tentang kalimat tauhid penyelamat kematian belum tentu bisa menjawabnya. Karena yang berlaku bukan ucapan lisan saja tetapi lebih kepada ucapan hati.

Saya dan anda hanya bisa selamat dengan mengucap laailaha ilallah jika pada saat kemuliaan dan kehormatanmu diambil engkau tersenyum. Engkau merasa plong karena titipan Allah sudah diambil. 

Ketika isi ceramahmu dihujat engkau tersenyum bukan membela diri. Tersenyum karena qalbumu melihat Allah sedang mengambil sebagian kehormatanmu. Ketika jamaah dan satrimu meninggalkanmu engkau tetap tersenyum. karena yang engkau lihat Allah sedang mengambil sebagian kemuliaanmu. 

Malahan saat namamu yang dahulu dimuliakan, lalu hancur yang membuatmu hidup dipinggir kampung karena diusir warga namun engkau merasa bahagia. Engkau yang bernama Ustadz Fulan yang dahulu dimuliakan, lalu menjadi cibiran masyarakat, tapi engkau malah merasa senang. Sebab tuntas sudah Allah mengambil semua selendangNya darimu. Bisa tidak kira kira seperti ini? Kalau bisa maka ketahuilah itulah ucapan "laailaaha ilallaah" yang sebenar benarnya.

Dan saat engkau menghadapi ajal engkau tetap tersenyum. Engkau tak sabar menanti malaikat melepas semua baju baju identitasmu. Karena engkau sudah sangat rindu berjumpa dengan Sang Kekasih. Engkau ingin menjumpai Sang Kekasih dalam keadaan kosong, tidak membawa apapun jua, bahkan amal ibadahmu sekalipun. Karena apapun jua adalah milik Allah semuanya.

Maka orang yang seperti inilah yang mampu berucap laailaaha ilallah saat menjelang kematian. Ucapan lisan yang tembus sampai ke hati. Bahkan jika lisannya tidak mampu berucap karena sudah lemah itu tidak mengapa. Sebab yang berlaku adalah ucapan hati. Yaitu hati yang ikhlas, ridho, tenang dan bahagia pada saat Allah memanggil pulang.

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

Demkian semoga mencerahkan

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar