Kita kadung menganggap bahwa ustadz dan ulama adalah guru akherat. Padahal bukan. Lalu siapa? Yuk simak artikel Bukan Ustadz atau Ulama, Ini Dia Guru Akherat yang Sejati.
GURU BUKAN USTADZMU, LALU SIAPA SEBENARNYA GURUMU?
Emang ustad adin di bekasi ia ustad. Ia beliau guru guru hebat sy harus contoh. (by Angga)
Jawab: Et dah... Saya bukan guru. Saya sama seperti anda, orang yang sedang belajar. Saya, anda, ustadzmu, kyaimu, panutanmu dll bukan guru atau apapun, kita sama sama berstatus sebagai murid yang sedang belajar di panggung kehidupan.
Saya menulis di grup WA sbb: Setiap sahabat di grup ini punya guru, ustadz, peruqyah atau sosok yang dijadikan panutan. Tahukah anda siapa guru terbaik? Bukan ustadz, bukan kyai, bukan gus bukan habib. Jawabannya adalah TAQDIR (By Pendekar Langit)
Selama ini khan engkau menganggap ustadzmu adalah guru akheratmu. Atau meyakini Al Quran dan sunnah adalah kebenaran dan guru sejati. Secara tekstual bener, tetapi secara makna tidak demikian. Ada makna yang lebih dalam dari sekedar tekstual.
Ustadzmu adalah pengantar untuk kita semua bisa selamat dari kawah ujian kehidupan. Demikian juga Al Quran dan sunnah adalah panduan (yang bisa dibaca) untuk mengalami dan menjalani dinamika kehidupan sehingga selamat. Artinya itu semua baru peta... Oleh karena itu jangan berhenti dan terpaku pada peta.
Ujian yang sebenarnya bukan terletak pada kemampuanmu membaca peta akan tetapi pada keputusanmu ketika menjalani takdir kehidupan. Apakah keputusanmu bisa menyelamatkan atau tidak? Itu cluenya.
Saya kasih beberapa contoh. Pertama ketika anda punya duit lumayan. Nah dengan harta itu apakah anda cenderung menyenangkan diri sendiri dengan cara beli bakso sebakul, beli baju, beli perhiasan, beli HP, beli mobil dll atau cenderung menyenangkan orang lain? Misalnya dengan cara berbagi, menyantuni anak yatim, bayarin utang kerabat dll.
Jika keputusan anda cenderung menyenangkan diri sendiri maka peta yang sering anda bawa nggak ada gunanya meskipun sering dibaca ribuan kali. Sebab peta itu mengatakan "bersedekahlah, berinfaklah, berbagilah dll".
Ketika saat jaya anda kikir, pelit, bakhil dan semacamnya lalu gurumu (takdir) mengambil hampir semua harta bendamu lalu apa yang kamu lakukan? Apakah menyalahkan sihir dan atau orang lain sebagai biang kerok hancurnya ekonomi? Apakah anda marah dan dendam kepada asbab hancurnya ekonomimu? Kalau anda menyalahkan orang lain kemudian marah marah artinya nggak ada gunanya peta yang selama ini engkau tenteng kemana mana. Atau dalam bahasa yang lebih dalam ketika anda marah sebenarnya anda sedang memarahi Sang Pembuat Takdir.
Atau anda memutuskan untuk mau introspeksi diri lalu mengatakan, "Oh iya dahulu saat saya kaya lupa kepada orang yang membutuhkan, sekarang hidupku hancur karena kesalahan itu. Bismillah sekarang saya akan belajar sabar". Kalau anda melakukan demikian artinya anda sudah membaca peta dengan benar. Karena anda sudah menjalani peta dengan benar maka akan diarahkan kepada rute yang benar pula. Misalnya rute (takdir) mengantarkanmu kepada peluang baru yang membuatmu hidup berkelimpahan kembali.
Sehingga dimomen itu anda sudah tidak kikir lagi. Anda berubah jadi lebih empati, sholeh dan dermawan. Luar biasanya bukannya harta habis karena disedekahkan malah anda makin kaya. Sampai disatu titik anda sadar sebuah kebenaran lalu mengatakan, "Ooo ternyata begini toh?". Artinya anda sudah membaca peta dengan benar sehingga menemukan dan mengalami kebenaran. Anda sudah menjadi murid yang baik karena pintar membaca.
Membaca apa? Membaca bacaan atau Al Quran dan sunnah itu tadi. Atau pintar membaca pesan dan nasehat ustadz anda yang mengatakan demikian dan demikian.
Satu contoh lagi misalnya takdir anda kena sihir yang menjadi asbab kehancuran hidupmu. Secara lahiriah rumah tanggamu, bisnis, relasi, kesehatan, dll hancur karena kelakuan orang dzalim. Lalu dengan itu hidupmu dipenuhi dengan kemarahan, kesedihan, kekecewaan dll. Hidupmu benar benar menderita lahir dan batin. Hidup anda hancur sehancur hancurnya. Anda shock dan tidak menyangka nyaris semua milikmu dirampas dengan kejam oleh manusia bi4d4b.
Lalu ditengah kemarahan, anda membaca peta (kajian, Al Quran, hadits dll) yang mengatakan bahwa ujian itu dari Allah. Rezeki, jabatan, kemuliaan dll adalah titipan Allah. Kemudian anda membaca peta/ panduan yang bunyinya, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan (ujian) kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS Al Baqarah: 155-157)
Diatas baru peta atau panduan loh ya? Belum menjadi kebenaran sebelum engkau menjalani dan mengalaminya sendiri. Setelah anda mengikuti peta lalu mengalami sendiri barulah hatimu meyakini bahwa kalimat diatas adalah kebenaran. Itulah yang disebut "iman" yang manis rasanya.
Pertanyaannya adalah anda sudah sabar belum?. Anda sudah menerima dan iklas belum ketika sebagian titipanNya diambil melalui asbab sihir?. Anda sudah ikhlas belum saat rumah tanggamu berpisah atau pasanganmu diambil orang lain? Sudah ikhlas belum saat bisnismu hancur, jadi korban fitnah, terkucil dan menjadi pesakitan?. Apakah hatimu sudah mengatakan, "Ya sudahlah kami ikhlas yang hancur biarlah hancur yang pergi bairlah pergi. Sebab semua itu bukan milikku bahkan (nyawa) kami ini milik Allah dan hanya kepadaNya kami kembali". Sudah seperti ini belum?
Jawabannya belum. Padahal anda sudah menjalaninya bertahun tahun bahkan puluhan tahun. Saat itulah anda baru menyadari sesadar sadarnya kalau BERSERAH (menjadi muslim) itu tidak mudah. Saat itu anda menyadari kalau percaya/ beriman kepada Allah yang hadir bersama takdir ternyata sulit. Yang anda percaya adalah dukun itu sudah menghancurkanmu khan? Yang engkau percaya pelaku sihir sudah mendzalimimu khan? Lalu dengan itu engkau marah dan dendam khan?
Disitulah sebenarnya tujuan dari makar Iblis yang mulai bisa anda pahami. Iblis dan pasukannya (sihir) hendak menghancurkan manusia lalu dengannya ditanamkan api (naar) dendam dan permusuhan dalam hati seraya meyakini, "ini gara gara dukun, jin, pelaku, pasangan, kerabat, tetangga dll". Iblis hendak mengajakmu untuk beriman kepada mahluk bukan kepada Allah.
Nyatanya saya dan anda terseret kepada ajakan Iblis khan? Sangat tidak mudah untuk mengingkari bisikan Iblis khan? Buktinya anda sekarang merasakan panasnya api (neraka) yaitu dalam bentuk kepedihan dan kesedihan hati yang seakan tiada berujung. Saat itulah hakikatnya saya dan anda sudah menemani Iblis dalam neraka.
Padahal saya dan anda sering membaca peta/ panduan (Al Quran dan hadits tentang ujian) loh? Tetapi mengapa saat duji dilapangan jadi berbeda? Mengapa saat diuji engkau tidak mampu untuk bersabar? Mengapa engkau meyakini ujian datang dari mahluk bukan dari Allah? Ayo tampar diri masing masing biar sadar.
Kalau memang saya dan anda meyakini Al Quran dan Hadits adalah kebenaran maka ikutilah. Salah satunya dengan bersabar ketika diberikan ujian sihir. Ketika melihat rumah tangga hancur hatimu tetap tenang, karena melihat Allah yang datang bersama takdir sedang mengajarkan cinta yang tak pernah sirna. Ketika melihat ekonomimu hancur malah senyum karena melihat Allah sedang mangajarkan kekayaan yang abadi.
Apa yang saya sampaikan ini nampak gila dimata manusia. Mosok rumah tangga, bisnis, ekonomi, sosial, kesehatan dll hancur malah senyum senyum. Gilak khan? Tapi inilah yang sebenar benarnya iman kepada Allah alias trust dan percaya kepada Allah dengan segala perbuatanNya. Karena apapun ketetapan dan keputusan Allah pasti mengandung hikmah yang sangat besar.
Soo.....
Apapun yang terjadi diluaran sana alias di di dunia lahiriah, hatimu tetap tenang dan BERSERAH DIRI. Tugas kita hanya menyaksikan (bersyahadat) saja. Alias menyaksikan bagaimana secara lahiriah (keduniaan) hidup kita dibanting banting ke sana kemari. Mengapa hati tetap tenang? Sebab yang anda lihat saat itu adalah Allah sedang memperbaiki akherat dalam hatimu. Atau Allah sedang membangun ulang pondasi keimanan dalam qalbumu.
Bisa seperti itu? Nyatanya nggak bisa khan? Sulit khan? Kalau mudah sudah sejak dahulu kala saya dan anda sembuh dari sihir. Nyatanya sampai sekarang kita masih belajar bersama Sang Guru. Siapa sang guru tersebut? Bukan ustadz dan kyaimu tetapi guru kita semua adalah DIA yang datang bersama takdir.
Oleh karena itu camkan baik baik bahwa guru saya dan anda semua adalah DIA dibalik TAKDIR. Sebab takdir mengajarkan banyak hal yang tidak akan pernah diajarkan oleh guru guru dunia. Takdir yang sesuai dengan yang kita inginkan mengajarkan arti bersyukur. takdir yang tidak sesuai keinginan mengajarkan kita untuk bersabar. Takdir mengajarkan kita untuk lebih tangguh, tegar, semangat, pantang menyerah dll.
Karena itulah kita jangan terlalu fanatik kepada guru guru dunia apapun nama, titel dan alirannya. Yang wajib fanatik adalah bersandar totalitas kepada Allah sebagai Sang Guru kehidupan. Berdoalah supaya kita dikuatkan dan diberikan petunjuk untuk mengerjakan ujian dengan benar. Insya Allah pada saatnya nanti benar benar akan diberikan petunjuk.
Dan pada akhirnya segala bentuk ujian mengajarkan kita untuk BERSERAH
Berserah kepada siapa? Dan apa yang diserahkan? Yaitu berserah kepada DIA yang membuat, menciptakan dan menggelar takdir itu sendiri. Sedangkan yang diserahkan adalah dirimu, ego dan hawa nafsumu yang merasa tinggi, bisa dan kuasa. Ketika anda mampu melakukannya ditandai dengan hati yang tetap tenang ditengah badai ujian itulah hakikatnya ucapan, "innalillahi wainna ilaihi roojiuun".
Maka merekalah yang sebenarnya sudah dapat petunjuk. Salah satunya adalah menemukan solusi dan jalan keluar dunia akherat. Yaitu mereka membaca peta/ panduan lalu mengalami jalan berliku liku untuk mengenali Allah, DZAT Yang bersembunyi dibalik takdir lalu beriman kepadaNya. Ketika saya dan anda sudah sampai di maqom ini maka game its over. Saatnya pulang....
Demikian semoga mencerahkan, share ya?
Wallaahu A'lam
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar