Halaman

Inilah Tarekat & Manhaj yang Akan Membawa Keselamatan

Ingin selamat hidup dunia akherat? kalau mau maka anda harus ikut tarekat ini. tarekat apa? Tarekat Allah. Simak tulisan Inilah Tarekat & Manhaj yang Akan Membawa Keselamatan.

 

SANTAPAN ROHANI, INILAH TAREKAT & MANHAJ YANG PASTI AKAN MEMBAWAMU KEPADA KESELAMATAN

Dan dalam waktu kurang lebih satu tahun ini saya selalu mendapatkan petunjuk. Saya dibimbing oleh Mursyid. Saya selalu mengalami kejadian di luar nalar. Jika saya ceritakan kepada orang lain mungkin saya dianggap gila. Saya dibimbing oleh Mursyid. Saya selalu meminta petunjuk kepada Allah. Jika kita belajar tanpa guru sama dg kita berjalan tanpa Arah. Bisakah ustadz membimbing saya🙏🙏🙏Saya ingin belajar tareqat ustadz. Namun hingga saat ini belum ada yg bsa dipercaya (Sahabat 1)

Saya selalu mengikuti kajian ust yg maknanya mengarah ke hakekat..sangat menambah pengetahuam bagi saya...ust permah bilang tdk pernah belajar toriqoh mamun kajian ust llayaknya seorang mursyd. kalau diizinkan saya mau share semua postingan ust diakun faccebook baru saya siapa tau bermafaat utk mereka yg jadi korban sihir ust. (Sahabat 2)

Jawab: Ada beberapa sahabat yang mengira saya ikut tarekat tertentu, maka saya jawab "saya tidak ikut tarekat manapun". Ada juga yang menganggap tulisan saya mengarah ke ilmu hakekat, maka saya jawab tulisan saya hanyalah "santapan rohani untuk qalbu yang kering". Ada pula yang menduga saya seorang mursyid/ guru akherat, maka saya jawab, "saya hanya tukang ngopi bukan mursyid".

Dan salah satu sahabat diatas ingin belajar dengan mursyid atau guru akherat supaya tidak salah arah. Sebab ada yang mengatakan kalau belajar tanpa guru maka gurunya adalah setan. Maka sekali lagi saya katakan "saya bukan guru/ mursyid yang anda cari. Saya hanya tukang ngopi". Lalu dari mana asal muasal ilham dari tulisan yang saya tuangkan khususnya di artikel santapan rohani? Nah itulah yang kadang saya juga bingung, sebab semua mengalir saja apa adanya.

Mungkin karena tulisannya berjudul santapan rohani, sepertinya bersumber dari ruh. Artinya yang menyampaikan ilmu adalah ruh bukan akal. Makanya ketika saya menulis artikel tentang dimensi keimanan biasanya disangkal oleh ahli akal. Yaitu mereka yang mumpuni ilmu akalnya berupa dalil dalil dan hujjah hujjah tekstual. Karena memang pemahaman ruhaniah itu dalam banyak kasus bertolak belakang dengan pemahaman akal. Maka dari itu biasanya bentrok.

"Lalu dari mana saya belajar ilmu ruhaniah? Ini ilmu yang dalam loh. Kalau nggak ada mursyid/ guru nanti gurunya setan". Maka saya jawab aku nggak punya guru satupun. Tidak ada satupun mahluk yang mengajari tentang hakikat kehidupan. Jika dengan itu anda menganggap guru saya adalah setan, bisa jadi benar, hehehe. 

Guruku bukanlah mahluk tapi takdir. Takdirlah yang mengajariku sebuah ilmu yang saya sendiri nggak paham dari mana sumbernya. Takdir seperti apa? Takdir saat dahulu pernah dilimpahkan karunia yang besar, kemudian karunia itu dirampas dengan kejam dengan asbab sihir. Takdir saat dahulu aku merasa memiliki segala ilmu, untuk kemudian takdir juga yang memaksaku menyerahkan semua ilmu tersebut. 

Kongkretnya saat kena sihir dahulu saya berontak dan marah selama beberapa tahun. Bagaimana tidak? Hidupku benar benar dibanting banting, dibolak balik, dihempaskan kesana kemari sampai akhirnya dipentokkan tanpa ada jalan keluar. Sampai disatu titik saya menyerah kepada pukulan takdir. Saya biarkan takdir memukulku dari kanan kiri depan belakang tanpa ada upaya melakukan perlawanan. Sehingga pada satu titik saya mengerti bahwa ternyata ADA Yang membawa takdir. Saya menyebutnya dengan DIA Yang Ada dibalik takdir.

Saya melihat_Nya dengan ruh yang ada dalam qalbu terdalam pada saat saya rela menyerahkan akal dan nafsu. Yaitu pada saat saya rela diberikan musibah yang tidak masuk akal, maka pada saat itulah DIA datang. DIA datang bersama takdir untuk menyucikan hatiku dan menyembuhkanku. Setelah itu DIA selalu datang memberikan nikmat dan karunia yang tiada putus putusnya. Dan jika anda sedang mencari guru/ mursyid maka DIA lah guru yang sebenar benarnya.

Makanya ketika anda bertanya siapa guru saya? Maka jawabannya guru saya bukan mahluk, tapi DIA yang datang bersama takdir. Sehingga ketika anda menganggap saya adalah mursyid/ guru dan atau anda ingin berguru kepadaku maka anda salah alamat. Saya bukan guru akherat, sebab saya hanya tukang ngopi. Kesimpulannya jika anda mencari guru yang bisa mengarahkanmu kepada akherat maka carilah DIA yang tidak pernah bersembunyi. DIA selalu datang setiap detiknya bersama takdir.

Jika DIA yang saya maksudkan adalah Allah, Tuhan, Sang Hyang Widhi, God. Lord maka itulah guru akherat yang sebenar benarnya. Artinya guru akherat bukanlah mahluk yang sering disebut dengan ustadz, kyai, ulama, habib, syeikh, mursyid, SAg, LC, professor atau apapun. Itu semua disebut guru agama atau guru akal yang mengajarkan tentang cara menjalankan agama. Mereka mengajarkan ilmu agama karena telah belajar kitab selama bertahun tahun. Sedangkan guru akherat tidak butuh kitab. Guru akherat hanya butuh ruhmu atau dirimu mengenal lalu menerima kedatangan_Nya.

"Berarti tidak ada mahluk sebagai guru akherat?". Sekali lagi jawabannya tidak ada. Yang ada adalah mahluk yang pernah diajari oleh DIA lalu lulus untuk kemudian memberitahukan jalannya kepadamu. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Dalam bahasa lain mahluk tersebut pernah sampai diakherat lalu muncul ke dunia kembali untuk memberikan kabar gembira dan peringatan kepada manusia lainnya.

"Seperti apa mahluk yang pernah sampai di akherat?". Orang yang pernah sampai di akherat adalah dia yang sudah meletakkan akal dan nafsunya untuk kemudian terbang ke langit qalbu. Diqalbu itulah ia bisa melihat akherat. Ada apa di akherat? Ada DIA atau ada Allah dan tidak ada yang lainnya. Di akherat itu nggak ada iblis, sihir, setan, dukun, pelaku, pasangan, harta benda, jabatam, kehormatan dll. Sebab sekali lagi diakherat hanya ada Allah. Karena itulah jika anda ingin mencari guru akherat maka jawabannya jangan cari mahluk akan tetapi carilah Allah. Dalam bahasa lain jika anda ingin sampai ke akherat maka dihatimu jangan ada segala sesuatu selain Allah.

Dan orang yang sudah pernah sampai diakherat pasti melihat surga. Hatinya tetap lapang, damai, bahagia dan sejahtera dengan apapun yang terjadi di dunianya. Mengapa demikian? Sebab dirinya sudah tidak mampu lagi melihat seribu wajah dan seribu rupa mahluk alam dunia, yang dilihat dalam ruh nya hanyalah Allah sorangan. Ketika disamperin setan ia seneng, ketika kehilangan uang ia tertawa, ketika dihina ia malah bahagia. Mengapa demikian? Sebab sekali lagi ia sudah tidak mampu lagi melihat mahluk, yang dilihat adalah Allah. Nggak masuk akal khan? Tentu nggak masuk akal sebab akalnya sudah diserahkan kepada_Nya. 

Cuman biasanya yang terjadi tidak demikian. Iblis dan setan tidak akan berani mendekati seseorang yang sudah pernah sampai diakherat dan bertemu Allah. Sebab ketika orang tersebut pernah bertemu Allah maka lebur dirinya. karena memang untuk bertemu dan melihat Allah di akherat maka dirimu harus m4ti, lebur atau sirna. Malaikat Jibril saja tidak berani naik ke sidrotul muntaha saat Isra' Mikraj, sebab kalau naik maka tubuhnya akan hancur. Apalagi Iblis dan setan, sudah pasti tidak akan berani mendekati orang tersebut karena badannya bisa hancur.

Makanya sering saya sampaikan bahwa anda yang sedang diberikan musibah besar misalnya kena sihir maka sebenarnya anda sedang diajari oleh Mursyid yang sebenar benarnya. DIA atau Allah lah guru yang sedang mengajarimu tentang hakikat kehidupan. DIA datang mengajarimu melalui takdir yang menurutmu buruk, tapi dirimu malah mencari guru mahluk. Anda malah ikut tarekat ini, manhaj itu, pengajian ini, dzikir itu dll. Itu karena anda nggak peka. Oleh karena itu pekalah, guru atau mursyidnya sudah datang, maka belajarlah.

Bagaimana caranya mengikuti pelajaran dari Guru akherat yaitu Allah? Caranya seluruh isi kepalamu letakkan. Dalam bahasa lain letakkan ilmumu, kecerdasanmu, hapalanmu, dalilmu, pengetahuanmu dll. Lalu tundukkan jiwa, egomu jangan lari lari kesana kemari. Ikat hawa nafsumu sampai nggak berkutik lalu dengarkan Allah sedang bercerita melalui lapisan takdir demi takdir. Tontonlah cerita Tuhan dengan ilmu dan logika diri_Nya sendiri. Simaklah skenario Tuhan dengan skenario diri_Nya sendiri.

Jika anda mampu melakukannya maka percayalah bahwa DIA akan menjelaskan kepadamu tentang hikmah dibalik ujian. Penjelasan_Nya tidak menggunakan bahasa mahluk atau bahasa akal tapi bahasa takdir. Takdir akan menjelaskan kepadamu alasan dirimu diberikan musibah yang besar. Ketika ruhaniahmu mampu memahami penjelasan takdir maka saat itulah anda mulai mengenal Siapa DIA dibalik takdir. Semakin lama semakin mengenal sehingga hatimu mulai percaya kepada_Nya. Dan inilah yang disebut dengan iman dalam pengertian yang sebenar benarnya.

Ketika ruhmu mulai mengenal_Nya maka otomatis hatimu akan bertambah lapang, tenang, ikhlas, ridho dan always happy. Mengapan demkian? Karena percaya atau trust in Allah itu tadi. Ketika hatimu lapang dan tenang maka akan memunculkan kharakter yang terpuji. Misalnya tetap sabar meskipun bermandi ujian, tetap tulus, merangkul, dermawan, empati dan penuh cinta. Kharakter terpuji sebagai buahnya iman inilah yang disebut dengan taqwa. Sedangkan taqwa adalah pintunya surga. Dalam bahasa lain ketika engkau percaya kepada Allah lalu berbuah sifat yang terpuji maka surga akan didatangkan. Surga diakherat adalah kebahagiaan hati sebab dirimu merasa selalu bersama Allah. Sedangkan kebahagiaan hati akan manifest ke dunia nyata dalam bentuk solusi berbagai masalah yang anda hadapi.

Dan inilah tarekat atau manhaj yang harus anda jalani dimana pasti akan membawamu kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia akherat yang seribu persen pasti. Bukan tarekat ini, manhaj itu, aliran ono dll tapi tarekatnya Allah. Yaitu tarekat atau jalan menuju Allah. Siapa yang menjanjikan keselamatan itu? Jawabannya Allah bukan saya atau mahluk atau mursyid. Siapa lagi yang pasti menepati janjinya kecuali Allah? Apakah engkau tidak memikirkan lalu merenungkannya dalam dalam?

Syukron

Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar