Bisakah tenang ditengah ujian? Nggak bisa, alias sulit. Kecuali paham sesuatu. Nah simak artikel Cara Supaya Hati Tetap Adem & Tenang di Tengah Badai Ujian.
SANTAPAN ROHANI, CARA SUPAYA HATI TETAP ADEM DITENGAH BADAI UJIAN
Satu lagi yang bikin nyesek ustad bisik2an dtelinga dfikiran membuat saya gampang emosi gimana cara meredam bisikan,amarah. apa ada surat atau ayat yang bikin hati adem ustad terimah kasih atas pencerahannya semoga allah yang membalas kebaikn ustad.
Jawab: Saya ingin mengulang saja supaya sahabat semakin paham. Bahwasanya secara global manusia itu terdiri dari jasmani dan ruhani. Ruhani itu terdiri dari akal, jiwa dan ruh. Akal itu diotak, jiwa itu dipermukaan hati (jantung) sedangkan ruh ada jauh direlung hati. Anggap saja begitu...
Dimana dimensi/ tempat/ alam yang mana bertanggung jawab terhadap amarah? Letaknya ada di jiwa. Apapun bentuk rasa seperti marah, sedih, kecewa, nglokro, patah semangat, senang, bahagia, gembira, syahdu, sombong, dengki, iri, dll ada di jiwa.
Ketika ada orang yang mengatakan "hatiku sedih" secara global bener, tapi secara detail itu salah. Secara global hati itu ada beberapa lapisan salah satunya adalah lapisan terluar yang disebut dengan jiwa. Bahasa arabnya nafs, diri, ego, atau emosi.
Kemudian ada lapisan berikutnya yaitu qalb, af'idah. lub dan seterusnya. Penghubung lapisan jiwa dengan lapisan berikutnya ada pintu yang disebut dengan sudur (dada). Pintu ini bisa melebar atau menyempit tergantung kondisi dalam relung/ inti hati. Kalau relung hatinya bercahaya maka sudur nya akan melebar atau lapang, demikian pula sebaliknya bisa menyempit bahkan menutup.
Apa yang membuat pintu sudur menyempit? Yang membuat menyempit adalah kemarahan jiwa. Mengapa jiwanya marah? Karena dunianya tidak seperti yang diinginkan. Ketika sudur menyempit maka anda akan merasakan dadamu sesak. Selanjutnya seluruh isi lapisan dalam hatimu akan merasakan panas yang apinya menjangkau relung hati.
"Allathii taththoliu a'al af'dah". Artinya: yang (membakar) sampai ke af'idah (relung hati).
Pernah membaca atau mendengarkan ceramah kalau api neraka jilatannya sampai ke hati? Nah itu maksudnya. Dan anda yang kena sihir sudah merasakan jilatannya benar benar sampai relung hati khan?
Apa yang menyebabkan dada (sudur) lapang sehingga jiwanya tenang? Jawabannya adalah iman atau percaya kepada Allah dibalik segala ujian ujiannya.
"Alam nasyrah laka sodrok (sudur)". Artinya: Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Al Insyirah: 1).
Apa yang menyebabkan dada (sudur) sempit? Jawabannya adalah hatimu beriman atau percaya kepada bisikan mahluk baik dari jin atau manusia. Karena hatimu beriman kepada mahluk menyebabkan jiwamu merana atau merasakan kemarahan, kesedihan dan kekecewaan.
"Alladzii yuwaswisu fii suduurin (sudur) naas". Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (QS An Naas: 5)
Tentang lapisan lapisan hati sebenarnya penting untuk anda ketahui, khsusunya bagi anda yang sedang mendapatkan musibah. Sebab pasti akan nyambung. Kalau belum pernah merasakan musibah yang jilatannya sampai ke relung hati saya jamin nggak akan nyambung yang ada malah gagal paham. Tapi malam ini saya tidak akan membahasnya, nanti malah bikin anda tambah puyeng.
Malam ini saya akan membahas bagaimana cara supaya hatimu bisa lebih adem menghadapi musibah. Ada sahabat yang WA sbb, "Terus keinget semua kejadian yang bikin marah, kesinggung, kesel dan jadi suudzon dan netesin air mata ga tau kenapa."
Coba baca curhatan sahabat diatas, kira kira kenapa jiwa sahabat diatas begitu galau? Jawabannya adalah jin/ setan yang meniupkan was was dalam sudur/ dadanya (lihat QS An Naas). Setan (sihir) meniupkan was was yang membuat dadanya menyempit. Ketika dadanya sempit nafas anda jadi sesak sehingga sering menghela nafas dalam dalam.
Seperti apa bentuk was was yang ditiupkan setan? Bentuknya berupa bayangan kehancuran masa lalu. Membayangkan bagaimana rumah tangganya diujung tanduk, anak anaknya sakit sakitan, ekonomi hancur hancuran, nama baik terinj4k in4k, penyakit menggerogoti badan dll. Disisi lain ada bayangan pelaku dzalim dan orang orang yang menjadi asbab kehancuran.
Kesimpulannya setan menarikmu kepada dunia. Yaitu duniamu yang hancur beserta wajah wajahnya. Itulah yang membuat dadamu sempit lalu memicu bangkitnya dendam, kemarahan, kesedihan dan kekecewaan. Jika diikuti maka makin lama makin membara api dendam dan kekecwaan sehingga mendorongmu melakukan perbuatan yang merusak.
Apalagi ketika ada bayangan wajah pelaku kejahatan yang tidak berperikemanusiaan maka setan akan berbisik untuk membalas dendam dengan cara yang sama. Sebagaimana WA sahabat sbb: "Maaf kdng smpt terbesit bisikan syaithon, apa perlu sy harus ke dukun santet jg utk menyantet/membalas dia jg 🙏🙏🙏"
Namanya juga Iblis yang dahulunya ahli agama. Iblis sangat mahir memoles kejahatan dengan baju agama, dalil dan hujjah yang masuk akal. Misalnya dengan berbisik, "Gak apa apa membalas dengan santet balik, sebab balasan kejahatan adalah kejahatan yang sama. Balas saja itung itung untuk efek jera, supaya tidak ada korban lainnya. Dan ini tidak menyalahi hukum agama kok. Malah kamu dapat pahala".
Oleh karena itu waspadalah, jangan sampai terjebak ya? Sebab kalau sudah terjebak maka anda akan sulit untuk keluar. Apalagi sudah mengiyakan bujukan setan untuk menyembahnya, maka jiwamu sudah tergadai kepada iblis. Kalau sudah demikian akan berakhir kepada penderitaan yang tiada putusnya.
Sekali lagi camkan bahwa setan memberikan was was dalam dadamu tentang urusan dunia. Yaitu duniamu yang hancur. Jiwamu menghadap kepada mahluk makanya pasti kecewa. Dan pada akhirnya anda akan paham sepaham pahamnya statement, "bergantung kepada mahluk akan berakhir dengan kekecewaan". Sebab saat ini anda sudah merasakannya dengan nyata.
"Lalu bagaimana solusinya? Bagaimana supaya jiwanya tetap adem disaat harus melihat dengan mata kepala sendiri dunianya yang hancur?"
Jawabannya sebenarnya sangat sederhana sekali. Yaitu wajah jiwamu jangan menghadap dunia akan tetapi menghadap akherat. Wajah iman dalam relung hatimu jangan menghadap mahluk akan tetapi palingkan wajahmu untuk menghadap Allah. Bingkainya adalah "dzikir" atau ingat Allah.
Inilah jawaban sederhana tetapi prakteknya masya Allah dah... Tantangannya luar biasa karena harus mengingkari bisikan iblis yang menyatu dalam jiwa atau hawa nafsu. "Sudah jelas jelas kamu dijahati mosok diam saja. Jangan kebanyakan nangis, kamu harus bertindak. Kamu harus membalas", nah inilah bisikan iblis yang kudu kamu ingkari. Bisakah? Nyatanya nggak semudah teori khan?. Saking sulitnya bahkan dari bertahun tahun yang lalu sampai detik ini diirmu masih dipenuhi dengan kemarahan, dendam dan kekecewaan.
Sekali lagi jawabannya adalah "dzikir" atau ingat Allah. Cuman bukan dzikir seperti yang anda kira. Bukan dengan mengucap dengan lisan berbagai dzikir yang dibaca sekian kali lalu hatimu tenang. Malahan dzikir yang kamu baca cenderung diniatkan supaya pelakunya kena adzab khan? Ketika pelakunya baik baik saja, jiwamu semakin meronta ronta. Dirimu mulai ragu akan imanmu sendiri karena berprasangka Tuhan tidak mendengarkan doamu.
Bukan juga dengan cara membaca berbagai ayat ruqyah, baca Al Baqarah, dzikir pagi petang dll. Percayalah itu semua tidak akan mampu membuat hatimu tenang dan adem. Kalau anda protes dengan paragraf ini silahkan saja dibuktikan sendiri. Paling paling adem sehari dua hari karena setan setannya pergi, ntar juga kumat lagi.
Bukan juga dengan cara belajar tazkiyatun nafs seperti yang sedang anda pelajari saat ini. Misalnya dengan cara menjalankan sunnah, menjauhi bid'ah, banyak sedekah, berganti baju lebih syarie, tidak datang ke kuburan dan macam macam dah. Lagi lagi kalau anda protes dan tidak percaya dengan paragraf ini silahkan anda buktikan sendiri deh.
"Lalu dzikir atau ingat Allah yang dimaksudkan seperti apa?"
Sebelum menjawabnya simak WA sahabat sbb: "Kdng sy berpikir dan membuat sy mnjadi down merasa letih dan lelah mnghadapi hal bgni an trus. Sy udh berusaha dngn bnyk dzikir utk benteng/pagar diri, tp kok msh tetap tembus dan kena jg 🙏"
Sahabat diatas merasa dirinya sudah banyak dzikir, tapi kok tetap tembus juga? Bisikan setan tetap saja 24 jam. Tetap marah, berontak dan meronta ronta. Mengapa demikian? Sebab dzikirnya hanya sampai di akal saja. Hanya dzikir sekedar hapal saja. Dzikirnya paling banter hanya nyampe di dimensi jiwa atau sudur/ dada. Dan mohon maaf harus saya katakan saya, anda dan kebanyakan orang dzikirnya hanya nyampe disini.
Orang yang dzikirnya hanya sampai di dimensi akal/ otak maka hanya akan terpaku pada bacaan yang wajib sesuai dalil, sunnah, tidak boleh keluar dari hadits, tidak boleh overdosis dan semacamnya. Atau disisi lain (golongan lain) dzikirnya harus sesuai sanad, ijazah, robithoh dan semacamnya. Hanya terpaku pada itu itu saja.
Orang yang dzikirnya hanya sampai di jiwanya hanya akan terpaku kepada khasiat. Misalnya dzikir ini dibaca sekian kali akan membuat dukun terpental, dzikir itu bisa tembus alam gaib, dzikir ono bisa mengembalikan santet kepada pelakunya. Hanya terpaku pada itu itu saja dan tidak mau beranjak lebih dalam.
Salahkah cara dzikir seperti diatas?
Nggak salah, dan bagus kok. Meskipun resikonya anda akan disesatkan oleh Iblis. Sebab wilayah pikiran dan perasaan adalah wilayahnya iblis dan pasukannya. Makanya masuklah lebih dalam sampai ke hatimu. Caranya bukalah sudurmu/ dadamu dan terimalah kenyataan bahwa musibahmu itu adalah salah satu bentuk dari ujian dari sisi Allah. Artinya musibah yang bertubi tubi anda alami dan rasakan bukan berasal dari mahluk tetapi bingkainya dari Allah jua.
Inilah yang dimaksud dengan dzikir hati. Dzikir itu ingat Allah dalam hatimu. Sedangkan hati itu nggak pake lafadz, tidak berhuruf dan tidak bersuara. Dzikir hati itu bukan dengan mengucap secara sirr "Yaa Jabbar" misalnya. Itu bukan dzikir hati tapi dzikir akal dan atau jiwa. Sebab masih ada lafadznya.
Saya kasih contoh dzikir hati. Apakah anda kenal dengan bapakmu atau ibumu? Kalau kenal coba sekarang dzikir/ ingat beliau. Bisa? Pasti bisa sebab anda sudah kenal dengan mereka. Untuk ingat beliau tidak perlu membayangkan apalagi menyebut namanya. Cukup diam dan paham. Seperti inilah iman.
Sama seperti dzikir/ ingat Allah dalam hati tidak perlu dibayangkan atau dilafadzkan. Karena sekali lagi bahasa hati itu tidak berhuruf dan tidak bersuara. Bahasa iman adalah diam tapi paham atau mengerti. Yaitu ngerti kalau dibalik musibah yang anda alami ada Allah yang hendak menguji.
Sehingga jawaban bagaimana supaya hati bisa tetap tenang ditengah badai ujian maka jawabannya adalah "ingat Allah". Tapi sekali lagi ingatnya bukan dengan lisan, pikiran atau perasaan. Ingatnya dengan hatimu. Yaitu entitas yang ada didalam relung dadamu. Ingat Allah dalam diam tapi paham. Paham bahwa dibalik musibah ada Allah yang sedang menguji imanmu.
Ujiannya adalah, ketika kamu diberikan musibah apakah wajah iman/ keyakinan jiwamu menghadap kepada mahluk (dunia), ataukah menghadap kepada Allah (akherat). Kalau wajah iman dalam hatimu menghadap kepada mahluk otomatis bangkit kemarahan, dendam, kesedihan, kekecewaan dan masih banyak lagi. Bahasa lainnya ketika kamu kafir/ ketutup hatinya dari Allah maka masuk neraka (penderitaan). Real ini khan? Bukan omon omon apalagi doktrin khan?
Sebaliknya ketika wajah iman dalam hatimu menghadap kepda Allah maka otomatis jiwamu pelan pelan bisa diredam. Kemarahan, kesedihan dan kekecewaanmu pelan pelan bisa dinetralkan. Misalnya ketika teringat pelaku dzolim lalu bangkit dendammu, kemudian buru buru ingat Allah, "Allah menggerakkan pelaku dzolim untuk menguji imanku". Maka pelan pelan dendammu bisa diredam. Mengapa bisa diredam? Sebab ada harapan dari relung hatimu supaya bisa lulus ujian.
Atau ketika terkenang rumah tangga yang nyaris kandas kemudian bangkit kesedihannya lalu buru buru sadar dan ingat Allah. "Rumah tanggaku hancur bukan karena mahluk, tetapi karena Allah hendak menguji imanku". Maka pelan pelan kekecewaan dan kesedihanmu bisa diredam. Mengapa anda berjuang meredam jiwa yang bergejolak? Sebab ingin menjadi hamba yang lulus ujian.
Yang semua dendam membara dan ingin membalas diurungkan. Yang semula ingin menceraikan pasangan dibatalkan. Semua dilakukannya karena Allah. Meskipun dadanya masih berkecamuk tetapi rela dikalahkan karena Allah. Karena Allah loh ya? Bukan demi atau karena anak, mertua, orang tua dll. Sekali lagi demi Allah.
Itulah yang disebut dalam sebuah hadits tentang berjalan menuju Allah. Ketika kita berjalan menuju Allah maka Allah akan berlari menjemputmu. Ketika kamu berlari menuju Allah, maka Allah akan terbang secepat kilat ke arahmu. Ketika Allah berlari menjemputmu maka jiwamu akan senang. Ketika Allah terbang ke arahmu maka jiwamu akan ridho. Ini analogi keimanan ya? Jangan dibaca secara lahiriah nanti jadi salah kaprah. Mosok Allah berlari?
Maknanya adalah ketika kamu mengalahkan nafsumu sendiri karena Allah, maka Allah akan membuka satu hikmah. Misalnya ketika kamu tidak jadi membentak pasanganmu, urung menceraikan istrimu maka satu hikmah akan kebuka. Engkau akan dipahamkan bahwa ternyata selama ini prasangkamu ternyata tidak benar. Anda mendapatkan bukti otentik kalau ternyata itu semua hanya adu domba setan. Pada akhirnya rumah tanggamu mulai harmonis kembali. Ketika itulah jiwamu merasa senang.
Atau ketika kamu urung balas dendam dan memilih memaafkan takdir lalu fokus ruqyah untuk niat kesembuhan maka kebuka satu hikmahnya. Misalnya dukun/ pelakunya sakit lalu mengakui perbuatannya dan minta maaf kepadamu. Ketika itulah jiwamu yang semula penuh dendam jadi mengikhlaskan. Atau ketika kamu pasrah saat ekonomi hancur lebur kemduian kebuka hikmah lainnya. Misalnya anda dapat satu peluang pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Saat itulah hatimu merasa lapang.
Dan pada maqom ini anda sudah tidak lagi fokus kepada dunia. Hatimu sudah tidak bersandar kepada pasangan, pekerjaan atau orang lain tetapi benar benar hanya bersandar kepada Allah. Mengapa demikian? Sebab anda meyakini yang memberikan hikmah dibalik ujian adalah Allah. Rumah tanggamu harmonis kembali semua karena Allah, bukan karena mahluk. Demikian pula bisnis, relasi yang lancar kembali semua karena Allah.
Jiwamu saat itu benar benar lapang, tenang, damai, bahagia dan sejahtera. Inilah manifestasi surga di dunia sebelum surga di akherat. Dan ini real bukan tekstual bukan pula doktrin loh. Ini adalah pengalaman hidup yang harus anda rasakan sendiri melalui sebuah perjuangan. Yaitu perjuangan mengingkari iblis untuk kemudian percaya/ beriman kepada Allah.
Selamat berjuang. Selamat melakukan perjalanan... Yaitu perjalanan kembali kepada Allah.
Syukron
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar