Ketika hidup penuh kesulitan yang salah siapa? ya kamuu. Kok bisa? SImak Ketika Hidupmu Ruwet Penuh Kesulitan yang Salah itu Kamu.
SANTAPAN ROHANI, KETIKA HIDUPMU RUWET YANG SALAH SEBENARNYA KAMU
Ada sahabat yang WA, kalau saya tulis dengan bahasa saya begini, "Ustadz saya sudah mendingan, sudah mulai pulih hubungan sosialnya. Cuman saya nggak datang pas ada undangan pengajian, sebab disitu ada tukang mainan. Kalau saya datang nanti anak saya rewel minta mainan. Dari pada saya malu lebih baik nggak datang. Sama satu lagi, saya kok sulit dapat kerjaan ya tadz? Padahal sudah ingat Allah sebagaimana yang ustadz sarankan. Bahkan saya membaca tahlil 1000 kali setiap hari, kenapa bisa gitu ya tadz?"
Jawab: Sebelum saya membahas santapan rohani kali ini, saya mau minta maaf dulu. Sebab tulisan ini mungkin saja ngemplang isi kepalamu. Tulisan ini mungkin membuatmu tersinggung tingkat dewa. Tapi nggak apa apalah, sudah resiko.. Toh semua demi kebahagiaan dan kesuksesanmu juga.
Ada cukup banyak sahabat yang curhat tentang berbagai masalah kehidupan. Misalnya tentang hubungan rumah tangga, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Dari sekian curhatan sahabat terpaksa harus saya sampaikan bahwa yang salah bukan orang lain tapi kamu. Yang but4 hatinya itu kamu tapi nggak nyadar. Bahkan belasan tahun tetap nggak nyadar nyadar juga. Sebab itulah hidupmu sellau ruwet.
Ada sahabat yang mengatakan, "ustadz saya sudah berdoa, saya sudah dzikir, saya percaya Allah, tapi kok belum terkabul ya?", maka saya katakan kamu itu dusta. Yang sebenarnya kamu itu belum berdoa apalagi kenal dengan Allah lalu mengingat/ dzikir kepadaNya. Hatimu masih ketutup dari Allah meskipun setiap hari membaca dzikir seribu kali.
Saya tahu paragraf diatas pasti membuat kupingmu panas. Tapi nggak apa apa sudah resiko saya... Sebab kalau saya tulis dengan bahasa kias seringkali banyak sahabat yang nggak paham. Meskipun sudah mengikuti akun ini dari 2 tahun yang lalu tetap saja belum paham.
Banyak sahabat yang sudah berdoa, misalnya minta kesembuhan, kesuksesan dan kebahagiaan. Akan tetapi ketika Allah datang hendak memberikan jalan keluar atau solusi masalah kehidupan anda, malah diabaikan. Celakanya Tuhannya sendiri dibentak bentak dan diusir usir. Ketika anda membenatk dan mengusir pengemis didepan rumah itu sama saja dengan membentak dan mengusir Allah loh? Habis dibentak dan diusir lalu berdoa kepada Allah, "Yaa Robb mengapa Engkau tidak datang?". Kalau demikian siapa yang salah? Siapa yang but4? Jawabannya ya kamu lah.
Contoh kongkret sebagaimana kisah sahabat diatas dimana menghendaki atau berdoa supaya segera dapat kerjaan. "Ya Allah berikan aku pekerjaan agar anak anakku bisa makan". Maka Allah langsung menjawab, "Oke, syaratnya kamu percaya kepadaKu..."
Kalau bahasa Al Qurannya sbb: Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku (sangat) dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman (percaya) kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah: 186)
Aliksah ketika berdoa minta kerjaan Esoknya ada orang yang datang membawa undangan untuk ikut di pengajian. Karena malu nanti anaknya merengek minta jajan akhirnya anda tidak menghadiri undangan tersebut. Lalu saya menyarankan, "Datanglah dan ingat Allah disitu". Dan sahabat kita menjawab, "Sudah tadz, setiap hari ingat Allah malahan. Setiap hari saya dzikir ingat Allah dengan membaca tahlil 1000 kali. Tapi kok tetap belum datang peluang kerja ya?".
Lalu saya menjawab, "Maksud saya ingat Allah nya di pengajian itu. Ingatnya bukan dengan lafadz dzikir tapi dengan qalbu". Dan sahabat kita membalas, "Ah enggak lah tadz, daripada malu lebih baik saya tidak berangkat".
Sahabat yang dirahmati Allah. Tahukah bahwa Allah pasti menjawab doa hamba hambaNya. Syaratnya adalah percaya/ beriman kepada Allah, bukan percaya/ beriman kepada logika akal pikirmu (lhat kembali Al Baqarah ayat 186). Apalagi percaya kepada perasaanmu. Kalau anda percaya kepada Allah, maka Allah Maha Mengabulkan doa. Sebaliknya jika anda percaya kepada logika akal pikir maka doamu tidak akan pernah terkabul.
Allah mengabulkan doa sesuai dengan IlmuNya bukan sesuai dengan ilmu dan prasangkamu. Yang jadi masalah adalah selama ini anda begitu menuhankan ilmu, logika dan akal pikirmu. Anda begitu mendewakan perasaanmu. Berpuluh puluh tahun selalu begitu.
Contoh kongkret ketika anda kedatangan tamu yang mengundang untuk hadir dipengajian itulah cara Allah untuk mengabulkan doamu. Nyatanya anda nggak peka. Anda lebih percaya kepada logika akal pikir dengan mengatakan, "Nanti kalau saya datang dan anak saya merengek minta jajaln khan saya jadi malu. Secara saya nggak pegang uang sama sekali". Nah ini yang disebut dengan mendewakan logika akal pikir lalu mengabaikan jalan Tuhan didalam mengabulkan doa.
Allah sudah datang melalui tetangga yang mengundangmu hadir dipengajian, mosok diabaikan? Kalau nanti anak rewel minta jalan yaa gpp namanya juga anak anak. Kalau nanti malu yaa biasakan diri dengan rasa malu. Bisa jadi dipengajian itu justru datang peluang atau tawaran kerja. Apalagi ketika melihat anakmu rewel dan tidak dibelikan jajan karena anda tidak punya uang, bisa jadi akan ada yang empati membelikannya seabreg abreg.
Ketika anda datang karena hatimu percaya dan menyambut kedatangan Allah bisa jadi anda malahan dapat pahala atau reward dobel dobel. Reward pertama dapat tawaran pekerjaan dari teman pengajian, reward kedua anakmu dibelikan jajan dan reward ke 3 hubungan sosialmu normal kembali. Dengan itulah imanmu kepada Allah menjadi semakin kuat menghunjam dada. Karena meyakini ketika lebih percaya kepada Allah tidak pernah kecewa.
Tapi sayangnya anda nggak peka. Berpuluh puluh tahun nggak peka. Anda tidak beriman kepada Allah dengan sebenar benarnya dan lebih beriman kepada perasaanmu, logika dan akal pikirmu. Dalam bahasa lain anda lebih percaya kepada nafsumu sendiri. Alias tuhannya bukan Allah tapi nafsu dan perasaanmu sendiri.
"Tuhanku Allah tadz, bahkan saya sudah dzikir kepada Allah ribuan kali sehari tadz?".
Yaa okelah itu bagus. Tapi makna dzikir tidak sekedar dzikir lafadz. Kalau melafadzkan dzikir tapi tidak membekas ke hati percuma saja. Yang didapat hanya lelah saja. Celakanya bisa saja yang datang malah jin. Jadi makin dobel dobel gangguannya.
Akan tetapi Setelah ribuan kali menyebut Allah maka datangi dan sambut DIA dengan sambutan yang hangat. Misalnya ketika ada tamu dirumahmu maka dalam padangan qalbu itulah Allah yang sedang memproses doamu maka sambutlah. Ketika anda dzikir atau berdoa diatas sajadah, lalu esoknya ada kejadian tertentu maka ingatlah dengan qalbumu itu Allah yang sedang mengabulkan doamu. Maksud saya dzikir ya seperti ini, yaitu dzikir tanpa lafadz tanpa huruf dan tanpa suara.
Cuman ya itu tadi, anda nggak peka. Yang selalu anda lihat dalam hatimu adalah mahluk. Yang selalu anda ikuti selalu saja logika akal pikir. Yang selalu anda percaya adalah perasaan dan prasangkamu.
Artinya apa? Artinya sebenarnya anda tidak kenal Allah meskipun sudah membaca lafadz dzikir ribuan kali. Yang anda bayangkan Allah jauuuuh sekali dilangit sana. Padahal DIA ada sangat dekat, disini, sekarang (lihat lagi Al Baqarah 186). Allah sangat dekat dan sedang menguji kemana arah wajah imanmu menghadap. Apakah menghadap kepada logika akal pikir atau menghadap kepadaNya. Apakah hatimu menghadap mahluk atau kholiq. Karena hatimu menghadap mahluk itulah yang menyebabkan hidupmu ruwet, rumit dan selalu dalam kesulitan.
Oleh karena itu letakkan dulu logika akal pikirmu lalu hidupkan hatimu... Sambutlah Allah yang datang hendak mengabulkan doa doamu melalui berbagai realitas dan kejadian. Jika anda melakukannya maka percayalah doamu pasti terkabul.
Contoh 1, ketika anda berdoa rumah tangga yang harmonis maka percayalah kepada Allah yang akan mengabulkan doamu. Saat pasanganmu marah marah jangan anda balas dengan marah marah. Yang ada bukan rumah tangga harmonis melainkan resiko perceraian. "Tapi khan dia yang salah tadz? Suami saya nggak perhatian". Nah loh logika akal pikir lagi yang dipertuhankan. Letakkah egomu lalu lihatlah Allah dibalik suami/ istrimu lalu tersenyumlah. Bibirmu tersenyum namun hatimu sedang menyambut kedatangan Allah lewat pasanganmu yang sedang marah marah. Praktekkan cara pandang ini untuk hal yang lain maka saya jamin anda akan diarahkan kepada rumah tangga yang harmonis, adem dan ayem dunia akherat.
Contoh lain, ketika anda berdoa biar dapat pekerjaan atau rezekinya lancar maka percayalah dengan cara Allah bukan caramu. Jika setelah berdoa malah kerabatmu datang ke rumah minjem duit 100.000 buat beli obat anaknya yang sakit maka kasih aja. "Waduh tadz, uang saya tinggal segitu gitunya, rencana buat melamar kerja di kota. Kalau saya kasih nanti nggak dapat kerjaan". Nah khan? Logika akal pikirmu yang bermain. Anda lebih percaya kepada itung itunganmu dari pada matematika Allah. jangan begitu. Akan tetapi berikanlah uang itu dan kondisikan hati sedang menyambut kedatangan Allah lewat kerabatmu. Jika anda melakukannya untuk hal yang lain maka yakinlah rezekimu akan lancar dan anda akan dapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan.
Contoh berikutnya. Ketika anda berdoa minta kesembuhan maka percayalah kepada Allah yang akan menyembuhkanmu. Ketika ikhtiar mencari kesembuhan malahan diminta sumbangan untuk kesembuhan tetanggamu yang sakit maka berilah sumbangan itu sepantasnya. "Khan aneh tadz, wong saya juga sedang sakit malah disuruh nyumbang. Saya ada sih, cuma mau buat biaya ke dokter. Paling saya bisanya nyumpang 2.000". Nah anda lebih percaya logika akal pikir khan? Tambah lagi pelit bin medit karena terlalu mendewakan itungan matematikamu. Kalau selalu begitu bagaimana mungkin anda bisa sembuh? Jangan begitu, akan tetapi sambut Allah yang datang melalui tetanggamu dengan cara tetap memberikan sumbangan sepantasnya meskipun bertabrakan dengan logika. Jika anda melakukannya maka saya yakin jalan kesembuhanmu akan terbuka lebar.
Kesimpulannya, percayalah kepada Allah maka doamu pasti terkabul. Selama ini doamu masih menggantung karena anda masih percaya:
1. Percaya Logika akal pikirmu
2. Percaya Itungan matematikamu
3. Mengikuti ego, perasaan dan prasangkamu
4. Hatimu masih melihat mahluk
4 poin diatas itulah yang menjadi penutup/ cover/ kafaro dalam hatimu. Sudah ketetapan Allah ketika hatimu gelap karena tertutup/ tercover/ terkafir dari diriNya maka engkau akan selalu dalam kegelapan alias tidak tahu jalan. Sehingga ketika anda tersesat alias tidak kunjung menemukan solusi dan jalan keluar masalah kehidupan sebenarnya yang salah adalah dirimu sendiri.
Demikian semoga tidak menyinggung ya?
Syukron
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar