Maukah anda saya kasih tahu bagaimana tangisan kepedihan karena ujian berubah menjadi tangisan rindu pulang kampung? Bagi anda yang sedang diuji dengan ujian yang ugal ugalan simak ya? Ujian Tanda Cinta Allah, Menangis Rindu
TANGISAN RINDU
Ujian Tanda Cinta Allah, Menangis Rindu
Ada sahabat yang curhat WA "....knp sih ustad KLO orang lagi kena sihir hancur semua😭,...kami skrg lgi, dalam keadaan ekonomi sosial pekerjaan rusak semua,tlong bimbing saya ustad,saya ingin sembuh, hidup bahagia bersama keluarga ibadah dgan tenang😭
Ada juga yang sharing, "Saya baca di akun FB nya pak ustadz kemaren, Alhamdulillah saya sedikit di beri hidayah.... Iya pak ustadz,, saya cukup bersyukur sekali bertemu dengan pak ustadz ini, yg semula tersesat,semuanya jadi terang adem ayem 😭"
Jawab: WA pertama dari sahabat sambil nangis. Tapi nangisnya karena sedih dengan beban ujian yang sangat berat. WA kedua sama sama nangis tapi nangisnya nangis bahagaia. Nangis karena rindu dengan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Rindu pulang.
Sahabat mau merasakan syahdunya nangis yang kedua karena rindu tidak? Kalau mau baca sampai habis lalu praktek ya? Prakteknya dengan "rasa".
Alkisah dahulu kala saat masih bocah, sekitaran umur 6 tahunan saya suka main dengan teman dikampung. Mainnya nggak jauh hanya disamping rumah aja. Sementara dibelakang rumah saya ada sungai.
Tiba tiba sore itu mendung sangat tebal. Petir menggelegar diiringi hujan yang turun dengan lebatnya. Saya dan teman teman bukannya takut malah tertawa bahagia sambil hujan hujanan. Kami main lumpur dan tanah tidak mempedulikan bahaya didepan mata. Tak terasa sungai mulai meluap dan siap menyeret apa saja yang ditemui tanpa ampun.
Emak saya berteriak teriak memanggilku tanpa tahu keberadaanku ada dimana. Tapi aku mengabaikan karena terlalu asyik bermain hujan hujanan dengan teman teman. Dengan panik emak keluar rumah membawa payung, pergi ke depan dan tanya ke tetangga. Akhirnya emak tahu kalau kami hanya bermain disamping rumah.
Buru buru emak ke samping rumah lalu tanpa komando langsung membuang mainanku untuk kemudian menjewerku. "Pulang, dasar anak nakal". Sampai dirumah aku langsung dimandikan sambil dipukulin. Emak memarahiku dengan marah yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku hanya bisa menangis ketakutan.
Setelah selesai mandi dan pakai baju, emak masih marah marah sambil mencubit tanganku berkali kali. Tak berhenti sampai disitu bapak datang lalu memukuli punggungku dengan ranting pohon. "Kamu ngerti nggak sih, sungainya banjir dan meluap, kalau kamu terseret gimana?".
Lagi lagi aku hanya bisa diam tak bergerak sambil meraung dan menangis kesakitan tanpa tahu apa salahku. Khan aku hanya ingin main aja. Mana tahu sungainya akan meluap?
Selepas beberapa menit akhirnya emak mendatangi dan memelukku yang masih sesenggukan sambil mengusap air mataku. Nampak matanya berkaca kaca, tapi aku tidak tahu mengapa emak ikut menangis? Yang aku tahu setelah itu emak menyuapi aku dengan nasi lauk tempe dan teh anget.
Setelah kenyang aku ngantuk dan tidur dalam pelukan emak dalam keadaan masih ada sisa sisa sesenggukan. Dan aku sempat melihat bapakku duduk didipan sambil memegang kakiku dan bertanya kepada emak, "Reyfan sudah disuapin?". Emak hanya mengangguk pelan sambil memberikan kode kepada bapak untuk pergi dan membelikan mainan baru yang lebih bagus.
.
.Sahabat....
Tahukah anda kisah masa kecil dahulu mirip sekali dengan kisah saya dan anda sekarang. Saya dan anda mainnya kejauhan sampai lupa diri. Padahal kita tidak tahu ada bahaya yang siap mengancam kapan saja.
Lalu Allah memanggil kita untuk pulang, karena DIA lebih tahu ada bahaya didepan mata. Kita terlalu asyik dengan mainan dunia sehingga mengabaikan panggilanNya. Kita asyik dengan dunia sehingga lalai.
Karena itulah Allah sendiri yang datang melalui musibah yang bertubi tubi. Semua mainan (dunia) dirampas atau diambilnya yang membuat kita menangis. Tidak berhenti sampai disitu sebab sambil digeret pulang sambil dipukul dan dicubit melalui takdir yang sangat kejam.
Lalu apa yang kita lakukan? Yang kita lakukan adalah marah, sedih, kecewa, dendam, nglokro dan berbagai pemberontakan lainnya. Kita menangis sambil meraung raung, "Ini tidak adil, khan aku hanya ingin bermain main, mengapa aku diperlakukan seperti ini?".
Tahukah anda apa yang terjadi? Semakin saya dan anda berontak semakin keras kita dipukul sehingga semakin sakit kita rasakan.
Apakah pukulan itu dimaksudkan untuk mengadzab kita? Ya enggaklah. Mana ada orang tua memukul anaknya dengan besi atau senjata tajam. Itu pukulan pura pura doang, supaya kita semua sadar dengan kelalaian selama ini untuk kemudian mau kembali pulang.
Masalah mainan yang dibuang itu mah urusan kecil. Nanti juga dibelikan lagi. Makanya yang hilang biarkan hilang, yang pergi biarkan pergi. Nanti juga diganti dengan yang lebih baik.
..
Saya harap kisah dan analogi diatas mudah anda pahami lalu mulailah praktekkan. Duduklah diatas sajadah, atau berdirilah dengan kedua tangan terbuka seakan akan mempersilahkan ujian hidup untuk datang.
Ingatlah kembali ujian yang datang bertubi tubi. Ujian yang menghancurkan nyaris semua sendi kehidupan anda. Ujian yang membuatmu menangis setiap hari merasakan kepedihan yang tiada terperi.
Maka lihatlah siapa yang datang? Engkau pikir yang datang adalah dukun, jin, pelaku dzolim, tetangga, teman dll padahal bukan. Itu Allah yang datang dan membuang semua mainan duniamu. Itu Allah yang datang sambil menjewermu dan menarikmu pulang.
Nangis sih boleh boleh saja dan memang harus menangis. Tapi jangan sampai engkau melepaskan diri lalu berlari ditengah badai mencari mainan yang hilang. Karena bisa jadi engkau akan jatuh ke sungai dan terseret arus. Kalau dalam kisah diatas menangislah dan ikut emakmu pulang.
Oleh karena itu ingatlah kembali kehancuran hidupmu dan menangislah. Menangislah sambil menunjukkan dadamu dan membuka kedua tanganmu. Menangislah bukan karena kecewa mainannya dibuang tetapi menangis karena menerima. Menangis karena memenuhi panggilan Allah untuk pulang.
Tegakkan dadamu lalu katakan, "Ya Allah nggak apa apa semua milikku Engkau ambil. Karena hakikatnya itu bukan milikku tapi milikMu. Pukul lagi gpp ya Allah, aku tidak berontak kok. Aku menerima ujian ini ya Allah. Aku nggak sedih kok, aku ikhlas. Aku nggak nangis. Aku kuat....". Katakanlah meskipun dengan menggeretakkan gigi lalu lututnya mulai bergetar dan jatuh terduduk.
"Aku kuat kok, lihat ya Allah aku nggak nangis... Aku nggak nangiisss khan?...". Katakan lagi meskipun matamu mulai basah dan badanmu mulai oleng lalu berujud.
"Ya Allah minta maaf, aku mau pulang.....". Katakan lagi meski pada akhirnya engkau bercucuran air mata sambil bersujud diatas sajadah usang.
Dan pada akhirnya ketika hatimu terbuka menerima segala ujian kehidupan maka pada saat itu engkau menangis rindu. Engkau sangat rindu, entah rindu dengan siapa dan rindu mau kemana. Seakan semesta tersenyum sambil memelukmu dan mengatakan, "Jangan sedih, semua pasti akan baik baik saja".
Engkau merasa plong, hatimu sangat lega. Lalu mulai muncul rasa percaya bahwa semua akan baik baik saja. Saat itu saking percayanya engkau hanya ingin terlelap, tidur dalam keabadian. Engkau percaya justru ketika sedang terlelap, ada DIA yang akan membereskan semuanya.
Maknanya adalah ketika engkau menerima, menyerah dan pasrah tanpa perlawanan justru saat itu Allah akan membereskan semuanya. DIA akan menggantikan apa yang hilang dan pergi dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan saat anda bangun yang anda cari bukan dunia tetapi Allah...
Pulang yuuk?
Syukron
Pendekar Langit
Nomor WA saya sudah ganti ya? Ini nomornya klik wa.me/6285285956659

Tidak ada komentar:
Posting Komentar