Saya tahu tulisan ini mungkin tidak akan nyampe ke pemahamanmu saat ini. Tapi bisa menjadi peta untuk pemahamanmu dimasa yang akan datang. Yuk simak artikel Cara Melihat Allah dengan Terang dan Nyata
BAGAIMANA CARA MELIHAT ALLAH?
Ustadz .... Gmn Cara membedakan bisikan dari hati dan bisikan dari setan/gangguan? Bagaimana melihat Alloh di balik segala sesuatu?
Jawab: Sebenarnya hati itu tidak bisa berbisik. Kata hati itu tidak berhuruf dan bersuara. Yang berhuruf dan bersuara itu pikiran. Yang berbisik bisik isinya adu domba, hasutan, provokasi letaknya ada di pikiran dan itulah bisikan setan.
Ketika anda terhasut dengan bisikan setan lalu mulai muncul rasa marah, sedih dan kecewa itulah yang disebut kata hati. Meskipun lebih tepatnya bukan kata hati tapi refleksi rasa dalam jiwa. Istilah lain dari jiwa adalah nafs, nafsu atau "diri".
Bayangkan gambar hati, maka jiwa adalah kulit yang membungkus hati. Didalamnya ada lapisan lapisan hati. Lapisan pertama ada shodr (Alam nasyroh laka shodrok). Lalu ada qalbu (Fii quluubihim marodum....). Ada juga fuad (allathii taththoliu alal afidah). Lalu ada lubb (...wamaa yaddakkaruu illaa ulul albabb) dan seterusnya.
Saya tidak hendak membahas tentang lapisan hati tetapi kulit yang membungkus hati yaitu jiwamu. Jiwa adalah substansi yang bertanggung jawab terhadap rasa. Ketika kamu marah sedih kecewa takut cemas dll itulah dirimu. Ketika kamu senang, gembira, bahagia itulah dirimu. Dan itulah yang disebut dengan bahasa hati.
Ketika kamu melihat pelaku sihir lalu marah, kecewa, dendam dll itulah kondisi jiwamu. Ketika kamu dibisiki setan lalu terhasut dan dada mulai bergemuruh itulah kondisi jiwamu. Atau bahasa lainnya itulah "kamu". Mengapa engkau marah saat dibisiki setan atau melihat pelaku sihir? Sebab mata hatimu ketutup tirai dari melihat Allah. Yang dilihat adalah mahluk dzalim yang disangka memiliki kekuatan. Hatimu percaya dan yakin bahwa dukun itu sakti.
Mata hati disebut dengan qalbu. Qalbu adalah tempat iman, percaya atau meyakini sesuatu. Qalbu adalah lapisan bawah sadar. Ketika hatimu yakin kalau dukun itu sakti maka sebenarnya wajah imanmu sama sekali tidak menghadap Allah tetapi menghadap kepada mahluk. Dalam bahasa lain engkau sama sekali tidak menyembah Allah tetapi menyembah mahluk.
Manusia adalah mahluk perantauan. Kampung asalnya ada di surga, anggap saja di langit ke 7. Karena melakukan kesalahan akhirnya adam (anda) diturunkan ke langit dunia sebagai alam ujian keimanan. Dari langit ke 7 turun ke langit 6 harus dipakaikan baju/ tabir terlebih dahulu sebab kalaulah tidak dilapisi tabir akan sangat menyilaukan. Dari langit 6, 5, 7, 3, 2, 1 sampai langit dunia harus dipakaikan baju/ tabir/ identitas.
7 lapisan jiwa sebenarnya adalah 7 lapisan hati. Kalau engkau mau pulang kampung ke surga maka perjuangan saya dan anda adalah melepaskan satu persatu baju/ tabir tersebut. Baju pertama yang harus kita lepas adalah "diri" atau nafsu dalam jiwa. Bahasa lainnya adalah harus melepaskan "aku" dan segala identitasnya.
Identitas "aku" yang menjadi baju penghalang pulang kampung adalah hartaku, jabatanku, anakku, pasanganku, orang tuaku, rumahku, mobilku, mataku, wajahku, ilmuku, kecerdasanku, kehormatanku dll. Segala identitas inilah yang disebut dengan dunia.
Mengapa mayoritas (semua) manusia enggan untuk melepaskan "aku" dan segala identitas yang melekat kepadanya? karena kalau dilepas tidak punya harga diri lagi alias tidak punya diri. Ketika hartaku hilang maka seakan akan satu urat nyawamu lepas memicu rasa sakit yang luar biasa. Karena itulah tidak ada satu manusiapun yang suka rela melepaskan satu urat nyawa dunianya.
Karna itulah Allah memberikan ujian berupa musibah supaya manusia sadar bahwa "aku" dan segala identitas keduniaan adalah milikNya. Tidak ada sebesar dzarah baik diluar dirimu atau didalam dirimu yang menjadi milikmu, semua milik Allah. Segala ilmumu, kekuatanmu, kecerdasanmu, kemuliaanmu yang selama ini engkau aku akui semua milik Allah.
Artinya Allah memberikan ujian dalam bentuk melepas satu persatu baju identitasmu tujuannya menarikmu pulang. Yang jadi maslaah adalah mayoritas manusia tidak mau diajak pulang. Maunya hidup abadi di dunia ini meskipun mustahil.
Itulah mengapa ketika Allah melepas satu saja identitas keduniaanmu membuatmu merasa sakit dan pedih. Misalnya bisnisnya dibikin bangkrut lalu anda jadi gembel, pasti merasa sangat terpukul. Mengapa merasa terpukul? Karena begitu kuat saya dan anda memegang harta benda dan dunia.
Ketika Allah mencintaimu maka akan diuji (diberikan musibah bertubi tubi) (baca hadits). Artinya ketika Allah mencintaimu maka engkau akan ditarik dengan paksa untuk melepas semua baju "aku" mu. Misalnya rumah tangga dibikin berantakan, anak lumpuh, ekonomi morat marit, harga diri terinjak injak dll. Bagaimana rasanya baju keduniaan dilepas? Sakiiiit sekali persis seperti sakaratul maut.
Mengapa rasanya sangat sakit? Sekali lagi karena engkau masih kuat memegang dunia. Seharusnya ketika diberikan ujian hatiku dan hatimu menjadi lebih lembut, namun kenyataannya malah bertambah keras. Bertambah gelap hatimu dari melihat Allah yang sedang menarikmu pulang kepadaNya.
Itulah mengapa datang ujian sihir sebagai wasilah untuk melepas hampir semua baju/ tabir penghalang yang menghalangimu dari melihat Allah. Mengapa harus dilepas semuanya? Karena inilah satu satunya jalan kembali ke langit 7 (surga).
Artinya jawaban pertanyaan Bagaimana melihat Alloh di balik segala sesuatu?. Jawabannya adalah lepaskan bajumu dulu baru engkau akan paham. Kalau engkau masih mempertahankan bajumu maka selama lamanya engkau tidak akan paham dan mengerti. Selama jiwamu masih marah, sedih, kecewa dll ketika diberikan ujian (musibah) maka selama itu engkau tak akan pernah mampu melihat Allah.
Lepaskan rasa memiliki terhadap dunia. Lepaskan rasa memiliki terhadap harta, keluarga, bisnis, rumah, mobil, aset dll. Kemudian mulai lepaskan rasa memiliki terhadap matamu, telingamu, wajahmu, pikiranmu dan seluruh tubuhmu. Bisakah?
Pasti tidak akan bisa dan tidak akan mau. Makanya dilepas dengan paksa melalui musibah yang tidak ada jalan keluar. Sampai disatu titik nadzir anda pasrah ikhlas dan ridho ketika hampir semua bajumu yang menjadi tabir penghalang dari melihat Allah yang memiliki segala galanya dilepas, disitulah anda baru sadar dan mengerti.
Ketika anda mengerti hikmah dibalik musibah barulah jiwamu yang selama ini penuh kesedihan dan penderitaan pelan pelan adem dan tenang lalu bahagia. Mengapa bahagia? Karena pintu hati (mata hati) mulai terbuka. Ketika mata hati terbuka nampaklah bahwa dibalik mahluk ada Allah. Ketika mata hati terbuka barulah anda mengerti bahwa semua adalah perbuatan Allah.
Sehingga jawaban pertanyaan bagaimana cara melihat Allah tidak akan anda mengerti sampai berada di maqom ini. Yaitu maqom ikhlas dan ridho saat baju "aku" dan segala identitasmu dilepas atau ditiadakan. Atau bahasa lainnya anda tidak akan pernah mengerti sampai tirai atau tutupan mata hatimu disingkapkan.
Meskipun saya dan anda belum mengerti tetapi paling tidak tulisan ini bisa dijadikan sebagai peta atau road map menuju kepahaman. Karena kepahaman ini hanya bisa dirasakan ketika mengalami sendiri. Dan suatu saat anda pasti mengalaminya. Yaitu mengalami bagaimana rasanya baju "akumu" dilepas melalui musibah demi musibah.
Bisa dikatakan sia sia saya menulis tema tentang tema ini. Yang ada malah banyak hujatan yang dialamatkan kepadaku. Tetapi saya akan terus menulis sebagai bagian dari edukasi supaya anda tahu map menuju kampung halaman. Harapannya ketika perjalanan anda sampai di etape "ujian berat" anda ingat dengan tulisan ini.
"Bertahun tahun saya mengalami penderitaan, baru sadar tulisan pendekar langit dahulu kala, bahwa ujian ini adalah jalan melepas bajuku. Ya sudah ternyata benar apa kata pendekar langit, satu satunya solusi adalah "rela". Rela kalau ternyata saya sebenarnya tidak ada, tidak bisa apa apa dan tidak kuasa apa apa. Yang Ada Yang Kuasa dan Yang Bisa hanya Allah". Naah pada saat itulah saya jamin anda akan sepakat seribu persen dengan tulisan ini.
Di saat itulah anda mampu melihat Allah dibalik segala galanya dengan iman yang ada dalam qalbumu. Dan segala perbuatanmu selanjutnya semua atas dasar iman tersebut. Ketika segala amal perbuatanmu dilakukan atas dasar iman kepada Allah maka jiwamu akan damai dan bahagia.
Mungkin saja Allah akan mengembalikan apa yang hilang dan pergi bahkan memberikan bonus yang besar, namun pada saat itu hatimu sudah tidak melekat kepadanya sebagaimana dahulu kala. Karena pada saat itu yang melekat dalam hatimu hanya wajah Allah semata mata. Jiwamu hanya bahagia ketika bersama dengan Allah. Dan pada saat itulah anda sudah pulang.
Sebagai penutup saya akan mengulang tulisan di artikel sebelumnya bahwa bekal pulang kampung adalah jiwa yang ada dalam dada. Atau bahasa lainnya bekal akherat adalah segala kebaikan jiwa dalam bentuk ketulusan, kepedulian, empati, kasih sayang, kesabaran, keikhlasan dll. Camkan ya?
Jika saya dan anda pulang kampung masih melekat dunia, harta benda, jabatan dll maka anda akan dihisab dengan hisab yang berat. Termasuk jika anda meninggal dunia masih membawa dendam, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, merasa bisa, merasa benar, merasa suci dll maka hisabmu akan mengerikan. Bahkan jika saat pulang ke akherat anda masih merasa membawa amal ibadah, sholat, ngaji, sedekah, dzikir dll tetap saja akan dihisab/ dihitung. Jika kebaikanmu lebih banyak dari keburukanmu maka anda akan selamat. Sebaliknya jika ternyata keburukanmu lebih banyak maka anda akan sengsara.
Tetapi ketika anda meninggal dunia (pulang kampung) membawa jiwa yang tenang sudah pasti selamat, bahkan tidak akan dihisab. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang bahagia karena selalu membersamai Allah saat di dunia. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang tidak merasa ada, tidak merasa bisa dan tidak merasa kuasa. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang pernah dikuliti (diberikan musibah bertubi tubi) saat di dunia sehingga seiring waktu sampai pada maqom merasa kosong dari "aku".
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang mengatakan, "aku tidak merasa melakukan apapun, karena yang melakukan apapun adalah Allah".
Demikian semoga mencerahkan
Wallaahu A'lam
Klinik Pendekar Langit
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar