Ruh, Hati & Jiwa Mana yang di Bawa ke Akherat?

Hidup itu untuk mencari bekal akherat. Pertanyaannya adalah bekal seperti apa? Apa bekal banyak hapalan? Bekal banyak sholatnya? Ternyata tidak sesederhana ini. Simak Ruh, Hati & Jiwa Mana yang di Bawa ke Akherat?

 

Ruh, Hati & Jiwa Mana yang di Bawa ke Akherat?

Menurut njenengan , roh, jiwa, nafs , apakah sama atau beda? Ada pendapat jiwa bisa diculik dukun

Jawab: Banyak penjelasan tentang kaitan antara roh, qalbu dan jiwa/ nafs. Penjelasan mana saja silahkan disimak dan dibaca yang penting anda paham. Mau penjelasan itu berasal dari manhajmu, atau madzab lain saya tidak peduli, yang penting hatimu mengerti, Indikasi paham adalah cocok di hati.

Terlepas dari penjelasan yang pernah anda baca, Ijinkan saya sedikit menjelaskan kepadamu tentang kaitan antara ruh, hati dan jiwa. Ini penting sekali supaya saya dan anda tahu jalan pulang. Tapi bacalah dengan hati ya? Potong dulu kpl anda supaya ilmumu tidak merecoki. Pahami dengan apa yang ada dalam dada.

Sebelum saya menjelaskan, ijinkan saya menyampaikan bahwa yang dibawa saat kita pindah alam adalah isi dalam hatimu (iman). Yaitu apa yang ada didalam dadamu. Oleh karena itu mulai sekarang geserlah paradigma akheratmu dari pengetahuan akalmu menuju apa yang ada dalam dada. Caranya ketika berbicara tentang akherat buang atau tutup dulu isi kepalamu.

Isi kepalamu tidak akan anda bawa mati. Kecerdasan, keilmuwan, hapalan quranmu, haditsmu, gelar ustadzmu, kealimanmu dll tidak akan anda bawa. Sekali lagi yang anda bawa adalah iman dalam hatimu. Camkan ini.

Ketika anda melihat ahli maksiat kelaparan dan butuh pertolongan lalu anda ceramah sampai berbusa busa, itu tidak penting dan tidak akan anda bawa mati. Tetapi ketika melihat ahli maksiat kelaparan lalu atas nama kemanusiaan anda memberinya makan, itulah yang akan dibawa mati. Ini disebut dengan empati. Dan empati letaknya ada dalam dada.

Sekelumit mukadimah diatas adalah awal sebelum kita membahas kaitan antara ruh, hati dan jiwa... Yuk kita mulai.

Dalam diri manusia ada yang namanya "RUH". Ruh adalah tiupan Allah sebagaimana firman Allah dalam QS Al Hijr ayat 29 sbb:

Artinya: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS Al Hijr: 29)

Mengapa Allah menyuruh bersujud kepada Adam? karena dalam diri adam ada ruh Allah, atau kadang saya menulis nurullah (cahaya Allah). Artinya semua manusia memiliki "tiupan ruh Allah". 

Artinya yang paling kenal dengan Allah adalah "ruh". Sebagaimana dalam Al A'raf ayat 172 saat itu ruh diberikan pertanyaan, "Alastu birobbikum" lalu ruh menjawab "qoolu bala syahidna". 

Untuk lebih mudah memahaminya lihat gambar terlampir.... Dalam gambar tersebut ada ruh, atau cahaya Allah. Sekali lagi semua manusia memiliki tiupan ruh Allah dalam relung hatinya yang terdalam. Dari penjelasan singkat ini dapat disimpulkan bahwa Allah itu sebenarnya sangat dekat sekali. Lebih dekat dari diri kita sendiri.

Lalu cahaya Allah itu turun ke langit dunia yaitu dalam hati manusia. Bahasa lainnya cahaya Allah hendak menembus setiap hati anak adam. Namun kebanyakan manusia hatinya tertutup/ digembok sehingga cahaya Allah (ruh) tidak bisa menembusnya.

Apa yang menutup pintu hati manusia? Yang menutup adalah dirimu sendiri atau egomu atau hawa nafsumu. Yaitu "diri" yang merasa ada, bisa dan kuasa. Itulah yang menutup pintu hatimu.

Karena pintu hatimu ditutup menyebabkan kegelapan. Saya dan anda gelap dari melihat cahaya (nurullah). Atau bahasa lainnya karena pintu hatimu ketutup oleh "diri" mu menyebabkan anda tidak bisa melihat "diri" Tuhan atau Allah. Terlepas dari lisanmu sangat fasih menyebut nama Tuhan tetapi sebenarnya itu perkataan dusta.

Artinya: Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS Al Baqarah: 8-9)

Diri itulah yang disebut dengan "jiwa" atau nafs atau nafsu. Jiwa yang tidak (belum) mengenal Tuhan tandanya masih suka marah, berontak terhadap taqdir, kecewa ketika ekspektasi tidak sesuai keinginan, merasa paling benar sendiri, bangga dengan diri dan golongan, merendahkan orang/ golongan lain dan masih banyak lagi. Segala penyakit (kegelapan) hati baik yang nyata atau yang halus adalah penanda bahwa jiwamu belum mengenal Allah.

Mengapa jiwamu masih suka marah, sedih, kecewa dll? Karena "diri" tidak mampu melihat Allah, yang dilihat adalah mahluk. Secara tidak sadar meyakini dalam hati bahwa mahluk memiliki kekuatan selain Allah.

Bagaimana supaya jiwa mampu mengenal dan melihat Allah? Banyak ulama yang mengajarkan tentang membersihkan hati dari sifat tercela. Bahasa ruqyahnya adalah "tazkiyatun nafs". Cara ini memang betul meskipun tidak jaminan. Sebab banyak orang yang kelihatannya baik tapi belum mengenal Tuhan. Menjadi (seolah olah) baik karena ada riya' atau tujuan keduniaan. Ada modus atau udang dibalik batu.

Lalu bagaimana cara mengenal Allah? Cara kenal dengan Allah adalah suka suka Allah. Karena Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki dan menyesatkan (menggelapkan) siapa saja yang dikehendaki. Artinya petunjuk mutlak hidayah dari Allah.

Allah mengenalkan diriNya melalui banyak cara salah satunya adalah melalui asbab ujian/ musibah. Kebanyakan orang orang yang pintu hatinya terbuka pasti pernah melewati sebuah fase kehidupan yang sangat berat. Salah satunya melalui asbab kehancuran karena sihir/ santet.

Artinya agar supaya pintu hati yang ketutup oleh "dirimu sendiri" bisa terbuka lalu memancarkan cahaya Allah maka caranya dinding nafsu (diri) harus dihancurkan terlebih dahulu. Bagaimana rasanya ketika "diri" dihancurkan? Rasanya sakiiiiiiiiit sekali tak terlukiskan.

Siapa yang menghancurkan dinding hatimu (mematahkan hatimu)? Yang menghancurkan adalah "diriNya" Allah. Allah ingin engkau mengenalNya maka mau tidak mau dirimu harus dihancurkan terlebih dahulu.

Dalam satu kitab karangan ulama abad 13 menulis tentang kisah penciptaan nafsu. Alkisah ketika Allah menciptakan nafsu (dirimu) lalu ditanya, "Siapa Aku dan siapa kamu". lalu nafsu menjawab "aku adalah aku dan engkau adalah engkau". Atau kalau bahasa saya, "aku adalah aku dan aku tak kenal Engkau".

Mendengar jawaban nafsu yang membangkan lalu Allah membakar dalam neraka yang sangat panas selama ratusan tahun. Ketika nafsu diangkat dari neraka dan ditanyakan pertanyaan yang sama nafsu tetap menjawab, "aku adalah aku dan aku tidak kenal Engkau". Lalu Allah menyiksa nafsu dalam neraka yang sangat dingin selama ratusan tahun. Ketika nafsu masih keras kepala lagi lagi dibakar dalam neraka yang penuh dengan kelaparan dan kehausan selama ratusan tahun. Sampai akhirnya nafsu menyerah lalu mengatakan, "Anta robbi wa ana 'abduk". Engkau adalah Tuhan dan kami adalah hamba".

Jika dengan kisah diatas anda belum paham ijinkan saya menjelaskan dengan penjelasan lain yang saya yakin akan anda pahami. Ketika Allah hendak memperkenalkan diriNya maka saya dan anda akan diuji atau diberikan musibah. Ketika musibah diangkat namun anda belum kenal Allah maka akan dikasih musibah lain yang lebih berat. Sampai akhirnya diberikan musibah kena sihir yang menghancurkan nyaris segala galanya. Barulah saat itu anda mengakui bahwa "diri" ini sangat lemah lalu kembali bersandar kepada Allah.

Atau dalam bahasa yang lebih dalam, ketika engkau merasa ada, bisa dan kuasa maka Allah akan menegurmu melalui musibah. Sekeras apapun engkau berusaha keluar dari lingkaran musibah engkau tak akan mampu. Semakin berusaha semakin engkau akan tenggelam dalam masalah yang mustahil keluar darinya. Pada satu titik akhirnya anda menyerah dengan sebuah pengakuan, "aku tak mampu, dengan ini aku menyerah". Inilah yang disebut dengan meniadakan diri. Meyakini bahwa "diri" sebenarnya tidak ada, tidak bisa dan tidak kuasa. Diri ini tiada, yang ada hanya diri Tuhan.

Ketika saya dan anda sudah berada di maqom "tiada" maka otomatis juga meyakini mahluk lain tidak ada, tidak bisa dan tidak kuasa. Pada saat itulah pintu hatimu sedikit demi sedikit mulai terbuka lalu memancarkan cahaya ruh atau cahaya Allah menerangi kegelapan dalam jiwa.

Saat itulah anda mulai melihat dengan pandangan mata hati bahwa Allah ada dibalik mahluk dan dibalik segala galanya. Mata lahiriah anda melihat dukun, pelaku dan orang dzalim tapi mata hatimu melihat Allah sedang membuat sebuah cerita. Saat itulah jiwamu pelan pelan menjadi tenang, adem dan bahagia.

Ketika jiwamu sudah kenal Allah maka akan terpancar keluar dari wajah yang teduh memancarkan ketulusan hati. Sifat dan kharakter anda akan berubah total. Anda akan menjadi pribadi yang tulus, empati, suka membantu, penyabar, penyayang dll.

Ketika anda melihat pengemis didepan pintu sepersekian detik langsung sadar bahwa Allah datang untuk menguji kedermawananmu. Langsung saja diambil uang yang lebih dari cukup plus beras, lalu mendatangi pengemis dengan senyum tulus. Setelah anda memberi bantuan kepada sang pengemis lalu anda merasakan jiwa yang berbahagia karena baru saja berinteraksi dengan Allah yang ada dibalik sang pengemis.

Ketika dihina orang lain anda tidak membalas tetapi tersenyum. Ketika dituduh sesat anda tidak tersinggung, malah mentraktir bakso. Ketika motornya hilang anda tidak panik, malah mengucapkan terimakasih. Dan seribu satu kejadian yang anda tanggapi dengan tenang dan bahagia.

Dan kebaikan kebaikan jiwa inilah yang akan kita bawa nanti sebagai bekal di negeri akherat. Artinya bekal akherat bukan karena anda pinter, anda ustadz, anda banyak hapalan, anda begelar sarjana agama dll tetapi sekali lagi kebaikan jiwa. Yaitu kebaikan jiwa karena melihat Allah dibalik segala sesuatu. Jiwa seperti inilah yang disebut dengan jiwa yang tenang.

Artinya: Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr: 27-30)

Jiwa seperti inilah yang dipanggil oleh Tuhan untuk kembali kepadaNya. Bahkan sudah kembali kepada Allah meskipun masih hidup di dunia. Dialah kekasih Allah hasil dari didikan dan tempaanNya. Yaitu DIA yang menempa jiwa melalui ujian yang bertubi tubi sampai akhirnya menjadi kekasihNya.

Dan saat pindah alam sang jiwa tidak membawa apa apa. Tidak membawa dirinya, amalnya, ibadahnya dll, tetapi membawa jiwa yang bercahaya. Yaitu cahaya Allah yang meliputi dirinya. Dan dengan cahaya itu sang jiwa tidak mungkin akan tersesat dialam kegelapan. 

"Apakah tidak boleh ketika m4ti kita membawa bekal amal ibadah?". Tentu boleh dan bagus, tetapi itu akan dihisab. Akan ditimbang antara amal kebaikan dan amal keburukannya. Tetapi jiwa yang bercahaya tidak mungkin dihisab dan tidak akan ada yang berani menghisab. Bagaimana mungkin malaikat akan menghisab jiwa yang sudah kehilangan dirinya? Ketika sang hamba kehilangan dirinya maka Yang Ada adalah diri Allah. Bagaimana mungkin malaikat berani menghisab?

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan sekelumit kata kepada sahabat yang sedang diuji dengan ujian berat (sihir). Cobalah geser paradigmamu dengan cara masuk ke dalam dirimu sendiri. Lihatlah ruhaniah (hatimu) sedang terluka karena dihancurkan oleh takdir. Oleh karena itu biarkan saja hancur. Kalau belum benar benar hancur biarkan saja ujian lainnya membuatmu semakin hancur lebur.

Kehancuranmu bukanlah kiamat tetapi itulah cara Allah untuk menyadarkanmu. Itulah cara Allah untuk membuka pintu hatimu yang selama ini digembok. Oleh karena itu biarkan saja "dirimu" hancur, ikhlaskan. Sebab ketika "dirimu" ikhlas dihancurkan lalu tiada, maka akan muncul "diriNya" Allah (cahaya Allah). Ketika diriNya Allah menggantikanmu maka percayalah semua akan beres.

Pernah membaca hadits shahih "“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji?”. Ketahuilah penjelasan hadits ini ada dalam tulisan ini. Ketika Allah sudah mencintaimu maka DIA lah yang melihat saat engkau melihat, DIA yang mendengar saat engkau mendengar.

Saya ucapkan selamat ya? Selamat karena engkau yang terpilih untuk menjadi kekasihNya

Barakallaahu fiikum

Klinik Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kena Sihir adalah Jalan Tol Menuju Sukses Skala Quantum

Kena sihir memang memang menghancurkanmu secara lahiriah. Tapi secara ruhaniah kena sihir satau santet justru jalan kesuksesan dunia akherat...