Belajar Islam itu Bukan Lewat Pengajian tapi Melalui Ujian

Kamu pikir belajar islam itu lewat pondok, kuliah, pengajian, ceramah dll? Anda salah. Itu baru belajar teori. Simak penjelasan Belajar Islam itu Bukan Lewat Pengajian tapi Melalui Ujian.

 

MEREKA BELUM TENTU ISLAM, JANGAN DIBACA NANTI KAMU JADI KEC4NDUAN

Sampai subuh saya ngk tidur saya trauma klu merem ,takut mimpi buruk lagi, Rencana nya saya mau cari kontrakan, dlu ,ini hidup benar2 tidak tenang ,tidur TDK tenang, jiwa raga sudah ngk kuat, fisik sakitan ,, Tidak menyangka sekali saya akan di uji dengan ujian se berrrrrraaaaaat ini pak ustadz 😭

Jawab: Yang sabar ya bu? Saya tahu sangat berat. Tapi bagaimanapun juga saya ucapkan selamat sebab Ibu dan keluarga sedang dididik untuk belajar islam.

Nah sudah malam nih, saatnya santapan rohani... Saat ini pukul 23.43 tengah malam. Kalau sudah tengah malam seperti ini biasanya saya kalau nulis agak ngelantur. Tulisannya kadang nampar pipi.. Oleh karena itu supaya kamu nggak ketampar lebih baik skip aja ya? Kalau nggak kuat dengan bahasa saya lebih baik tidur saja.

Terkait dengan chat sahabat diatas maka saya yakin banget beliau sedang belajar islam yang sebenar benarnya. Makanya saya mengucapkan selamat....

Artinya belajar islam itu bukan dipondok, di pesantren, di fakultas islam, di kajian, di ceramah, dimasjid, di kairo, di mesir dan tempat lain. Mereka yang ada disitu tidak sedang belajar islam..

Nah khan mulai ngelantur.. Anda mulai panas kupingnya khan? Makanya lebih baik skip tulisan ini dan pergi tidur. 

Belajar di pondok, dikajian, di kairo, di arab dll itu baru belajar teori hukum dan syariat islam, bukan belajar islam. Itu sama saja seperti anak sekolah yang sedang belajar menghitung. Atau anak kuliahan jurusan teknik mesin yang sedang belajar. Alias itu semua masih teori.

Yang namanya teori nggak ada gunanya kalau nggak dipraktekkan. Teori akan tetap menjadi teori meskipun disampaikan berulang ulang.

Artinya orang yang belajar teori islam di pondok, di universitas di kajian dll semuanya masih teori. Mereka semua belum menjadi islam. Meskipun kenyataannya mereka yang lulus pondok atau lulus di kairo lalu banyak ngisi ceramah langsung disebut ustadz atau kyai. Seakan akan merekalah orang yang paling islam dan paling layak masuk surga.

Ini salah... Ini nggak bener dan harus diluruskan...

Belajar islam yang sesungguhnya bukan lewat pondok, universitas, kajian dll tetapi lewat ujian. Belajar islam yang sesungguhnya lewat "musibah". 

Siapa gurunya? Bukan ustadz, kyai, habib, gus, professor, Sag, ulama, mursyid dan seluruh manusia yang dianggap ahli agama. Bukan itu gurunya. Tetapi gurunya langsung Tuhan atau Allah.

Btw anda masih ngikutin tulisan ini apa sudah meluk bantal? Hehe

Ketika manusia diuji, ditimpa musibah bertubi tubi artinya dialah yang sedang belajar di universitas islam yang sesungguhnya. Apakah dengan ujian itu ia tetap bersabar karena Allah, ataukah berontak dan marah?

Kalau ternyata dia lulus maka anda harus lebih respek kepadanya dibandingkan hormatmu kepada guru ngajimu... Harusnya begitu.

Jika ustadzmu, kyaimu, panutanmu yang disangka dalam ilmu islamnya tetapi saat diberikan musibah tidak mampu bersabar, suka marah marah, haus kehormatan, maunya dimuliakan dll maka sebenarnya gurumu belum lulus menjadi islam.

Mau hapalannya setinggi gunung, sering ceramah disana sini akan tetapi ketika jiwanya mudah goncang saat ditimpa ujian artinya ia belum islam. Jiwanya masih tertutup... Masih gelap... Masih ingkar kepada Allah yang sedang mengujinya.

Justru ketika kamu ditimpah musibah bertubi tubi bisa lebih bersabar artinya kamu lebih islam dibandingkan dengan ustadzmu atau kyaimu yang marah marah ketika jamaahnya pindah ngaji.

Lalu apa gunanya belajar fikih, tafsir, hadits dll?

Itu semua teori.. Tentu berguna karena itu adalah panduan... Tapi jangan hanya berhenti disitu. Harus naik kelas yaitu kelas praktek dalam bentuk ujian atau musibah.

Ketika anda dapat giliran untuk menerima ujian barulah panduan yang bisa digunakan. Ketika teori yang selama ini anda pelajari bisa diterapkan saat anda diberikan musibah, itu baru betul.

Oleh karena itu tidak usah kagum dengan orang yang banyak hapalannya. Hapal kitab ini kitab itu... Nggak usah terpesona. Karena masing masing akan mendapatkan ujiannya sendiri sendiri. 

Kalau ujianmu khan paling paling nggak punya uang atau rumah tangga sering cekcok. Kalau ujian para ustadz biasanya saat dikritik, diajak debat, adu ilmu, dituduh sesat, ditinggalkan jamaah dan semacamnya. Tinggal lebih sabar kamu atau mereka?

Dan yang menilai bukanlah manusia tetapi Allah. Yang memberikan cap islam bukan manusia tetapi Allah. Yang memberikan sertifikat kelulusan lalu dapat reward surga adalah Allah bukan manusia. Sebab gurunya adalah Allah sendiri. 

Cuma khan realitanya islam dan kafir yang nentuin manusia. Siapa penghuni surga dan siapa neraka juga manusia. "Kamu sesat, banyak dosa, kamu pasti masuk neraka", wah hebat sekali ucapan ini. Ucapan yang mendahului kehendak Tuhan.

Padahal dimata Allah semua manusia sama. Apakah orang kaya atau miskin, alim atau awam, ustadz atau murid, buruh atau bos semua sama. Apakah pinter atau bodoh, cerdas atau bebal, cantik atau jelek semua sama tidak ada bedanya dimata Allah.

Di mata Allah nggak ada bedanya antara kamu dengan Syeikh imam haromain misalnya. Nggak ada bedanya antara orang pinggiran dengan raja Salman. Semua sama...

Yang membedakan hanya satu yaitu "taqwa". 

Apa itu taqwa? Biasanya saat ceramah dikatakan taqwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Atau di kelompok lain orang yang taqwa ketika menjalankan Al Quran dan sunnah. Definisi ini betul tapi terlalu absurd. Terlalu doktrin dan tendensius banget. Seakan akan cenderung mengarah kepada golongan tertentu yang tinggi ilmunya atau yang pakai gamis dan berjenggot saja.

Definisis diatas cenderung membingungkan.

Saya kasih definisi yang mudah dan langsung makjleb.. Ketahuilah Taqwa adalah buah dari iman. Sedangkan iman adalah sebuah kondisi dimana engkau selalu melihat Allah yang berada dibalik ujian. Ketika diberikan musibah atau diuji yang engkau lihat bukan mahluknya tetapi Allah, itulah yang disebut dengan iman.

Contoh, ada seorang kyai pesantren yang ditinggalkan santri santrinya karena kyainya kena kasus. Misalnya mengh4mili santriwatinya. Awalnya sang kyai kecewa dan marah besar, sebab santri santrinya pindah ke pondok sebelah. Nama dan harga dirinya diinjak injak. Setelah buka buka kitabnya barulah sang kyai sadar, kalau ternyata dirinya sedang diuji. Pada akhirnya sang kyai ngalah dan memilih menutup pondoknya lalu menjadi petani biasa. Saat itulah sang kyai sudah menjadi orang yang bertaqwa.

Contoh lain, seseorang yang kena sihir dari tetangganya. Setiap melihat tetangganya yang sudah menghancurkan kehidupannya, bergemurulah dadanya penuh dendam dan kemarahan. Bertahun tahun si fulan memendam sakit hati yang besar. Setelah si fulan menemukan akun pendekar langit barulah ia sadar bahwa dirinya sedang diuji. Akhirnya si fulan korban sihir memilih meredam kemarahannya dan belajar untuk ikhlas dan sabar. Artinya si fulan sudah menjadi orang yang bertaqwa.

Dari contoh diatas kesimpulannya taqwa adalah buah dari iman kepada Allah. Makanya di Al Quran kata iman dan taqwa selalu bergandengan. 

Yaitu seseorang yang tetap pasrah berserah, ikhlas dan sabar ketika ditimpa musibah yang berat. Semua ia lakukan karena hatinya melihat Allah dibalik ujian tersebut. Ketika orang tersebut selalu menghadapkan wajah imannya kepada Allah akan melahirkan sifat dan kharakter yang terpuji.

Artinya taqwa sebenarnya adalah akhlak yang terpuji.... Paham sekarang?

Sahabat yang dirahmati Allah, saya harap sampai dititik ini anda belum tidur khan? Kupingnya nggak panas lagi khan?

Buat sahabat yang saat ini sedang diuji dengan ujian yang berat maka ketahuilah anda sedang belajar islam yang sesungguhnya. Gurunya langsung Allah. Tujuan dari ujian supaya anda pasrah dan berserah. Sedangkan pasrah dan berserah bahasa arabnya islam.

Makna lain dari islam adalah selamat, aman, damai dan sejahtera. Artinya ketika anda sudah islam maka hatimu pasti akan merasa selamat aman damai dan sejahtera.

Mengapa hatimu merasa aman, tenang dan damai? Sebab hatimu beriman kepada Allah dibalik ujian dan dibalik segala galanya. Trust in Allah. Percaya kepada Allah yang mengurus semuanya tanpa kecuali. Percaya kepada Allah yang akan membuat hidupmu bahagia dan happy ending.

Ketika hatimu sudah percaya kepada Allah maka otomatis akan melahirkan sifat dan akhlak yang terpuji misalnya penyabar, penyantun, tulus, simpati, empati, dermawan, penuh kasih, merangkul dan masih banyak lagi. Inilah yang disebut dengan buah iman alias taqwa.

Nah sekarang kamu sedang diuji khan? Ujiannya berat sekali khan? Rasanya menderita khan? 

Maka saya ucapkan selamat, sebab anda sedang mendapatkan giliran duduk dibangku sekolah kehidupan. Selamat karena anda sedang dididik Sang Guru untuk menjadi islam.

Semoga lulus ya?

Syukron

Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Doa Nabi Yunus untuk Mengobati Luka Batin/ Sakit Jiwa

Orang yang sakit jiwa disebut dengan OODGJ. Mereka terluka batinnya dan sulit sekali sembuh? Bagaimana cara mengobati luka batin? Simak Doa ...