Tulisan ini mungkin membuatmu pusing bahkan bisa gil4. Oleh karena itu kalau nggak kuat mending nggak usah dibaca. Simak Dari Mana Asal Kita, Mengapa Kita Hidup dan Untuk Apa?.
LUPAKAN TULISAN INI DAN TINGGAL NGOPE AE..
Sahabat...
Pernahkah engkau bertanya tanya dengan dirimu sendiri, sebenarnya hidup itu untuk apa? Mengapa aku hidup? Mengapa aku bisa ada?
Jika anda lahir 30 tahun, 40 atau 50 tahun yang lalu, maka sebelum itu kita nggak ada. Milyaran tahun yang lalu kita nggak ada. Atau sebenarnya bukan nggak ada tapi kita bukanlah sesuatu yang bisa disebut.
Lalu tiba tiba kita muncul dari ketiadaan, lahir dan besar lalu menua. Dari awal kita tidak tahu, siapa yang menghendaki kita ada? Kita juga tidak menghendaki ada, karena tahu tahu ada.
Dari awal kita tidak bisa memilih lahir disini atau disana. Semua dipilihkan dan didatangkan semua yang menjadi kebutuhan kita.
Dari sononya sudah seperti ini. Seperti keadaan kita sekarang ini.
Dari sononya itu dari mana? Entahlah, saya sendiri juga bingung. Yang jelas dari sononya kita ada, lalu menjalankan perannya masing masing.
Yang kita tahu kita menjalankan peran sesuai pilihan kita. Kita maunya seperti ini dan seperti itu. Seakan akan takdir hidup adalah tanggung jawab kita sendiri.
Padahal dari awal kita sudah tidak bisa memilih. Apalagi bagi korban sihir yang hidupnya hancur lebur. Kalau diperbolehkan memilih tentu kita tidak usah ada dari awalnya. Supaya tidak menanggung penderitaan yang tiada terlukiskan.
Masalahnya kita semua sudah dipilih dari sononya untuk hadir di dunia ini. Kita nggak punya pilihan bersedia atau menolak. Kita juga tidak ditanya apakah bersedia menanggung penderitaan atau tidak. Karena semua tiba tiba terjadi.
Sehingga saya menduga kita ini sebenarnya hanya wayang saja. Kita tidak bisa memilih peran, sebab sudah dipilihkan. Kita juga tidak diberikan kesempatan untuk membuat cerita, sebab ceritanya sudah dibikinkan dari sononya.
Semua kisah sudah ditulis. Sudah tamat malahan. Apakah kita akan mengalami fase kehancuran atau tidak semua sudah tertulis. Semua baik besar atau kecil bahkan satu kedipan mata sudah tertulis dari sononya. Entah sononya itu dimana saya juga tidak tahu.
Saya menduga kalau kita ini sebenarnya nggak ada. Karena dari awalnya kita sudah tidak ada. Lalu tiba tiba menjelma menjadi diriku dan dirimu.
Siapa namamu? Misalnya namanya pendekar langit. Apakah awalnya saya mengendaki untuk ada dan memerankan sebagai pendekar langit? Nyatanya tidak. Yang menghendaki saya menjadi pendekar langit bukan saya. Yang menjelma dari ketiadaan lalu menjadi pendekar langit juga bukan saya.
Lalu siapa yang tiba tiba muncul dari ketiadaan lalu menjelma menjadi milyaran manusia yang hidup dibumi? Siapa yang tiba tiba muncul dari ketiadaan lalu menjelma menjadi alam semesta? Itu dia, saya tidak tahu.
Yang saya tahu tiba tiba ada dari sebuah tempat yang tidak bisa disebut. Tiba tiba saya ada, meskipun pada hakikatnya nggak ada. Sebab faktanya tubuh ini, jiwa dan raga bukanlah aku. Bukan juga milikku. Bukan juga ciptaanku.
Bahkan satu atom dalam tubuhku juga bukan milikku. Karena aku tidak menciptakannya.
Termasuk pikiran ini bukan aku, bukan milikku. Sebab dari awal bukan aku yang menciptakan. Perasaan ini yang kadang sedih kadang gembira juga bukan aku. Karena lagi lagi bukan aku yang menciptakan. Semua tahu tahu ada.
Terus yang disebut aku yang mana? Jawabannya nggak ada. Yang menjadi milikku yang mana? Juga nggak ada.
Terus yang ada siapa? Yang ada adalah dia yang menciptakan atom dan yang jadi atom. Yang ada adalah dia yang menciptakan alam semesta dan yang jadi alam semesta. Yang ada adalah dia yang menciptakan manusia dan yang jadi manusia.
Siapakah dia? Itu dia saya tidak tahu. Yang saya tahu semuanya tiba tiba ada.
Apakah dia yang biasa manusia sebut sebagai Tuhan? Entahlah, khan dari awal saya tidak tahu. Atau yang saya tahu dia adalah sesuatu yang tidak bisa disebut dengan kata kata.
Sebab sebelum ada kata Tuhan, God atau Allah menurut islam DIA sudah ada duluan. Sebelum manusia bisa menyebut kata Tuhan, DIA sudah ada duluan. Bahkan sebelum langit dan bumi ada, DIA sudah ada duluan.
Artinya sebenarnya DIA tak bernama.. DIA adalah sesuatu yang tidak bisa disebut dengan kata. Sebab sebelum ada kata kata, dia sudah ada duluan.
Bayangkan sebelum langit dan bumi ada, apakah saat itu sudah ada yang menyebut diriNya? Tidak ada. Atau setelah langit dan bumi lenyap, apakah ada yang menyebut diriNya adalah Tuhan? Juga tidak ada. Khan semua sudah lenyap termasuk diriku dan dirimu.
Meskipun tidak ada yang menyebut diriNya, tetapi dia akan selalu ada. Meskipun semuanya lenyap, dia akan selalu ada. Ada dalam diriNya sendiri, dengan keberadaan yang tidak bisa disebut.
DIA hanya bisa disebut sebagai Tuhan ketika ada lisan yang menyebutnya. Ketika semua lisan lenyap DIA kembali menjadi sesuatu yang tidak bisa disebut dengan kata kata. Karena kata kata pada saat itu juga tidak ada. Dia ada tanpa kata kata.
Terus kita ada dan hidup sebenarnya untuk apa?
Sebenarnya bukan untuk apa, disuruh apa dan semacamnya. Karena dari awalnya kita tidak pernah ada. Yang sebenar benar ada adalah DIA yang tidak bisa disebut dengan kata kata.
Dia adalah sumber hidup itu sendiri. Dia adalah sumber keberadaan itu sendiri. Hidup dan ada dengan sendiriNya.
Oleh karena itu jika anda merasa dirimu orang beragama dan ingin kembali kepada Tuhan, maka kembalilah kepada ketiadaan. Yaitu tidak merasa diri hidup dan tidak merasa diri ada. Karena yang hidup dan yang ada hanyalah Tuhan.
Bingung dan pusing ya? Kalau begitu nggak usah dipikirkan. Lupakan saja tulisan ini. Lebih baik seduh kopimu dan sudahi sedihmu
Met rehat
Yang sebenarnya tidak pernah ada
Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar