Bolehkah kita menangis ketika beban hidup begitu berat? Tentu boleh. Menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia. Yuk simak Bolehkan Menangis Ketika Mengalami Ujian yang Berat?.
SANTAPAN ROHANI, MENANGISLAH KARENA KITA HANYA MANUSIA
...akhirnya memutuskan menikah untuk melindungi diri dari perzinahan. Qadarallahu, di tahun pertama mantan suami sering menghina fisik dan hub, memuji wanita lain, tdk mem batasi diri dr lawan jenis, melihat dan mencari cewek sei dan kontak BO, jalan sama mantan, dan vcall dan main aplikasi hijau dan mengaku bujang, dan akhirnya banyak masalah, dia tdk mau diajak ke konselor pernikahan, dan krn sy tdk tahan, sy buat status dan dia pergi meninggalkan berbulan2.
Jawab: Orang yang diberikan musibah lalu tetap tersenyum dan lapang hatinya biasanya pernah mengalami etape hidup yang teramat sangat sulit. Hidupnya pernah hancur lebur lalu dengan itu membawanya mengenal Allah. Setelah kenal Allah mentalitasnya berubah 180 derajad. Jadi sangat tangguh, gagah dan tegar didalam menghadapi ujian kehidupan.
Tapi orang yang seperti itu nggak banyak alias hanya segelintir saja. Bisa dikatakan 1 diantara sejuta. Dan itulah yang disebut dengan wali atau kekasih Allah. Jadi wali Allah itu bukanlah mereka yang sakti, bisa tembus alam gaib atau punya karomah. Wali Allah adalah mereka yang sangat sabar, tangguh dan tegar didalam menghadapi ujian kehidupan.
Ketika diuji kehilangan senyum, diuji kehancuran tertawa. Mengapa begitu tegar luar biasa? Sebab orang tersebut mampu melihat Allah dengan sangat nyata lebih nyata dari apapun. Ia mampu melihat Allah nya bukan ujiannya.
Tapi sekali lagi wali Allah seperti ini hanya segelintir saja. Yaitu mereka yang memang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi kekasih_Nya. Kalau saya dan anda sepertinya masih jauh deh.
Namun meskipun masih jauh paling tidak wajah hati kita sudah menghadap kepada Allah. Allah nya sudah terlihat meskipun dari kejauhan. Dalam artian ketika kita diberikan musibah tetap berontak, sedih, marah dan kecewa tapi tidak berlebihan.
Sebagaimana sahabat diatas ketika diuji rumah tangganya tetap hatinya sakit dan kecewa. Ketika dikhianati tetap hatinya patah. Ketika didzalimi tetap marah dan dendam. Dan itu sangat wajar. Saya dan anda pasti seperti itu. Sebab memang maqom kita masih belajar. Belajar apa? Belajar mengenal Allah dibalik segala ujian.
Sekali lagi berontak marah, sedih dan kecewa adalah hal yang wajar. Saya juga begitu kok. Yang penting dari sekian ratus tali/ uqod ada 1 tali yang terhubung ke Allah. Katakanlah 99 tali terhubung ke mahluk dan ada 1 tali yang terhubung ke Allah itu sudah bagus. 1 tali yang terhubung ke Allah itulah yang membuat kita mampu bertahan ditengah badai ujian.
Artinya: Tidak ada paksaan dalam Islam (pasrah hatinya). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah: 257)
Sahabat apakah sekarang sedang bersedih? Apakah sekarang sedang kecewa? Kalau iya menangislah gpp. Sebab kita semua hanyalah mahluk yang sangat lemah. Setelah puas menangis cobalah merenung dalam dalam. Renungkanlah apakah takdir yang membuatmu menangis terjadi secara kebetulan? Apakah takdir itu benar benar akan menghancurkanmu?
Kalau hancur mungkin iya. Yang hancur adalah duniamu. Misalnya rumah tangga kandas, bisnis bangkrut, harga diri hancur maka itu semua adalah dunia. Terus mengapa kalau dunia hancur? Ada yang salah? Khan nggak ada yang salah sebab dunia itu memang akan hancur pada masanya. Seharmonis harmonisnya rumah tanggamu suatu saat nanti pasti akan hancur. Yaitu pada saat salah satu meninggal dunia.
Kalau duniamu hancur so what gitu loh? Bukankah dunia yang hancur memang sudah sunnatullah? Mau beribu ribu kali yang namanya dunia pasti hancur pada masanya. Termasuk alam semesta ini suatu saat nanti pasti hancur, disebut juga dengan hari kiamat besar.
Dunia itu pasti akan hancur lalu ditinggalkan untuk berganti dengan yang lain. Rumah tangga, harta benda, jabatan, kehormatan, anak, kerabat dll akan ditinggalkan pada masanya. Termasuk dirimu sendiri juga akan hancur pada masanya. Masalah penyebabnya itu urusan lain, yang jelas dunia pasti hancur. Oleh karena itu biarkan saja dunianya hancur yang penting akheratnya jangan sampai ikut hancur.
Dimana akherat itu? Akherat itu ada dalam dadamu/ hatimu. Disitulah negeri, alam atau dimensi yang kekal alias tidak akan pernah hancur untuk selama lamanya. Artinya ketika duniamu hancur, mati dan ditinggalkan jangan sampai hatimu ikut hancur. Mengapa demikian? Sebab sehancur hancurnya hatimu tidak akan pernah mati untuk selama lamanya.
Ketika duniamu hancur lalu akheratmu/ hatimu ikut hancur itulah yang disebut dengan penderitaan. Hatimu marah, kecewa, sedih, cemas, takut dll sebagai dampak duniamu yang hancur. Padahal dunia itu memang sunnatullahnya pasti hancur pada saatnya. Jika duniamu hancur lalu akherat/ hatimu hancur mau sampai kapan? Sedangkan dunia itu silih berganti sedangkan hati tidak pernah berganti.
Bagaimana supaya hatinya tidak ikut hancur? Jawabannya sebagaimana tulisan sebelumnya yaitu pegangan sama tali Allah. Tali Allah terhubung kemana? Tali Allah bermula dari hatimu lalu terhubung/ nyambung kemana mana. Apapun yang anda dengar, lihat dan rasakan itulah talinya. Soo sambungkan hatimu dengan tali Allah kepada apapun yang anda alami.
Ketika anda melihat pasangan maka tali Allah nyambung ke situ. Ketika anda melihat anak, pelaku dzalim, kerabat, teman, harta benda, jabatan, rumah, mobil, aset dll maka ketahuilah tali Allah nyambung disitu. Oleh karena itu sambungkan.
Jangan sampai ketika anda melihat pasangan lalu hatimu nyambung ke mahluk yang bernama pasangan. Itu namanya hatimu nyambung ke toghut. Ketika hatimu nyambungnya ke mahluk/ toghut itulah sumber penderitaan. Anda akan menderita ketika toghut/ mahluk tidak sesuai dengan ekspektasi dan keinginanmu.
Akan tetapi ketika hatimu nyambung dengan tali Allah meskipun mahluk didepanmu tidak sesuai ekspektasi maka tidak akan mampu membuatmu menderita. Mengapa demikian? Sebab anda meyakini bahwa Allah lebih tahu dari pada dirimu. Allah pasti akan mengajarkan hikmah dibalik mahluk dan atau kejadian yang tidak sesuai harapan. Ketika hikmah itu dibuka barulah anda ngeh, "Ooo ternyata begitu toh maksud Allah".
Soo bagi sahabat yang saat ini sedang kecewa, bersedih dan menangis karena musibahnya begitu berat dirasakan maka berjuanglah untuk berpegang pada tali Allah. Yang berpegang apanya? Hatimu. Hatimu berusaha untuk berpegangan dengan tali Allah. Apapun itu baik mahluk, sesuatu atau kejadian didepanmu itulah sambungannya. Itulah tali Allah yang menghubungkan hatimu dengannya.
Artinya Allah itu dimana? Ya didepanmu itu. Ketika anda berdoa, "Ya Allah hancurkan orang dzalim yang sudah membuat hatiku hancur", maka sebenarnya Allahnya nggak kemana mana. Allah tidak akan pernah turun dari langit dalam bentuk cahaya lalu menghancurleburkan orang yang menurut anda dzalim. Allah itulah yang berada dibalik orang dzalim yang menghancurkanmu. Oleh karena itu sambungkan talinya.
"Berat ustadz". Ya memang berat. Menyambungkan tali Allah dari hatimu ke dalam segala sesuatu itu berat. Apalagi sesuatu itu tidak sesuai dengan keinginan dan harapanmu. Akan tetapi seberat apapun cobalah terus disambung. Jika gagal coba lagi dan coba lagi.
Point dari tulisan ini adalah, jika memang anda harus menangis saat mendapatkan musibah maka menangislah sampai puas. Saya kalau mengalami musibah yang sama pasti akan menangis juga. Justru menangis itu bagus sebagai legitimasi bahwa kita semua hanyalah mahluk yang lemah. Akan tetapi jangan lama lama nangisnya. Kalau anda selalu teringat musibahnya maka akan membuatmu menangis bertahun tahun tanpa ada jalan keluar. Akan tetapi setelah menangis segera sadari bahwa musibah itu adalah bentuk ujian Allah.
Artinya jangan terus menerus ingat musibahnya melainkan ingat Allah dibalik musibah itu. Dengan itulah pelan pelan kesedihan dan kekecewaanmu akan terkikis. Terus saja kikis pelan pelan dengan cara hatimu nyambung ke Allah. Berpeganganlah kepada tali Allah. Dimana tali Allahnya? Didepanmu itulah tali Allah maka sambungkan.
Ketika saya dan anda nyambung hatinya dengan Allah sehingga pelan pelan kesedihan dan kekecwaan akan terkikis seiring dengan munculnya jalan keluar. Artinya jalan keluar itu akan muncul sendiri seiring dengan takdir dunia yang membawa waktu. Dalam bahasa lain solusi dan jalan keluar akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
Ketika solusi dan jalan keluar muncul dengan sendiri_Nya sebenarnya yang muncul siapa? Jangan sampai anda mengatakan yang muncul adalah solusi sebab kalau demikian hatimu belum nyambung. Seakan akan memang yang muncul adalah takdir solusi tapi hakikatnya Yang muncul dengan sendiri_Nya adalah Allah.
Demikian Bolehkan Menangis Ketika Mengalami Ujian yang Berat?
Syukron
Santapan Rohani Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar