Cara Memperingati Maulid Nabi yang Benar dan Sesuai Sunnah

 Saat artikel ini ditulis adalah momen dimana ada hari memperingati maulid nabi. Nah bagaimana seharusnya cara memperingati maulid? Apakah memperingati maulid itu bid'ah? Simak tulisan Cara Memperingati Maulid Nabi yang Benar dan Sesuai Sunnah


CARA MEMPERINGATI MAULID NABI

....Ketika ngotot berikhtiar kadang hati tidak menerima ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, karena merasa sudah maksimal ikhtiar. Gmn ini ustadz, agar ketika bisa pasrah tp tetap berikhtiar. Ketika saat semangat berikhtiar bisa nerima hasilnya walau tdk sesuai harapan.?

Jawab: Hari ini tanggal 5 september 2025 adalah hari libur memperingati maulid nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam. Umat islam memperingatinya dengan berbagai cara tergantung dengan adat, kebiasaan dan tradisi.

Ada yang memperingatinya dengan memperbanyak sholawat, puasa, sedekah dll. Ada juga masyarakat yang mengadakan malam tasyakur dengan membaca sirah nabawiyah atau kitab Al Barzanji. Ada juga yang mengadakan tabligh akbar seperti organisasi Majelis Rosulullah.

Banyak juga yang tidak memperingatinya karena memang tidak ada kegiatan di lingkungan. Sebagian tidak mau memperingatinnya karena meyakini memperingati maulid adalah bid'ah. Mereka meyakini cara terbaik memperingati maulid dengan cara meneladani ajaran beliau dengan attiba' atau menjalankan sunnah.

Kalau saya sendiri berpendapat semua tidak salah, "terserah kalian saja". Kalau pendapat pendapat diatas dibenturkan yang ada hanyalah debat yang tiada ujung pangkalnya. Semua merasa paling benar dengan pendapat dan golongannya. Bukannya mempersatukan umat malah membuat semakin tercerai berai. Apa kalian nggak capek debat terus?

Kalau saya pribadi cara terbaik memperingati maulid nabi adalah meniru akhlak beliau yang terpuji. Akhlak terpuji loh ya? Bukankah arti kata muhammad adalah orang yang terpuji? Bahasa lainnya cara terbaik meneladani nabi adalah meniru "mentalitas" beliau shollallaahu alaihi wasallam.

Apa mentalitas nabi? Mentalitas nabi adalah mentalitas "islam" dalam bingkai iman kepada Allah supaya dengannya muncul sifat sifat muhammad/ terpuji.

Kalau ingin menjadi umat nabi jika dikorelasikan dengan pertanyaan sahabat diatas maka caranya adalah, "pasrah totalitas" terhadap takdir Allah. Bahasa arabnya pasrah total adalah islam kaffah. Jadi menjadi islam yang kaffah bukan dengan cara masuk aliran, golongan dan pemahamanmu tetapi caranya "pasrah bongkoan" menerima segala kenyataan hidup yang seringkali tidak sesuai keinginan dan ekspektasi diri/ nafsu.

Kalau ingin membuat nabi bangga bukan dengan berdebat ke sana kemari dan nggak mau kalah apalagi ngalah. Justru kalau mau menjadi umat nabi caranya dengan kalah dan mengalah terhadap takdir. Kalahkan keinginan "diri"mu lalu menangkan keinginan Allah yang datang bersama realitas/ kenyataan.

Dalam bahasa lain kalau ingin menjadi umat nabi maka tunjukkan bekas sujudmu. Bukan menunjukkan kening yang menghitam tetapi tunjukkan bahwa hatimu sujud kepada segala ketentuan Allah. Tunjukkan bahwa saat diberikan ujian, wajah imanmu hanya menghadap Allah. Paham nggak maksud saya?

"....kadang hati tidak menerima ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, karena merasa sudah maksimal ikhtiar. Gmn ini ustadz,...."

Sekelumit curahan hati yang jujur dari sahabat diatas menunjukkan kepada kita bahwa untuk menjadi "muslim yang kaffah" itu tidak semudah lisanmu saat berdebat. Pasrah terhadap realitas itu nyatanya nggak mudah. Artinya menjadi muslim yang sejati itu bukan perjuangan yang ecek ecek. Menjadi muslim sejati bukan tentang hapalan ayat suci, sudah bisa sholat, bisa ngaji dll tetapi melalui pengalaman menjalani dinamika kehidupan yang penuh dengan lika liku.

Kalau mau meneladani Nabi shollallaahu alaihi wasallam ya beginilah caranya. Yaitu meniru mentalitas beliau. Yakni mentalitas muhammad atau mentalitas orang orang yang mengaku beriman/ percaya kepada Allah. Percaya bahwa dibalik segala hal yang tidak kita inginkan ada hikmah yang besar.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi tetap belajar pasrah, sabar, berprasangka baik, terus ikhtiar, terus kerja keras, gigih berusaha dan lain sebagainya. Mengapa tetap sabar ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan? Karena kita sedang belajar untuk tidak menghadap hawa nafsu tetapi menghadapkan wajah hati kita kepada Allah. "....Wajjahtu wajhiya liiladzi fathoros samaawati wal ardho haniifam muslimaa. Wamaa ana minal musyrikiin".

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan realitas tetap berjuang untuk berprasangka baik terhadap Allah sehingga melahirkan kharakter yang terpuji misalnya tetap mempertahankan kejujuran, ketulusan, kasih sayang, empati dan peduli. Inilah indikasi kelembutan hati. 

Seharusnya khan begitu kalau mau meneladani nabi shollallaahu alaihi wasallam. Bukan malah hatimu bertambah kaku dan keras. 

Ketika saya dan anda sudah melewati ujian islam dalam bingkai iman maka kita akan mendapatkan janji janji Allah. Bingkainya adalah merasakan ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan (surga). Ketika engkau sudah sering mengalami janji janji Allah maka percayalah ritual ibadahmu menjadi sangat syahdu.

Baru mau sholat sudah bergetar hatinya, ngaji baru satu ayat sudah berkaca kaca. Bahkan hanya mengucap "subhanallah" saja sudah nangis karena sangat paham makna tasbih. Pahamnya bukan karena hapal tetapi karena mengalami. Paham bahwa mensucikanNya itu dengan cara tidak menduakan Allah dengan mahluk.

Semua rangkaian ibadah diatas sebenarnya adalah dzikir. Sedangkan dengan dzikir atau mengingat Allah maka hati kita akan tenang, damai dan bahagia. Saat hatimu tenang akan terpancar dalam wajah yang teduh dan menyejukkan.

Saat itu anda tidak akan marah melihat ahli maksiat, anda pasti enggan berdebat dengan orang lain, anda akan empati kepada dukun atau pelaku kejahatan. Tidak ada kata kutukan dari lisanmu selain doa semoga kita semua mendapatkan rahmat dan ampunan Allah.

Seharusnya seperti ini umat Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam. Bagaimana menurut anda?

Wallaahu A'lam

Pendekar Langit



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Berjumpa dengan Allah Saat Masih di Dunia

Bisakah berjumpa dengan Allah saat masih di dunia? Bisa lah. Yang mengatakan belum bisa karena belum pernah berjumpa. Simak Cara Berjumpa de...