Kisah Debat NU vs Salafi Ngeri Ngeri Sedap Nih?

Pernahkah anda nonton debat NU dengan salafi? Seru nggak? debat kusir khan? Yuk simak Kisah Debat NU vs Salafi Ngeri Ngeri Sedap Nih?


KESERUAN DEBAT NU VS SALAFI 

Pagi ini saya sekilas nyimak perdebatan antara Mas Anxxx yang mewakili salafi dan ibu surxxx yang mewakili NU. Biasanya saya clear chat ketika sudah numpuk, tumben tadi saya ikut membaca. Maaf nama saya sebutkan biar jelas sekalian. Supaya gamblang...

Bagi sahabat lain yang membaca perdebatan seru di grup pasti akan memihak salah satu golongan. Meskipun sebagiannya netral saja. Orang orang salafi yang terdiri dari ustadz, peruqyah dari organisasi ruqyah syariyyah, pasien yang pernah ditangani peruqyah salaf dll akan memihak mas Angxxx. Sementara orang NU, wong ndeso, pecinta ulama, kyai, dan pasien yang pernah ditangani peruqyah aswaja akan memihak ibu Surxxx. 

Perdebatan ini hanya satu potret dari gambaran global keanekaragaman organisasi islam di Indonesia. Artinya diluaran sana sama saja, akan ada permusuhan atau paling tidak api dalam sekam antara sahabat manhaj salaf dengan sahabat NU. Meskipun keduanya akan selalu bermusuhan tetapi keduanya ingin umat islam bersatu supaya tidak bercerai berai yang melemahkan kekuatan umat. Tetapi keinginan itu hanya mimpi disiang bolong ketika dada mereka tidak mau dilapangkan untuk menerima perbedaan.

Perdebatan ini akan menjadi isu yang bagi saya sendiri mohon maaf, memuakkan sampai kiamat. Sebab keduanya pasti merasa berada di pihak yang benar. Ujung ujungnya debat kusir lalu tersulut emosi. Membawa nama Tuhan untuk meluapkan dada yang bergemuruh. 

Kalau mas Angxxx dan Ibu Surxxx bagus sebab emosinya diluapkan sekalian. Tetapi banyak yang membaca perdebatan atau ikut perdebatan digrup ikut ikutan emosi dengan cara masing masing. Yang nggak kentara adalah mereka yang meluapkan emosi dengan bahasa spiritual seakan akan mereka sabar. Padahal aslinya sama saja... Meskipun tulisan dari ustadznya, "Ya sudah gpp semoga Allah memberi hidayah kepadamu", tetapi muatannya sama saja yaitu hatinya dongkol karena merasa sudah memberikan nasehat sesuai dalil namun disangkal. Kemudian dirinya menganggap orang yang dinasehati keras kepala, hanya ngikuti hawa nafsu, tidak mau menerima kebenaran (kebenaran versi mereka).

Saya pribadi sudah lebih dari 6 tahun berdebat tentang masalah ini.  Bahkan lebih. 3 tahun berada di pihak salafi dan 3 tahun berada di pihak NU. Dan ujung ujungnya hanya debat kusir yang nggak ada manfaatnya. Meskipun tidak ada manfaatnya tetap saja perdebatan ini akan terus berlangsung sampai kiamat. Apa nggak capek ya? 🙂 

Keduanya sama sama meyakini mengikuti Nabi Shollallaahu alaihi wasallam bedanya ada di pondasinya. Kalau NU mempraktekkan Al Quran dan sunnah berdasarkan sanad yang sampai kepada rosulullah, sementara salafi tidak mengikuti siapapun akan tetapi langsung mengambil hadits hadits yang shoheh yang mereka yakini langsung berasal dari Nabi Shollallaahu alaihi wasallam.

Makanya NU sangat takdzim kepada kyai karena meyakini mereka adalah mata rantai yang sanadnya sampai ke rosulullah. Mereka sangat hormat kepada kyainya, guru tarekatnya, gus Baha, Habib Luthfi, Habib Umar, Mbah Mun dll. Termasuk menghormati ustadz public figure seperti Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Shomad dll.

Tetapi bagi sahabat salafi bentuk takdzim ini terlalu berlebihan/ ghulluw sehingga sebagian menuduhnya sebagai syirik. Dan sahabat salafi akan selalu berkutat disitu yaitu membersihkan akidah dari syirik, menegakkan tauhid, mengingkari bid'ah dan semacamnya. Bingkainya adalah slogan kembali kepada Al Quran dan sunnah.

Karena kekakuan inilah banyak sahabat NU yang menuduh salafi adalah wahabi, teroris, bibir khawarij dan tuduhan lainnya. Sehingga ketika ada pengajian yang terindikasi ustadznya keras akan didemo oleh warga NU misalnya banser.

Meskipun sahabat salafi mengakui tidak ikut madzab dan ulama manapun tetap saja kiblat global mereka adalah Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyyah dll. Sementara panutan lokal seperti Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Syafiq Riza dll. Mereka sangat fanatik sehingga sebagian (sebagian loh ya?) menanggap ustadz diluar golongan mereka adalah sesat, ahli bid'ah dan haram diikuti.

Saya menduga Ustadz yang punya grup yaitu Ustadz Abah Roqy adalah salafi tetapi saya salut kepada beliau dikarenakan enggan untuk berdebat masalah ini. Meskipun dalam beberapa tulisannya condong kepada ajakan untuk mengikuti ajaran manhaj salaf yang baik baik saja. Saya juga salut kepada staffnya yaitu Kho Abuy salafi tulen yang enggan membahas masalah khilafiyah karena ujung ujungnya pasti memicu perdebatan. Kalau sudah debat pasti memicu permusuhan atau api dalam sekam yang kapan saja siap membakar.

Btw barang siapa yang ingin ruqyah langsung dengan Abah Roqy dan Kho Abuy dari Tasik saya sangat rekomen. Dahulu saat kena sihir kami ditangani beliau dan Alhamdulillah sembuh lumayan lama. Disarankan ruqyah langsung dengan cara datang ke Tasik. Kami juga banyak belajar cara ruqyah dari beliau... Jangan lupa kasih kopi sebakul ke abah kalau ke tasik ya? 

Back to laptop...

Dan dalam grup ruqyah syariyyah terdapat banyak ustadz salafi yang memiliki padangan yang berbeda beda tentang masalah ini. Termasuk ada juga ustadz peruqyah dari aswaja NU yang biasanya memilih diam karena satu dan lain hal. Ada ustadz salaf yang keras dengan alasan menegakkan tauhid versi mereka. Sehingga mereka keras terhadap anggota grup atau orang lain yang memiliki akidah berseberangan, dan tidak jarang menuduh mereka sebagai ahli kemusyrikan atau dukun.

Ketika tema ini muncul di grup terkadang memicu ustadz peruqyah aswaja atau orang NU untuk berkomentar berusaha meluruskan. Lalu yang pada awalnya berniat klarifikasi berubah menjadi perdebatan sengit. Dan dimana mana sama selalu saja begitu. Selalu saja tidak ada yang benar benar mengalah demi persatuan umat. Yang ada keduanya merasa paling benar dengan memberikan seribu dalil. Dalam bahasa tegasnya merasa menjadi ahli surga dan yang lain sesat dan akan masuk neraka.

Sebenarnya perdebatan ini ujungnya bukan tentang keilmuwan. Anggap saja sahabat NU dan salaf sama sama ilmunya setinggi langit, hapal hadits hapal quran. Anggap saja begitu. Tetapi ketika sudah kadung terjadi perdebatan sebenarnya bukan lagi tentang ilmu tetapi tentang kelapangan dan kerendahan hati yang sangat sulit diaplikasikan. Nyatanya kajian tentang rendah hati tidak bisa diaplikasikan ketika dadanya sudah bergemuruh menahan kemarahan.

Paling sebagai penutup saya hanya ingin menasehati diri sendiri saja syukur syukur bisa mengena ke hati hati yang ingin kembali kepada Allah. Ingatlah bahwa Iblis itu (dahulu Azazil) mahluk yang dahulunya nyaris sempurna. Jangan ditanya ilmunya, hapalannya, kecerdasannya, kekayaannya, kehormatannya dan masih banyak lagi. Dengan ketinggian derajadnya itulah Iblis mendapatkan banyak sekali gelar kehormatan.

Dan ternyata satu ujian yang sangat berat bagi Iblis adalah kelapangan dan kerendahan hati. Iblis merasa dirinya paling benar dan nggak mau disalahkan. Mengapa nggak mau disalahkan? Karena memang Iblis benar. Faktanya memang iblis itu kaya raya misalnya. Yang menjadi masalah adalah "ana khoirum minhu" alias saya merasa lebih baik, lebih benar, lebih kaya, lebih mulia dari mereka mereka (adam). Merasa lebih inilah yang disebut dengan kesombongan. Sebab Iblis tidak paham bahwa segala kelebihannya itu bukan karena ikhtiar dan usahanya tetapi karena pemberian Allah. Karena kesombongan (buta mata hatinya) itulah sebabnya iblis dikutuk sampai hari kiamat karena kesombongan ini.

Padahal yang harus dicamkan adalah sebelumnya Iblis atau azazil merupakan bendahara surga loh. Iblis adalah lurahnya di surga. Lalu tiba tiba disuruh keluar dari surga untuk mendekam dalam neraka selama lamanya. Kalau dalam bahasa lain bisa saja saya dan anda nyaris masuk surga karena amal ibadahnya selangit, ilmunya tinggi, mencontoh rosulullah dengan detail, sangat dermawan dan lain sebagainya. Akan tetapi tiba tiba malaikat menarik anda dari surga dan dilemparkan ke dalam neraka. Alasannya apa kok dilempar ke neraka padahal amal ibadahnya selangit? Karena sama seperti Iblis yaitu sombong. Kesombongan sebab merasa semua itu karena ikhtiar dan usahanya sendiri. Dalam bahasa lain karena tinggi hati.

Terkait kebenaran... Bahwa kebenaran itu dari sisi Allah bukan dari sisi manusia yang memiliki akal pikiran. Apa yang nampak benar dan masuk akal menurutmu belum tentu benar menurut Allah. Sebagai contoh, realitanya anda memang kaya dan itu adalah fakta kebenaran dalam pandangan manusia. Tetapi merasa dirinya yang kaya adalah kesalahan fatal (bahkan syirik) dimata Allah. Sebab yang kaya itu hanya Allah, sedangkan kekayaan manusia hanya titipan.

Contoh lain alim dan itu adalah kebenaran dalam padangan manusia. Misalnya anda belajar agama sampai S3 maka kenyataannya anda memang alim dalam ilmu agama. Saking alimnya anda hapal satu huruf tersembunti dalam sebuah kitab yang tebal. Akan tetapi merasa alim lalu merendahkan orang lain yang awam adalah dosa yang sangat fatal. Sebab merasa dirinya yang alim sama saja merampas satu sifat Allah yaitu Al Ilm atau Yang Maha Alim.

Sekali lagi PR saya dan anda semua adalah belajar lapang hati dan rendah hati. Misalnya dengan cara ketika terjadi perdebatan yang mulai memanas, segera ademkan hatimu untuk kemudian mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Ketika mulai panas berusahalah untuk mengalah lalu merangkul kembali. Bisa?

Semoga tidak menyinggung ya?

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara Berjumpa dengan Allah Saat Masih di Dunia

Bisakah berjumpa dengan Allah saat masih di dunia? Bisa lah. Yang mengatakan belum bisa karena belum pernah berjumpa. Simak Cara Berjumpa de...