Bagaimana cara memiliki kesadaran spiritual? Bagaimana bangkit spiritual kita? Simak artikel Cara Bangkit & Memiliki Kesadaran Spiritual yang TInggi.
BAGAIMANA CARA MEMILIKI KESADARAN SPIRITUAL?
Ustadz ada part 9 nya tidak? Ustadz.... Bagaimana cara memiliki kesadaran spiritual?
Jawab: Seperti biasa kalau sudah malam saatnya santapan rohani... Yuk dibaca dengan menggunakan hati. Untuk sementara pinggirkan dulu akalmu.
Tema kita kali ini tentang kesadaran spiritual. Jangan alergi dulu ya? Dibaca dulu sampai selesai baru komentar.
Sahabt kita bertanya, "Bagaimana cara memiliki kesadaran spiritual?". Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan, bagaimana cara jadi montir, cara jadi dokter, cara jadi atlit, cara jadi pengusaha dan ribuan pertanyaan lainnya.
Mirip juga dengan pertanyaan bagaimana cara jadi ustadz, cara jadi dai, cara jadi ulama dan semacamnya. Jawabannya adalah mau berproses untuk belajar.
Kalau mau jadi dokter maka harus belajar di universitas kedokteran sampai lulus baru disebut dokter. Kalau mau disebut ustadz harus belajar di universitas islam atau mondok dipesantren, setelah lulus baru bisa disebut ustadz.
Mirip tapi tidak sama... Kalau ilmu ilmu diatas adalah ilmu akal. Lulusannya menjadi akademisi. Sedangkan kesadaran spiritual adalah ilmu hati. Lulusannya menjadi orang yang beriman. Buah iman disebut dengan taqwa. Artinya ilmu kesadaran spiritual endingnya adalah kharakter atau mentalitas terpuji sebagai cerminan orang yang beriman kepada Tuhan.
Kalau ilmu ilmu akal didapatkan dari belajar membaca, pun dengan ilmu kesadaran spiritual. Tetapi banyak membaca sampai hapal belum bisa dikatakan sudah menjadi praktisi. Dikatakan menjadi ahli/ praktisi ketika teori yang dihapalkan sudah sering dipraktekkan.
Kita membahas agama yuk...
Dalam agama sering disebut dengan orang yang beriman dan bertaqwa. Camkan bahwa ketika anda hapal kitab suci, hapal hadits, hapal sunnah dll belum bisa dikatakan sebagai orang yang beriman. Karena hapalan itu ada diotak alias ilmu akal bukan ilmu hati.
Mungkin saat anda lulus universitas islam atau lulus mondok banyak yang nyebut ustadz atau kyai. Tetapi sekali lagi belum tentu orang yang beriman. Karena apa yang anda pelajari selama ini masih seputar ilmu akal dalam bentuk hapalan.
Sedangkan kesadaran spiritual adalah kesadaran tentang ketuhanan. Artinya ini ilmu hati bukan ilmu akal tapi ilmu hati. Lebih tepatnya ilmu ruh. Untuk memiliki ilmu ini tidak harus belajar sampai ke perguruan tinggi, bahkan petani, orang gunung, pelosok dll bisa saja memiliki kesadaran spiritual yang tinggi meskipun mereka tidak sekolah.
Namun.....
Saat ini banyak muncul tulisan, video di facebook, ditiktok dan media sosial lainnya yang membahas tentang kesadaran spiritual. Itu seperti belajar ilmu fikih yang artinya orang yang belajar teori kesadaran spiritual belum tentu sudah sadar secara spiritual.
Misalnya saat scroll tiktok anda nemu vt tentang ilmu makrifat, dzikir qalbu, lathifah 7, dzikir nafas, ilmu tauhid dan semacamnya, sekali lagi itu baru sekedar ilmu teori. Sama seperti anda yang sedang belajar fikih sholat, ilmu tafsir, ibadah sesuai sunnah, hukum ini dan itu, itu semua masih sekedar teori.
Meskipun ilmunya dipraktekkan belum tentu menjadikanmu sadar secara spiritual. Ketika sering dipraktekkan akan menjadi terlatih atau istilah lainnya praktisi. Sedangkan ilmu ruh sama sekali bukan praktisi.
Sehingga ketika anda tahu dan hapal belum benar benar dikatakan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Malah biasanya ketika anda ngerti dan hapal sesuatu menjadikanmu angkuh dan merasa benar sendiri. Itulah ilmu akal. Semakin pintar semakin sombong dan cenderung merendahkan orang awam. Atau menyesatkan dan menyirikkan orang ahli ilmu hakikat.
Termasuk orang yang belajar ilmu kesadaran spiritual seperti ilmu hakikat, makrifat, dzikir qalbu dll semakin tahu dan hapal semakin merasa lebih benar dari orang lain. Merasa lebih tinggi ilmunya dari pada ahli ilmu syariat. Apalagi mereka yang praktek dzikir qalbu lalu masuk alam gaib/ mukasyafah malah biasanya lebih sombong daripada ahli ilmu syariat.
Sebab mereka merasa punya kelebihan yang orang lain tidak punya. Misalnya punya karomah, bisa menebak isi hati orang lain, bisa ngobatin dan lain sebagainya.
Apa sebenarnya kesadaran spiritual yang saya maksud? Sekali lagi yang saya maksud adalah kesadaran akan adanya Tuhan. Sadar bahwa Yang Ada itu hanya Tuhan, yang lain hakikatnya nggak ada.
Bagaimana cara mendapatkan kesadaran ini?
Mungkin saja ahli syariat yang disebut dengan ustadz, ahli hakikat yang disebut dengan mursyid bisa mendapatkan kesadaran spiritual. Termasuk dokter, petani, montir, atlit, profesor, buruh, kuli dll peluangnya sama. Artinya tidak ada korelasi antara ustadz yang pasti orang beriman dengan montir yang ngurusi motor.
Mengapa saya katakan demikian? karena kita cenderung meyakini ustadz atau mursyir pasti orang yang beriman dan bertaqwa. Sementara kuli, dokter, guru, preman dll imannya dipertanyakan. Dan kita cenderung meyakini mereka para ustadz lebih dulu masuk surga daripada kita kita. Itulah mengapa para ustadz dan kyai biasanya lebih dihormati dan ditakdzimi.
Tidak salah dan bagus malahan menghormati orang lain yang memiliki kelebihan dalam hal ilmu agama misalnya. Tapi saya hendak meluruskan cara pandangmu bahwa orang yang beriman dan bertaqwa tidak terikat pada pakaian, gelar dan keilmuwan. Camkan ini.
Orang beriman itu bisa siapa saja bahkan p3l4cur atau preman atau krim1nal sekalipun. Sebab kesadaran spiritual yang berbuah keimanan itu urusan hati. Sedangkan hati tidak ada yang tahu kecuali Allah. Urusan hati bukan urusan manusia tetapi urusan Allah.
Artinya orang yang sudah sadar secara spiritual qalbunya sadar tentang kalimat "laailaha illallah" lalu hatinya menghadap kepada kalimat itu. Ketika qalbunya sadar seiring dengan ketenangan dalam dirinya. Mau diberikan musibah seberat apapun hatinya tetap tenang. Mengapa demikian? Sebab ia sadar sesadar sadarnya bahwa yang menguji adalah Allah.
Yang sadar itu siapa? Yang sadar ruh. Sementara resonansi ruh yang sadar Tuhan akan menyentuh hatimu meresap dalam jiwamu sehingga adem, tenang, damai dan bahagia.
Sehingga kesimpulannya kesadaran spiritual itu bukan ilmu dan didikan manusia. Orang yang beriman dan bertaqwa itu bukanlah hasil dari belajar sampai S3. Orang yang beriman itu bukanlah mereka yang bertitel ustadz dan kyai. Bukan juga mereka yang hapal kitab suci, hapal hadits, hapal sunnah dan semacamnya.
Termasuk bukan juga mereka yang belajar ilmu tarekat. Bukan juga mereka yang belajar kepada mursyid tentang ilmu hakikat makrifat dan tauhid rabbani.
Akan tetapi sadar spiritual itu hasil dari didikan Tuhan sendiri. Orang yang beriman dan bertaqwa dihasilkan dari pembelajaran kepada guru atau mursyid sejati yaitu Allah. Allah mengajari semua mahlukNya/ hambaNya tentang kesadaran akan diriNya.
Bagaimana Allah mengajari saya dan anda tentang kesadaran ini? Allah mengajari kita semua melalui dinamika kehidupan berbingkai satu kata yaitu ujian. Dengan ujian itulah Allah hendak mengajari kita semua tentang diriNya. Artinya Allah ingin dikenali melalui ujian yang engkau hadapi.
Ketika pada akhirnya engkau mengenali Tuhan dibalik ujian lalu menghadapkan wajah hatimu kepadaNya maka itulah yang disebut iman. Imanmu akan tumbuh lalu seiring waktu akan berbuah menjadi akhlak yang terpuji. Yaitu menjadi pribadi yang lebih sabar, tangguh, ikhlas, empati, dermawan, penuh kasih, tulus dll. Buah akhlak inilah yang disebut dengan TAQWA.
Makanya ada hadits yang maknanya, "ketika Allah mencintaimu maka Allah akan memberikan ujian kepadaMu (lihat hadits)". Artinya ketika kamu diberikan ujian yang berat hakikatnya Allah rindu kepadamu dan ingin agar supaya saya dan anda mengenaliNya.
Sehingga pelajaran tentang kesadaran spiritual biasanya dihasilkan dari tempaan takdir yang maha dahsyat. Orang orang yang dikehendaki Allah untuk mengenalNya biasanya dikasih ujian yang sangat berat dimana saya dan anda kemungkinan tidak akan mampu memikulnya. Orang orang yang dikehendaki Allah untuk mengenalNya biasanya hidupnya dibanting banting, dijedod jedodin, jungkir balik sampai sampai tidak bisa berkutik.
Hingga pada satu titik nadzir sadarlah orang tersebut bahwa dirinya memang nggak bisa apa apa. Sadarlah si fulan bahwa Yang bisa apa apa hanyalah Tuhan saja. Setelah sadar akan hal ini si fulan akhirnya menyerahkan dirinya kepada Tuhan dengan kepasrahan yang sebenar benarnya. Dan justru pada saat berserah inilah hatinya merasa damai dan tenang. Justru pada saat totalitas menghadapkan wajah hatinya kepada Allah, semua masalah kehidupan bisa tersolusikan.
Maka ketahuilah si fulan ini telah lulus belajar ilmu kesadaran spirutual atau sadar akan adanya Tuhan. Gurunya siapa? Bukan pendekar langit, bukan ustadz, bukan kyai, bukan ulama, bukan gus, bukan habib dll tetapi gurunya adalah Allah sendiri.
Adapun ustadz kyai dan ulama yang sudah sampai kepada Allah bersifat sebagai penunjuk jalan saja. Smeentara yang menempuh jalan itu adalah dirimu sendiri.
Maka saya ucapkan selamat kepada sahabat yang saat ini diuji dengan ujian sihir yang sangat berat. Sebab anda anda semua sedang berkompetisi untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Namanya kompetisi ada yang lulus ada yang nggak lulus. Dan kenyataannya yang benar benar lulus hanya sedikit.
Tapi meskipun saya dan anda tidak lulus ada nilai plus. Yaitu pernah masuk kelas yang bergengsi yakni kelas kesadaran spiritual.
Kesimpulannya orang yang memiliki kesadaran spiritual bukanlah mereka para ahli syariat maupun ahli ilmu hakikat. Orang yang memiliki kesadaran spirtiual bisa siapa saja yang memang dikehendaki oleh Allah.
Dan tahukah anda orang yang sudah sadar secara spiritual tidak merasa dirinya sudah sadar. Tidak merasa dirinya sudah kenal Tuhan, sudah bermakrifat, sudah bertauhid dll. Orang yang sadar secara spiritual hanya bisa diam, mulutnya tak mampu berkata apa apa lagi. Mengapa demikian? Sebab orang yang sadar spiritual sudah tidak mampu melihat apapun dan siapapun. Yang ia lihat hanyalah Allah yang meliputi segala sesuatu termasuk dirinya sendiri.
Demikian semoga tidak membuatmu puyeng. Share ya?
Wallaahu A'lam
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar