Benarkah Pendekar Langit Sesat & Menipu Umat?

Ada yang mengatakan katanya pendekar langit menipu umat. Yakni ketika saya menulis tulisan tentang "memaafkan Allah". Benarkah Pendekar Langit Sesat & Menipu Umat?, simak jawabannya ya?

 

WASPADALAH PENDEKAR LANGIT SESAT DAN MERUSAK AKIDAH??

Modelnya seperti NLP, seolah afirmasi positif padahal membuka celah masuknya jin yg seolah menyembuhkan padahal sedang menipu. Kalimat memaafkan Allah adalah jebakan syaiton unt menyesatkan. Kalimat inilah yang menjadi celah masuk syaiton/jin kafir yg seolah menyembuhkan luka batin padahal sdh menjerumuskan. Apapun alasannya, kalimat memaafkan Allah adalah haram, Allah tdk butuh maaf dari makhluk karena Allah suci dari kesalahan. Makhluklah yg membutuhkan pemaafan dari Allah karena manusia selevel nabipun bisa berbuat salah jika tdk dima'sum oleh Allah.

Jawab: Saya nggak begitu tahu apa itu NLP yang sahabat maksud, affirmasi atau apapun namanya. Apakah tulisan saya dianggap menipu, menjadi celah masuk syaiton, jin kafir, menjerumuskan atau apapun terserah anda saja. Apapun tuduhan anda saya terima dengan tangan terbuka. Tidak ada marah tidak ada dendam. Hanya harapan semoga anda semua yang sedang kena musibah bisa lebih bersabar.

Intinya semua yang saya tulis adalah pengalaman yang ingin saya bagikan kepada anda semua. Artinya anda bebas menerima atau menolak. Apapun respon anda silahkan saja saya tidak ada masalah.. Mau responnya positif atau negatif silahkan itu terserah anda saja.

Btw pengalaman apakah gerangan?

Jadi begini ceritanya. Dahulu saya kutu buku, semua buku saya beli. Terutama buku bisnis dan agama. Saya punya buku 2 atau 3 almari penuh. Mungkin ada ribuan buku yang menjadi teman sehari hari. Selain buku saya juga haus untuk belajar kesana kemari. Biasanya tak jauh jauh dari belajar bisnis dan agama.

Dengan pembelajaran inilah saya jadi pintar berbisnis. Julukannya pakar atau ahli bisnis. Sehingga bisnis saya sempat melejit setinggi tingginya. Pun dengan membaca buku agama, berbagai kitab, hadir di kajian, nonton ceramah dll ilmu agama saya jadi nambah. Sehingga saya sering ngisi ceramah berbalut motivasi untuk teman teman komuhitas kami. Secara saya adalah ketua organisasinya.

Karena belajar berbagai buku dan kitab saya mendapatkan julukan ahli, pakar atau praktisi agama. Atau bahsa lainnya saya jadi ahli kitab. Karena memang kitab saya buanyak banget. 

Setelah kena sihir yang menghancurkan segala sendi kehidupanku pada akhirnya saya benar benar nglokro senglokro nglokronya, kecewa sekecewa kecewanya. Saya sempat mencoba untuk bangkit membangun kembali bisnis yang hancur dengan mengandalkan kecerdasan startegi, trik dan intuisi bisnis yang sudah saya latih selama belasan tahun. Namun nyatanya semua meskipun saya adalah seorang ahli bisnis ternyata semua strategi gagal semua. Menyisakan hutang yang numpuk.

Pun saya mencoba mengenang bagaimana saya belajar agama dari buku, ceramah ustadz, kitab kitab dll. Kalau dikumpulkan kitab saya ada banyak dan tebal tebal banget. Nyatanya ilmu agama yang selama ini saya pelajari nggak ada gunanya saat diterpa musibah yang berat. Pelajaran tentang amal ibadah, kesabaran, tawakal, keikhlasan, bersyukur dll nggak ada gunanya. Sebab saat itu hari hari saya penuh dengan kemarahan, dendam dan kekecewaan.

Karena menjadi ahli bisnis dan ahli kitab nggak ada gunanya sehingga saya memutuskan untuk membuang semua ilmu yang saya miliki. Ilmu bisnis, ilmu sosial, ilmu agama, ilmu fikih dll semua saya buang. Mengapa saya buang? Sebab saya merasa itu semua nggak ada gunanya dan tidak mampu menjadi solusi masalah kehidupan.

Makanya dahulu saya pernah bagi bagi buku gratis kepada sahabat yang mau. Ada yang masih ingat tidak? Yang pernah dapat buku dari saya komen ya?

Ada beberapa lemari berisi buku buku & kitab kitab mahal yang kalau diduitin bisa belasan bahkan puluhan juta saya bagikan gratis. Saya dahulu kirim ratusan paket buku kepada sahabat yang mahu. Ada yang sekilo, 3 kilo bahkan 5 kilo. Sampai akhirnya semua buku buku, CD/ disc, kitab kitab dll habis tak bersisa.

Saat itu saya hendak membuang semuanya yang saya anggap tidak bisa menjadi solusi beratnya ujian kehidupan. Saya ingin mengosongkan pikiran dan hati dari segala sesuatu yang disangka bisa dijadikan sandaran untuk menemukan solusi kehidupan. Saat itu saya lebih memilih menikmati pedih dan perihnya ujian dengan harapan ada satu pencerahan yang masuk. Kalaupun nggak ada yang masuk paling banter koit alias game over. Dan saat itu saya sudah tidak peduli apakah bisa kuat menjalani ujian kehidupan ataukah m0di44rrr...

Sumber pencerahan itu dari mana? 

Ya saya juga nggak tahu. Pokoknya saya hanya bisa berharap ketika pikiran dan hati dikosongkan akan ada ilham yang masuk lalu menjadi solusi. 

Singkat cerita berlalu waktu yang cukup panjang. Kalau dahulu saya menghabisi waktu dengan baca buku dan kitab, menulis dll lalu pasca kena musibah saya lebih suka membaca buku kehidupan yang tidak tertulis, tidak berhuruf dan tidak bersuara. Saya mencoba membaca takdir kehidupan. Ada apa dengan takdir? Dan mengapa takdirku harus sekejam ini? 

Hari demi hari saya terus mencoba membaca pesan yang dibawa oleh takdir. Seakan akan takdir datang membekapku dengan sangat kencang seraya mengatakan, "iqro', bacalah". Begitulah ucapan takdir yang terus diulang ulang. Saat itu dalam sesak dada yang teramat sangat saya hanya bisa menjawab, "saya tidak/ belum bisa membacanya".

Ketika jawaban saya seperti itu, takdir semakin membekapku. Artinya ujian kehidupan semakin menghimpit dadaku sehingga lebih pedih dari sebelumnya. Lalu diberikan lagi sebuah pertanyaan, "bacalah..."

Dalam dada yang sesak karena himpitan takdir saya berjuang keras untuk membaca realitas takdir yang begitu k3jam. Mirip seperti anak TK atau anak SD yang belajar membaca huruf A, Ba, Ma, Ma dan seterusnya sampai akhirnya aku mulai bisa membaca satu dua kata. 

Singkat cerita setelah berlalu waktu beberapa tahun lamanya akhirnya saya bisa membaca lalu menjawab pertanyaan takdir kehidupan. Pertanyaan "bacalah" sebenarnya dalam bahasa lain adalah pertanyaan, "man robbuka". Seakan akan takdir mengatakan begini, "bacalah ada apa dibalikku.. baca lagi... baca siapa yang mendatangkanku. baca lagi.. Baca apakah yang memberikanmu ujian adalah mahluk atau Tuhan. baca..."

Sampai akhirnya aku mengerti bahwa "dibalik takdir yang memberikan ujian ada Allah". Ternyata dibalik dukun, jin, pelaku sihir, pasangan, teman, kerabat, bisnis, relasi dll yang membingkai sebuah cerita ternyata semua ceritanya Allah, bukan ceritanya mahluk. 

"Man robbuka", tanya takdir kepada jiwaku yang terkubur dalam tanah bernama jasad. Lalu dengan tertatih tatih aku menjawab, "Allah". Dan setelah saya menjawab "Allah", mulai detik itulah panasnya api dalam dada pelan pelan mulai padam. Mengapa padam? karena saya berjuang untuk menerima, ikhlas dan ridho kepada utusan Allah yaitu takdir. Mengapa saya menerima, padahal takdirnya sangat kej4m? Karena saya mengerti bahwa dibalik takdir ada Allah yang sedang membuat sebuah cerita.

Kata kata menerima Allah inilah yang kadang disalah artikan oleh sahabat. Khususnya sahabat yang selama ini menjadi kutu buku/ kutu kitab/ ahli kitab sebagaimana saya dahulu kala. Apalagi kata kata, "menerima Allah" saya rubah lebih dalam menjadi, "memaafkan Allah". Langsung deh para kutu kitab protes seraya mengatakan Maha suci Allah dari kesalahan.

Padahal maksud saya tidak begitu, karena yang saya maksud "memaafkan Allah" itu seperti kisah Nabi Musa alaihis salam yang diperintahkan untuk menhengukNya karena sedang sakit. Nabi Musa heran bagaimana mungkin Allah bisa sakit? Ternyata yang dimaksud adalah beliau disuruh menjenguk tetangganya yang sedang sakit. Karena menjenguk sodara yang sedang sakit seakan akan menjenguk Allah. 

Sehingga maksud saya "memaafkan Allah" bukan berarti Allah berbuat kesalahan. Akan tetapi memaafkan mereka yang menyakitimu dengan cara menerima ujian dengan ikhlas dan ridho tanpa pemberontakan. Ketika anda memaafkan mereka itu sama saja (seakan akan) memaafkan Allah. Tapi disangka demikian dan demikian. Lalu lahirlah tuduhan, hujatan, kontra dll. Its no problem kok, santai saja.

Tapi saya meyakini seyakin yakinnya suatu saat anda akan mengangguk anggukkan kepala. Apalagi cerita takdir anda mirip dengan cerita saya, lalu ada masa dimana anda membuang buku dan kitab yang yang selama ini menjadi hijab dari mengenal Allah dengan sebenar benarnya. Dan setelah semuanya anda singkirkan lalu mengosongkan pikiran dan hati niscaya akan masuk pemahaman baru yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Pemahaman yang anda dapatkan bukan dari membaca buku dan kitab tapi dari membaca takdirmu sendiri. Kitabnya bukan dalam bentuk tertulis tapi kitabnya adalah hidupmu sendiri. Ketika anda sudah bisa membaca kitabmu sendiri maka ketahuilah itulah wahyu pertama yang turun.

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al 'Alaq: 1-5)

Barulah saat itu anda sadar sesadar sadarnya kalau ternyata Sang Guru sedang mengajarimu sesuatu. Mengajari apa? Mengajari kalau dibalik segala sesuatu ada DIA

Semoga mencerhakan, share ya?

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Begini Caranya Bergantung Hanya Kepada Allah Saja

Banyak yang mengatakan saya hanya bergantung kepada Allah. padahal aslinya itu perkataan dusta saja. Lalu bagaimana caranya bergantung kepad...