Hanya orang ikhlas yang tidak memmpan sihir. hanya orang ikhlas yang tidak bisa disesatkan Iblis. Ikhlas seperti apa? Simak Ikhlas yang Tidak Mempan Sihir & Tidak Bisa Disesatkan Iblis.
IKHLAS YANG TIDAK BISA DISESATKAN IBLIS & TIDAK MEMPAN DISIHIR
Ini semua berkat bantuan Doa-doa tulus ikhlas dari pak ustadz 🙏 dengan bismillah penuh keyakinan Allah kabulkan kesehatan lahir dan batin aamiin. Semoga menjadi memotivasi dan inspirasi bagi sahabat yang terindikasi gaguan non medis
Jawab: Apakah saya sudah ikhlas? Belum sepenuhnya, sebagaimana kebanyakan manusia. Karena ikhlas itu ada tingkatannya. Pun dengan islam, iman, tawakal, syirik, alam barzakh, surga dan neraka semua ada tingkatannya. Masing masing tingkatan ada penghuninya.
Jika tingkatan ikhlas dari 1 sampai 100 maka jika saya dan anda sudah bisa masuk di tingkatan 1 itu sudah bagus. Sebab setiap ikhlas ada surganya. Dan setiap surga ada penghuninya.
Ketika anda beramal berharap imbalan dari Allah itu sudah ikhlas. Jika anda beribadah ingin dapat surga itu juga sudah ikhlas. Sebab kita berharapnya hanya kepada Allah, bukan kepada mahluk. Meskipun sudah sangat bagus tetapi belum ikhlas paripurna.
Ikhlas paripurna sebagaimana surat Al Ikhlas. Tidak ada kata ikhlasnya. "Qul huwallaahu ahad", katakan Allah itu esa, tunggal, satu satunya tiada duanya. Tidak ada sesuatu apapun selain Allah, pun dengan dirimu sendiri. Artinya jika engkau masih merasa ada, berarti ada dua (bukan esa), maka selama itu tidak akan pernah bisa ikhlas.
Sehingga ikhlas paripurna adalah ketika anda beramal dan beribadah sudah tidak berharap pahala dan surga. Mengapa tidak berharap pahala? Sebab anda tidak merasa telah berbuat. Karena tidak merasa berbuat sehingga tidak berharap.
Sahabat....
Kadang kita merasa sudah pasrah, padahal masih ada rasa ingin mengatur. Kadang kita merasa sudah ikhlas, padahal didalamnya masih terselip harapan. Dan disinilah rahasia itu bersemayam bahwa ikhlas itu bukan dari hasil usaha melainkan kesadaran.
Ikhlas tidak tergantung pada tenangnya batin atau damainya suasana. Ikhlas adalah keadaan ketika yang berbuat bukan lagi aku, tapi Allah melalui diriku.
Ikhlas itu bukan tentang tahu, tapi tentang menjadi tiada, agar yang ada hanya DIA.
Ikhlas bukan tentang tenangnya hati, bukan juga tentang lurusnya niat. Karena semua itu masih dalam lingkup rasa yang bisa berubah. Ikhlas bukan keadaan yang bisa dicapai melainkan keadaan dimana tidak ada lagi yang merasa telah berbuat ikhlas.
Zohir bisa saja tampak khusuk, tapi batin belum tentu bebas dari pamrih. Batin bisa terasa damai, tapi masih ada rasa ingin diakui oleh Allah. Sedangkan ikhlas sejati melampaui keduanya. Tidak tergantung kepada tampilan luar, tidak juga terjebak dalam rasa dalam.
Ketika tangan memberi, tapi hati tidak merasa telah memberi. Ketika lidah memuji tapi hati tidak merasa sedang berdzikir. Ketika sholat telah ditegakkan tapi tidak ada lagi yang merasa telah sholat. Itulah bayangan kecil dari ikhlas yang sejati.
Jika anda sudah dimaqom ini maka itulah ikhlas yang paripurna. Ikhlas yang seperti inilah yang disebut dengan mukhlasin. Dan orang yang mukhlasin adalah orang yang tidak bisa digoda oleh Iblis.
Artinya: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas (mukhlasin) di antara mereka". (QS Al Hijr: 39-40)
Hamba yang mukhlasin adalah hamba yang merasa sudah tidak ada. Sedangkan yang ada hanyalah Allah yang sedang membuat cerita. Inilah yang disebut dengan esa, satu tiada duanya.
Kita semua, saya dan anda belum sampai di maqom mukhlasin. Sebab hanya orang orang yang dikehendaki Allah saja yang mampu. Artinya kita tidak akan pernah bisa meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Sebab ikhlas yang seperti ini bukan karena usaha melainkan karena kehendak diriNya.
Meskipun demikian tetaplah berusaha untuk ikhlas sesuai dengan kemampuanmu. Caranya dengan terus menghidupkan hati bahwa dibalik mahluk dan dirimu sendiri ada Allah yang menggerakkan. Dengan begitu harapannya kita tidak terlalu kecewa saat kehilangan, dan tidak terlalu bergembira saat diberikan karunia.
Semoga mencerahkan dan jangan lupa share
Syukron
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar