Seakan akan ada cerita mahluk. Yaitu dirimu yang membuat cerita. Ini hanya seakan akan saja. Sebenarnya Tidak Ada Cerita Mahluk, yang Ada Cerita Tuhan. Simak penjelasannya.
SANTAPAN ROHANI: SEBENARNYA TIDAK ADA CERITA MANUSIA, YANG ADA CERITA DIRI_NYA
...ustad ...mohon petunjuk jalan untuk kolbu, agar benar2 yakin itu Tuhan semata? Punya niat bgt untuk sembuh dr macam2 sakit...pikiran ...jiwa...raga ...untuk bisa kerja kembali untuk kebutuhan keluarga...tp seakan jiwaku terkekang dengan jin atau setan di badan? mgkin ruqiah alternatipnya...tp sampai kapan ruqiah berulang2... terus...?
Jawab: Mungkin maksud pertanyaan sahabat diatas adalah bagaimana supaya hati meyakini bahwa segala takdir yang buruk juga dari Tuhan semata. Bagaimana caranya?
Mungkin pertanyaannya saya balik, apakah kamu benar benar yakin bahwa segala takdir yang buruk itu disetting, didesain dan diciptakan oleh mahluk? Apakah kamu yakin kena sihir lalu menjadi sebab kehancuran hidupmu itu semua settingan mahluk?
Jika kamu kesulitan menjawabnya mungkin kita perlu melihat alam yang lebih luas. Apakah kamu yakin matahari beredar digaris edarnya lalu menginginkan menyinari bumi supaya bumi hidup? Apakah itu keinginan matahari sendiri? Apakah bumi berputar atas kehendak sendiri? Apakah bumi mengeluarkan berbagai sumber makanan bagi manusia juga keinginan sendiri?
Jawaban hati yang jujur tentu tidak demikian. Tata surya memang diciptakan seperti demikian dari sononya. Matahari, bulan dan bumi didesain demikian sudah dari sononya. Planet dan bintang bintang diciptakan dengan sebuah kehendak, tapi bukan kehendak dirinya sendiri. Alam semesta melakukan perbuatan dalam bentuk rotasi dan revolusi tapi itu semua bukan perbuatannya sendiri.
Artinya atom, virus, semut, gajah, pohon mangga, bambang, wati dan seribu nama lainnya juga diciptakan dengan kehendak, tapi bukan kehendaknya sendiri. Misalnya semut bilang, "aku mau menciptakan diriku sendiri ah". Khan nggak gitu. Lalu apakah setelah diciptakan kemudian para mahluk bisa seenaknya melakukan perbuatan atas kemauan sendiri? Kalau kita melihat skala makrokosmos khan tidak begitu. Matahari tidak melakukan perbuatan semaunya sendiri. Ia patuh kepada perintah untuk menyinari bumi.
"Tapi khan manusia beda ustadz. Manusia bebas melakukan perbuatan sesuai keinginan sendiri". Jawabannya itu hanya seakan akan saja. Karena memang penciptaan manusia itu spesial beda dengan mahluk lainnya di semesta alam. Misalnya matahari diciptakan untuk tunduk sesuai perintah. Matahari tidak tahu menahu dirinya diciptakan demikian. Beda dengan manusia yang yang pasti selalu bertanya tanya, "mengapa aku ada dan siapa yang menciptakanku?".
Matahari dan segenap bintang diciptakan tanpa tahu siapa yang menciptakan. Mereka semua hanya tunduk patuh sesuai perintah. Tetapi manusia diciptakan supaya tahu siapa penciptanya. Itulah sebabnya manusia selalu melakukan pencarian. Dan setelah ketemu yang dicari barulah manusia paham. Sebenarnya yang melakukan pencarian adalah Tuhan itu sendiri.
Seakan akan saja kamu berpikir, merasa dan meyakini. Seakan akan kamu berbuat dan melakukan sesuatu. Hanya seakan akan saja. Karena ujungnya sebenarnya perjalan untuk mengenal DZAT yang ada dibalik segala galanya. Setelah kamu sampai diujung pencarian barulah kamu paham bahwa sebenarnya yang berbuat bukanlah dirimu, tetapi DIA dibalikmu.
Konsepnya seperti bumi yang mengeluarkan berbagai kebutuhan untuk manusia. Apa yang dilakukan oleh bumi bukan atas kemauannya sendiri tapi desain maha sempurna. Bedanya bumi tidak diberikan kesadaran bahwa yang melakukan semua adalah Tuhan. Tetapi manusia diberikan kesadaran bahwa ternyata dibalik planet, bintang, matahari dan bumi ada Sang Pelaku Tunggal.
Kesadaran akan Tuhan inilah yang disebut dengan RUH. Ruh adalah tiupan atau kesadaran Tuhan yang mengalir dalam sebuah wujud yang disebut manusia. Ruh yang melihat bahwa tidak ada pelaku kecuali Yang Tunggal.
Akan tetapi ruh yang merasuk ke qalbu manusia diberikan hijab sehingga cahayanya memudar. Ketika ruh melewati jiwa dan akal manusia semakin pudar lalu hilang. Sehingga seluruh manusia tidak terkecuali pada awalnya menyangka dirinya bisa berbuat semaunya tanpa ada yang mengendalikan. Padahal aslinya satu kedipan matapun sudah ditentukan dari sononya.
Kalau dalam bahasa spiritualnya inilah mekanisme dimana manusia (Adam) diturunkan ke langit dunia. Setelah terdampar didunia maka seluruh manusia akan melakukan sebuah perjalanan kembali ke kampung halamannya. Itulah mengapa semua manusia diberikan ujian demi ujian dengan tujuan untuk menyadarkan kesadaran ruh pada dirinya. Sadar kalau dibalik realitas takdir ada Tuhan yang sudah mengatur segala galanya.
Ketika kamu kehilangan, hidupmu hancur, ditinggalkan semua orang dll itu adalah jalan untuk membuka kesadaran bahwa Yang Ada hanyalah Tuhan. Supaya kamu dan egomu m4ti lalu membiarkan yang hidup hanyalah Tuhan semata mata. Ketika itulah kamu menyadari bahwa dirimu sama seperti bulan atau matahari, alias tidak punya kehendak dan keinginan kecuali tunduk kepada kehendak Yang Tunggal.
"Lalu bagaimana kita menyikapi hidup kita yang hancur lebur karena sihir?"
Tidak perlu disikapi karena ketika hidupmu hancur itu semua sudah takdir. Sudah dari sononya begitu dan tidak akan bisa dirubah meskipun satu inchi. Itu semua adalah jalan kembali yang mau tidak mau harus dilalui. Yaitu jalan kembali kepada kesadaran ruh bahwa manusia itu hanya alat untuk menggelar cerita Tuhan. Manusia itu hanyalah wayang yang tidak bisa berbuat apa apa kecuali tunduk dan patuh kepada Sang Dalang.
Memang untuk saat ini anda seolah olah dipaksa harus menelan pil pahit berupa kehancuran. Tapi waktu akan menjawab mengapa hidup anda harus melewati fase yang menyesakkan jiwa. Sampai pada satu titik waktu memberitahumu bahwa inilah jalan kembali. Kembali kemana? Kembali kepada Tuhan sebagai Sang Pembuat Skenario tunggal alam semesta.
Jika saat ini engkau sedang berada pada fase penuh kesedihan dan kekecewaan berarti perjalananmu sudah sampai di langit jiwa. Memang di langit jiwa ini penuh dengan sejuta rasa. Karena di dimensi inilah terjadi tarik tarikan antara dunia dan akherat. Ketika jiwamu enggan untuk kembali alias betah di dunia maka anda akan merasakan penderitaan.
Ketika satu duniamu meninggalkanmu dengan ucapan, "bye bye" membuat jiwamu menangis sedih. Ketika duniamu yang lain ikut meninggalkanmu engkau berontak. Hingga ketika hampir semua duniamu meninggalkanmu maka engkau akan merasakan kepedihan sakaratul maut yang dahsyat. Tapi gak apa apa, justru ini bagus. Sebab ketika hampir semua duniamu pergi meninggalkanmu akan membuatmu untuk mencoba melirik akherat yang ada di hati. Justru ketika engkau menatap hatimu engkau akan melihat pemandangan yang jauh lebih indah dari sekedar dunia.
Semakin engkau lekat menatap hatimu sendiri, semakin engkau yakin bahwa dunia yang sudah meninggalkanmu juga bagian dari cerita Tuhan. Ketika itulah jiwamu pelan pelan mulai melepaskan dunia sehingga lebih tenang. Tenang karena sebenarnya engkau tidak kehilangan apapun, justru saat itu engkau mulai menemukan sandaran baru yang tidak akan pernah hilang selama lamanya. Inilah dimensi perjalanan berikutnya yaitu di dimensi qalbu. Dimensi yang paling dekat dengan ruh. Yaitu qalbu yang yakin bahwa dibalik segala galanya ada Allah.
Bahasa lainnya antara kamu dan Tuhan. Yaitu Tuhan yang sedang mangajarimu tentang cinta dan sandaran. Di fase inilah engkau akan lebih ikhlas, lebih ridho, lebih menerima takdir yang sudah Allah tentukan. Engkau ikhlas karena ada Allah bersamamu.
Bagi sahabat yang sedang diuji dengan musibah berat, jika perjalanamu sudah sampai sini maka itu sudah cukup membuatmu bahagia. Sebab saat itu engkau sudah paham bahwa sebenarnya engkau tidak sedang hancur, akan tetapi Allah sedang mengisi hatimu dengan diriNya. Disinilah anda akan mengalami dan merasakan surga.
Meskipun perjalanan belum berakhir. Masih ada satu perjalanan puncak untuk sampai di kampung halaman. Yaitu perjalanan yang sampai ke dimensi ruh. Yaitu sebuah alam atau dimensi dimana tidak ada segala sesuatu, yang ada hanya Allah, ahad, tunggal. Ketika engkau sampai disini maka engkau tidak akan mampu melihat mahluk, sebab yang engkau lihat hanyalah Tuhan seorang, tidak ada yang lain. Atau bahasa lainnya di dimensi inilah "kesadaran Tuhan".
Ketika engkau sudah sampai disini maka engkau akan melihat manusia dengan segala ujiannya sama seperti matahari yang tidak bisa berbuat apa apa kecuali tunduk kepada perintahNya. Disini engkau akan melihat bahwa cerita manusia hakikatnya cerita Tuhan sendiri. Saat itulah engkau hanya bisa diam seraya menyaksikan (syahadat), "ashaduan laailaaha ilallah"
Semoga mencerahkan, share ya?
Syukron
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar