Iman itu Butuh Pahala Surga & Neraka Sekarang Bukan Nanti

Banyak orang yang menyangka pahala surga dan neraka nanti diakherat. Kalau nanti gimana bisa beriman? SImak Iman itu Butuh Pahala Surga & Neraka Sekarang Bukan Nanti.

 

SANTAPAN ROHANI, IBADAH, DZIKIR & DOA KOK MENGHARAP PAHALA DAN SURGA, EMANG BOLEH?

ustadz izin bertanya.. Ditempat tinggal saya banyak sekali ustadz2 mengamalkan wirid2 tertentu untuk ini dan itu. Sy awam masalah ini ustadz.. bagaiamana menyikapinya? Ada ustadz yg klo memulai  tahlilan membaca ya rizal goib berulang2.. apakah ini dibenarkan ustadz? Terima kasih semoga pak ustadz reyfan dan keluarga selalu sehat

Jawab: Banyak yang seperti itu, silahkan sajalah. Wong semuanya dibungkus dengan doa atau permintaan kepada Allah. Meskipun seharusnya anda memahami dulu apa itu dzikir, doa, pahala dengan pemahaman yang bener. Sebab kalau bingkainya nggak paham maka bisa saja akan menyesatkanmu.

Banyak umat islam yang mengamalkan wirid ini untuk kesuksesan, wirid itu untuk tolak bala, wirid ono untuk kewibawaan dll. Bahkan ada yang wirid ini itu untuk pengasihan, penglarisan, disukai orang sampai memukul musuh jarak jauh. Atau dzikir tertentu untuk membuka gerbang alam gaib. Dan semua mengatakan ada dasarnya yang bisa dipertanggung jawabkan. 

Sekali lagi silahkan saja itung itung dijadikan pembelajaran ke depannya. Jika dengan dzikir itu anda bisa kaya raya misalnya maka syukurlah. Meskipun toh nggak kaya kaya juga. Atau wirid tertentu untuk tembus alam gaib, seiring proses anda paham bahwa yang membawamu adalah jin atau setan. Artinya biar waktu yang memahamkanmu.

Tapi jangan salah, tidak hanya mereka yang mempraktekkan dzikir dan amalan tertentu untuk tujuan keduaniaan, tetapi juga para ustadz, kyai, habib dan anda anda yang mengaku menjaga sunnah juga melakukannya kok. Saya dan anda termasuk didalamnya khan? Misalnya rutin sholat dhuha biar kaya, sholat tahajud biar urusannya lancar, sedekah untuk melipatgandakan rezeki, dan atau doa doa yang diajarkan Nabi Shollallaahu alaihi wasallam untuk hajat keduniaan.

Saya, anda dan mereka sama saja yaitu melakukan amalan akherat untuk tujuan atau hajat dunia meskipun beda bungkus, beda cara, beda amalan. Udah ngaku aja nggak usah debat dan nggak perlu sok suci dengan mengatakan, "kalau amalanku sesuai sunnah sedangkan mereka bid'ah". 

"Salahkah?". Nggak salah silahkan saja didawamkan. Apalagi amalan, ibadah dan doa sesuai contoh Nabi Shollallaahu alaihi wasallam. Bagus malahan sebab sekalian menjalankan sunnah nabi. Pertanyaannya adalah anda sudah kaya belum, bisnisnya sudah jaya belum, rumah tanggamu sudah harmonis belum, sudah dapat keturunan belum, sudah bahagia dan sejahtera belum?

Kalau sudah syukurlah, aku ikut seneng kok. Semoga makin sukses, kaya dan bahagia. Tapi kalau belum anda harus melanjutkan membaca sampai selesai ya? Buka hatimu lebar lebar karena tulisan ini adalah santapan ruhani. Dan pastikan anda menutup dulu pintu keilmuwanmu, hapalanmu, dalilmu, haditsmu, ceramahmu dll. Sebab kalau nggak ditutup sementara saya jamin anda pasti ker4cunan.

Pembahasan ini saya mulai dari definisi agama. Menurutmu agama itu muaranya adalah pembentukan kharakter atau bukan? Yaitu kharakter positif, mulia dan terpuji. Jika jawabanmu YA artinya pinter. Mana ada agama mengajarkan kekerasan, kekakuan, perpecahan, kebencian, permusuhan dll. Kalau orang beragama jadi keras, kaku, kasar dll artinya dia belum bener bener paham makna beragama.

Artinya agama adalah cara pandang seseorang didalam menyikapi kehidupan ini. Yaitu cara pandang yang bener sehingga berbuah menjadi kharakter yang terpuji. Cara pandang bahasa arabnya Ad Diin, lalu ditranslate kembali menjadi agama dalam bahasa indonesia. Sedangkan orang yang terpuji bahasa arabnya Muhammad. Untuk menghasilkan kharakter yang terpuji maka orang tersebut harus menerima dan pasrah terhadap realitas takdir. Bahasa arabnya pasrah adalah islam. Sehingga Ad diinul muhammad al islam. Bahasa indonesianya agama muhammad adalah islam. Atau bahasa mak jlebnya adalah "cara pandang/ paradigma supaya memiliki kharakter yang terpuji adalah menerima/ pasrah terhadap hasil atau realitas takdir.

Mengapa dengan pasrah terhadap takdir bisa membentuk kharakter yang terpuji atau mulia?

Karena jauh lebih banyak keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Keinginan kita berasal dari nafsu sedangkan kenyataan/ takdir datang dari Tuhan atau Allah. Kalau keinginan sesuai dengan kenyataan maka kita akan senang, tapi ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan maka kita akan merasa sedih. Ini khan cara pandang/ agama yang salah. Sebab kalau takdir sesuai keinginan seharusnya kita was was, jangan jangan ini ujian yang bisa membuat kita lupa diri. Malahan kalau keinginan tidak sesuai kenyataan seharusnya kita senangnya bukan main. Sebab ketika harapan tidak sesuai kenyataan artinya itulah kehendak Allah. Mosok sedih dengan pilihan Allah. Kalau saya dan anda sedih ketika keinginan tidak sesuai kenyataan artinya iman kita kepada Tuhan patut dipertanyakan. Kamu percaya Allah nggak? Trust sama Allah tidak? Kalau percaya ikuti saja takdirmu dengan senang hati.

Saya tidak tahu entah kenapa temanya malah membahas ini, sebab semua ngalir begitu saja. Padahal diawal saya hendak membahas tentang amal ibadah yang berharap pahala dunia. Cuma memang mau tidak mau supaya iman kita makin sempurna harus ada reward dan punishment. Kalau kita melakukan amalan tertentu apalagi ibadah yang dicontohkan Nabi shollallaahu alaihi wasallam tapi nggak ada hasilnya maka lama kelamaan dirimu akan ragu.

Mosok iman, percaya atau trust kepada Allah nggak melihat dampak dan hasilnya? Harus dapat dong, supaya iman kita makin menghunjam dalam dada, ya nggak? Artinya supaya harapan sesuai dengan keinginan kitanya harus trust atau percaya kepada Allah bukan kepada nafsu.

Cuman khan kebanyakan iman dan islam kita lemah banget dan kurang menghunjam dalam dada. Buktinya buah iman yaitu kharakter yang tangguh tidak kita dapatkan. Sebab iman kita sangat jauh sekali diluar galaksi sana. Pahala, dosa, surga dan neraka selama ini kita pahami nuuantiiii kalau sudah meninggal dunia. Sehingga fokus kita adalah merutinkan amalan ibadah tertentu dengan iming iming pahala yang besar sebesar gunung. Tapi itu nantii... Nanti dan nanti diakherat.

Seharusnya khan pahalanya ya harus kita alami sekarang supaya main tambah yakin. Supaya kita beriman dengan pahala besar nanti diakherat kelak. Kalau di dunia nggak dapat bukti mana kita tahu diakherat kita bisa reward seperti yang dijanjikan? Misalnya dapat surga, ketemu bidadari, minum madu dan macam macam dah.

Karena kita meyakini dapatnya nanti sehingga amal ibadahnya tidak berkesan di hati. Hanya menggugurkan kewajiban dan atau hanya asal asalan saja. Atau bisa jadi amal ibadahnya sangat keras dan gigih dengan prasangka dan keyakinan nanti diakherat dibalas dengan surga. Cuma saat didunia hanya sibuk ibadah saja lalu lupa anak istri. Malahan semakin tekun ibadahnya semakin angkuh hatinya. Merasa paling suci dan paling benar sendiri lalu merendahkan orang lain. Kalau begini mana dapat kharakter mulia dan terpuji sebagai tujuan dari beragama?

Maka kali ini saya ingin sampaikan kepadamu bahwa mau tidak mau pahala/ reward dari iman kepada Allah harus kita rasakan dan alami di dunia ini supaya iman kita sempurna. Mau tidak mau pahala, siksa, surga dan neraka harus kita alami dulu di dunia supaya iman kita nancap dalam dada. Iman seperti inilah yang akan kita bahwa ke akherat. Jika anda sepakat dengan paragraf ini maka mau tidak mau anda harus menyelam lebih dalam tentang makna amalan, dzikir, wirid dan ibadah lainnya. Yaitu tidak hanya memahami secara ritual ceremonial saja akan tetapi harus paham hakikatnya. 

Artinya ketika anda wirid, dzikir, sholat dhuha, sedekah, doa sesuai sunnah dll jangan hanya fokus kepada ritualnya semata mata. Kalau fokusmu hanya kepada ritual yang ada debat sana sini. Akan tetapi resapkan maknanya sampai ke dalam dada. Ketika maknanya sudah meresap dalam dadamu maka inilah yang akan merubah kharakter dan mental kita semua menjadi lebih tangguh, lebih sabar, lebih tegar, lebih ikhlas dll dalam bingkai husnudzon kepada Allah.

Misalnya selama ini anda dzikir "Yaa Jabbar" seribu kali sehari dan atau yang lain sebab pada saat itu sedang terdzalimi lalu menginginkan orang yang jahat kepadamu kena karmanya. Ini namanya dzikir nafsu sebab keinginanmu dominan. Artinya dzikirmu tidak meresap dalam hati melainkan hanya sampai di jiwa atau keinginan nafsu. Maka percayalah anda hanya dapat takdir atau realitas dalam bentuk lelah plus dirimu makin merasa sakit hati karena didzalimi orang lain. Maka suatu saat anda akan ragu dengan dzikimu sendiri, alias ragu kepada Allah. Inilah siksa dan atau neraka sebab yang gelap sebenarnya hatimu. Gelap dari melihat Allah. Gelap itu dzulumat orangnya disebut dzolim. Cuman khan kamu nggak sadar sebenarnya yang dzolim kamu, sebab selama ini hanya fokus kepada ritual ceremonial belaka.

Oleh karenanya sekarang jujur sajalah. Meskipun kamu banyak ngaji banyak sholat tapi hatimu dzulumat alias dzolim. Yang menghalangi pengakuan ini adalah hawa nafsumu, akalmu, ilmumu, dalilmu, aliranmu, haditsmu dll. Makanya kalau baca santapan rohani akalmu dipinggirkan dulu. Lalu masuk ke qalbu dan akuilah kalau saya dan anda juga dzolim. Karena dzolim/ hatinya gelap makanya merasakan neraka dalam bentuk kemarahan, kesedihan, kekecewaan dll. Ketika anda mau jujur dan mengakui niscaya akan ditunjukkan jalan atau petunjuk.

Kalau kamu mau jujur mengakui justru kamu akan dapat satu butiran iman yang menancap dalam dada. "Oh iya ya ternyata aku juga dzolim, buktinya dadaku sesak menahan penderitaan. Artinya aku sedang disiksa dalam n3raka karena hatiku gelap dari melihat Allah yang datang bersama realitas". Nah kalau gini khan kamu dapat iman yang jauh lebih berkesan. Bukan iman yang jauuuuuh disana tapi disini, sekarang, didalam dada lebih dekat dari dirimu sendiri.

Sehingga ketika kamu dzikir Yaa Jabbar yang artinya DIA Maha Perkasa atau baca ayat ayat adzab sebenarnya itu untuk dirimu sendiri. Allah sedang berbicara denganmu bahwa DIA akan meng4dzab siapa saja yang dikehendakiNya, yaitu kamu. Tapi khan nafsumu melemparkan bacaan ini untuk orang lain, padahal yang kena dirimu sendiri. Jika kamu mengakui dengan jujur maka saat itulah hatimu akan mencoba menerima teguran Allah.

"Ya sudah, Yaa Allah aku jujur, aku yang salah, maafkan kami". Nah ini pengakuan jujur dari qalbumu. Jika hatimu tunduk, pasrah, menerima dan semacamnya inilah yang disebut dengan muslim. Dan seperti inilah seharusnya makna beribadah atau menghamba kepada Allah. Sedangkan ritual misalnya sholat, ngaji dll adalah kenyataan untuk melihat kondisi hati yang tunduk dan ikhlas. 

Ketika kamu sudah tunduk (muslim) maka kamu pasti akan dapat reward/ pahala. Reward yang bisa dirasakan detik itu juga adalah ketenangan hati. Sedangkan reward reward lain akan menyusul seperti rezeki kebuka, rumah tangga harmonis, relasi berdatangan dll. Padahal qalbu anda cuma tunduk loh, tapi tiba tiba semua berdatangan. Siapa yang mendatangkan? Jawabannya pasti saat itu hatimu meyakini Allah yang mendatangkan. Sehingga imanmu makin nancep dalam dada. Sebab sudah mengalami sendiri apa itu pahala/ reward sebagai manifestasi surga.

Termasuk anda yang beribadah harus plek sesuai sunnah atau contoh Nabi shollallaahu alaihi wasallam itu buagusss. Cuman ibadahmu jangan sebatas kulit saja, melainkan harus nancep dalam hati. Kalau hanya fokus kepada ritual tanpa masuk ke hati percayalah kamu akan capek karena debat kesana kemari merasa paling ebnar sendiri. Pokoknya orang lain yang ibadah ritulanya nggak seperti kamu akan dicap bid'ah sesat dan neraka. Kamu nggak sadar sekarang n3raka sudah mengglmknmu. 

Kalau kamu fokusnya di akal saja, hapalan, keilmuwan dll maka itu hanya sampai ke otak. Sementara buah ibadah nggak kamu alami. Kamu nggak akan tahu apa itu siksa, n4raka, adzab kubur, pahala, reward, surga dan lain lain kecuali jauuuuuuh banget disana. Capek capek kamu nuduh orang tapi nggak sadar sebenarnya telunjukmu untuk dirimu sendiri.

Oleh karena itu beribadahlah sesuai sunnah, plek seperti nabi tapi harus nyampe ke hati. Ketika kamu membaca doa lunas hutang plek seperti nabi maka bacalah,  

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Ya Allâh, cukupilah aku dengan rezeki-Mu yang halal (hingga aku selamat) dari yang haram. Cukupilah aku dengan karunia-Mu (hingga aku tidak meminta) kepada selain-Mu (HR Tirmidzi)

Ketika kamu ingin dapat iman ketika membaca doa sesuai sunnah diatas maka harus nyampe ke hati lalu menjadi kharakter. Karena ketika anda membaca doa diatas dengan hatimu pasti akan diuji dengan datangnya rezeki yang haram, atau abu abu. Pun kamu akan tergoda pinjam uang ke sodaramu atau ke bank syariah. Kalau anda membaca kalimat doa sesuai sunnah diatas dengan jujur maka kamu akan bertahan meskipun dirumahmu hanya makan nasi kerupuk. Kamu akan menolak ketika ada yang nawarin pinjaman.

Mengapa demikian? Sebab hatimu keukeuh untuk mensyukuri yang ada dan keukeuh untuk hanya meminta kepada Allah melalui jalan atau asbab yang halal. Jika qalbumu terus dikondisikan seperti itu maka percayalah akan datang berbagai sebab dimana hutangmu akan lunas meskipun sebesar gunung. Dan sebab sebabnya seringkali datang tak terduga. Maka ketika itulah kamu meyakini yang mendatangkan adalah Allah. Sebab hatimu sudah dipaksakan untuk tunduk pasrah dan menerima realitas takdir.

Ketika hal itu terjadi maka hatimu menjadi lebih lembut dan imanmu akan nancep. Kamu baru paham dan sadar makna pahala atau reward dari Allah yang sesungguhnya. Kalau kamu sudah beriman dengan pahala, surga dll maka saat m4tipun kamu akan membawa iman yang bener. Iman dihati loh bukan dihapalanmu. Camkan ini

Sehingga kesimpulannya sekali lagi adalah, agama itu pembentukan kharakter. Yaitu kharakter yang terpuji, mulia dan tangguh sebagai buah dari iman yang sudah kamu alami dan rasakan sendiri sekarang. Sekali lagi sekarang bukan nanti. Kharakter terpuji sebagai buah iman itulah yang disebut dengan TAQWA.

Bahasa lain dari "agama adalah pembentukan kharaker terpuji dengan cara tunduk kepada realitas takdir" adalah, Ad diin/ agama Muhammad adalah islam. Ketika kamu sudah menjadi muslim (orang yang tunduk) maka kamu pasti akan dapat iman yang nancep dihati. Ketika imanmu nancep dihati maka akan berbuah menjadi kharakter islam yang disebut taqwa. Ketika kamu takwa maka kamu pasti akan dapat pahala dalam bentuk surga. Sedangkan manifestasi suga adalah kebahagiaan karena menemukan solusi segala permasalahan hidup langsung dari Tuhan. 

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS Ali Imran: 133)

Ketika kamu sudah dimaqom ini niscaya kamu nggak takut mati. Bahkan ingin m4ti supaya bisa ketemu dengan Sang Kekasih tanpa adanya hijab lagi. Mengapa anda tidak takut m4ti? Wong sekarang kamu sudah merasa m4ti kok. Sebab kamu hanya menyaksikan saja yang mendatangkan semuanya dalam hidupmu adalah Allah. Semua datang begitu saja dan tidak bisa distop. Sehingga yang bisa kamu lakukan hanyalah memuji dan memujiNya setiap saat setiap waktu baik lewat ibadah ritual atau sosial.

Saat itulah kamu hanya bisa takjub, terpana dan terpesona lalu sangat mencintaiNya.

Demikian semoga mencerahkan, share ya?

Syukron

Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iman itu Butuh Pahala Surga & Neraka Sekarang Bukan Nanti

Banyak orang yang menyangka pahala surga dan neraka nanti diakherat. Kalau nanti gimana bisa beriman? SImak Iman itu Butuh Pahala Surga ...