Ternyata Guru Akherat itu Bukan Ustadz, Kyai, Ulama dan Habib

Mungkin anda meyakini bahwa guru akherat pasti bergelar ustadz, anda salah. Ternyata Guru Akherat itu Bukan Ustadz, Kyai, Ulama dan Habib. Lalu siapa? Simak penjelasannya ya?

 

SANTAPAN ROHANI, TERNYATA BUKAN KYAI & USTADZ, INILAH GURU AKHERAT YANG SEBENARNYA

Oia ustad mau tanya lagi, 🙏 Kalo misalkan di tubuh kita ada khodam positif, Trus kita minum/ mandi air ruqyah dari ustadz, Itu khodam yang positif, kena epek gak? Bukannya air ruqyah itu , cuma menghancurkan yang negatif?

Jawab: Sahabat camkan bahwa jin dan manusia itu sama sama mahluk Allah yang sedang diuji. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari semua kecuali hamba yang bertaqwa. Artinya mahluk yang mulia adalah mereka yang bertaqwa kepada Allah?

Apa itu taqwa? Penjelasan jadi panjang kalau diuraikan. Untuk detail silahkan seering dibaca tulisan santapan rohani yang lain ya?. Intinya taqwa adalah hati yang tenang dan lapang kemudian memunculkan kharaklter yang terpuji sebagai dampak dari percaya/ iman kepada Allah. Artinya Allah lah yang dijadikan sebagai sandaran hati, bukan mahluk.

Sahabat jangan menyandarkan hatimu kepada manusia telebih kepada jin. Jangan meyakini jin itu lebih dekat dengan Allah hanya karena mereka yang lebih halus dan bisa melihat alam manusia. Apakah itu jin, ifrit, khodam, nyi loro kidul, yang ngaku syeikh ini, syeikh itu, penunggu gunung in dan itu semua adalah mahluk. Saya, anda dan mereka semua sedang dalam proses perjalanan mencari, mengenal, menuju dan kembali kepada Allah.

Jangan meyakini ketika dzikir dzikir tertentu lalu tembus alam gaib dan bertemu dengan mahluk mahluk halus, jelmaaannya macam macam, lalu anda menyangka sudah dekat dengan Allah. Jangan menyangka ketika kemasukan khodam harimau lalu sering dibisiki untuk melakukan kebaikan artinya anda sedang dekat dengan Allah. Bukan seperti itu. Semua mahluk di alam gaib, khodam harimau dll juga dalam perjalanan dan pencarian jati diri. Atau dalam proses perjalanan mencari Allah.

Tidak harus ketika berinteraksi dengan jin, tembus alam gaib, ketemu wali dll lalu anda merasa menjadi hamba terpilih. Tapi juga ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Saya, mereka, ustadz, kyai, habib dan semua manusia juga sedang diuji dengan ujiannya masing masing. Jadi jangan meyakini ustadz yang pakai gamis pasti lebih sholeh dan lebih dekat dengan Allah, tidak ada jaminan.

Bagus sekali berguru kepada ahli agama misalnya sahabat NU berguru kepada Kyai Hasyim, Gus Dur, Gus Baha, Kyai Siradz, atau kyai di ponpes tempatmu belajar. Bagus sekali sahabat salafi berguru kepada Ustaz Khalid, Ust Firanda, Ust Syafiq dll. Buat sahabat Muhammadiyah yang belajar kepada Prof Din Syamsudin, Prof Haedar Ali, Buya Syafii Maarif. Kalau anda belajar Tasawuf kepada Buya Arrazy, Dr fahruddin Faiz, Prof Nasaruddin Umar itu juga bagus. Atau sahabat pecinta sholawat dan Habib lalu belajar kepada Habib Luthfi, Habib Jindan, Habib Rizieq dll juga bagus. Bagus sekali anda belajar agama kepada Ustadz Abdul Shomad, Ust Adi Hidayat, Ust Maulana, Ustdzh Oki Setiana Dewi dll. Bagus itu lanjutkan.

Atau anda berkiblat kepada Imam Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali itu juga bagus. Atau berkiblat kepada Ibnul Qoyyim, Syeikh Albani, Bin baz, Ibnu Taimiyyah juga bagus, Atau berkiblat kepada Syeikh Qardawi, Al Ghazali, Syeikh Mutawalli dll semua bagus.

Silahkan belajar agama kepada ahlinya sesuai dengan golongan atau manhaj yang anda pilih. Jadilah yang terbaik pada organisasi atau madzab yang anda yakini. Yang penting niatnya untuk belajar agama supaya paham hukum hukum agama. Tapi jangan sampai anda melompat ke organisasi atau golongan lain dengan niat untuk berdebat merasa paling benar. Sebab sampai kiamat nggak akan ketemu. Yang ada malah nambah musuh.

Belajar harus, fanatik jangan. Bagi sahabat NU jangan terlalu fanatik kepada Gus Baha misalnya, disisi lain sahabat salafi jangan terlalu fanatik kepada Ust Firanda misalnya. Jangan hatimu fanatik kepada Habib, Syeikh atau imam yang ada di bumi ini sehebat apapun ilmu agamanya. Hatimu jangan terlalu terpaut kepada manusia lalu menjadi fanatik. Sebab itu semua tidak akan memberikan dampak kecuali hati yang keras dan kaku. Akan tetapi fanatiklah kepada Allah niscaya hatimu menjadi lembut.

Bagaimana cara fanatik kepada Allah? Caranya ketika dihina anda senyum, ketika bisnis dihancurkan anda gembira, ketika pasangan diambil orang anda tertawa, ketika harga diri diinjak injak anda bahagia. Jadi seakan akan fanatik kepada Allah itu seperti orang gil4. Gil4 karena membiarkan Allah berbuat apa saja untuk dirinya, ini baru betul. Pertanyaannya anda bisa tidak?

Back to laptop...

Ketika tembus alam gaib dan ketemu wali, syeikh, bahkan nabi jangan sampai hatimu condong kepadanya. Sama seperti ketika anda belajar agama kepada pakar pakar atau ahli agama jangan sampai hatimu condong kepada manusia. Akan tetapi condongkan hatimu kepada Allah. Kalau kamu mencela mereka yang condong kepada jin (Syeikh di alam jin) tetapi diri dan hatimu ternyata condong kepada ulama bangsa manusia sebenarnya keduanya sama saja. Sama sama nggak paham tapi suka mencela satu sama lain.

Sahabat ketahuilah bahwa Syeikh di alam jin juga mahluk yang hatinya sedang diuji oleh Allah. Demikian pula kyai, ustadz, syeikh dan imam di bangsa manusia juga sedang diuji keimanannya oleh Allah. Termasuk saya, anda dan semua pembaca akun FB ini. Kita sama sama sedang diuji. Karena hidup ini ujian sehingga tidak ada jaminan ustadzmu, kyaimu, gurumu, syeikmu, imammu dll pasti hamba yang sholeh dan lulus ujian dengan nilai yang baik lalu pasti masuk surga. Termasuk saya, anda dan orang awam lainnya yang sedang diuji belum tentu pasti gagal hanya karena tidak fasih ilmu agama lalu pasti masuk neraka.

Kyai Aqil sedang diuji, Ustadz Khalid sedang diuji, Habib Jindan sedang diuji, Syeikh yang ada di Arab dan diseluruh dunia juga sedang diuji. Mereka diuji dengan ilmunya dan dengan ujian yang hanya Allah saja yang tahu. Demikian pula saya, anda, mereka, tukang becak, bos, karyawan, petani dan semua sedang diuji oleh Allah dengan ujiannya masing masing. Dan ujian yang diberikan bukanlah tentang seberapa hapal akan hadits, fikih, tafsir, sunnah, dll tapi ujian dalam realitas kehidupannya masing masing. Kalau parameter ujian adalah fikih, tafsir, nahwu dll maka hanya kyai dan ustadz saja yang lulus. Gimana nasib tukang becak, buruh dan petani yang waktunya habis untuk banting tulang menafkahi keluarganya?. Kalau demikian nggak adil dong.

Sekali lagi ujiannya dalam bentuk realitas takdir kehidupan yang anda alami dan rasakan setiap hari. Ada realitas yang baik ada juga yang buruk. Ada takdir yang sesuai keinginan ada yang tidak sesuai dengan harapan. Dan sebaik baik manusia adalah yang paling baik amalnya. Inna akromakum indallaahi athqookum. Maknanya adalah yang paling baik disisi Allah adalah mereka orang orang yang bertaqwa. Maksudanya adalah ketika diberikan ujian apapun hatinya tetap tenang, lapang, sabar, ikhlas, syukur, bahagia dan semacamnya. Inilah makna taqwa.

Ketika anda seorang buruh bisa lapang hatinya lalu bersabar ketika diberikan ujian ekonomi itu lebih baik dari pada kyai atau ustadz yang suka marah marah ketika santrinya pindah ke pondok lain. Kalau anda seorang ketua RT yang mampu merangkul semua warga dengan segala perbedaannya sehingga lingkunganmu aman itu lebih baik dari pada seorang ustadz atau syeikh yang fanatik dan keras hatinya tidak bisa menerima perbedaan. Atau anda yang kena sihir bisa menerima, ikhlas dan ridho karena Allah maka andalah yang disebut dengan hamba yang bertaqwa.

Mengapa korban sihir yang mampu ikhlas dan ridho adalah hamba yang mulia disisi Allah? Sebab ujian sihir benar benar menghancurkan segala galanya. Dan anda bisa lapang hatinya karena Allah ketika dihancurkan disana sini artinya andalah guru akherat yang sebenar benarnya. Jika diluar sana ada berjuta juta guru agama, guru fikih, guru tafsir, guru tasawuf dan guru guru lainnya maka guru akherat itu jumlahnya sedikit sekali. Bisa dibilang 1 banding 1.000

Siapakah guru akherat itu? Guru akherat bukan hanya korban sihir yang mampu ikhlas loh ya? Tapi bisa siapa saja yang Allah berikan petunjuk dalam qalbunya. Guru akherat adalah mereka yang sudah kenal Allah dan diberikan kemampuan untuk mengajak orang lain kenal dengan Allah. Dalam bahasa lainnya guru akherat adalah mereka yang hatinya sudah sampai ke akherat (surga) lalu mengajak orang lain supaya sampai ke akherat (surga). Emang ada apa di akherat? Di akherat hanya ada Allah saja tidak ada yang lain. Di akherat itu tidak ada kyai ini, gus itu, ustadz ini, syeikh itu, habib ini, imam itu dan segala mahluk. Di akherat juga tidak ada peruqyah dan atau pendekar langit. Sekali lagi di akherat hanya ada Allah saja tidak ada yang lain.

Karena hanya ada Allah saja makanya hatinya tenang, nyaman, damai bahagia, selamat dan sejahtera selama lamanya. Secara lahiriah guru akherat layaknya manusia biasa, tapi secara ruhaniah ia bukanlah manusia. Karena didalam hatinya sudah tidak ada siapa siapa lagi kecuali Allah. Jika anda ketemu dengannya maka wajib berguru meskipun harus merangkak diatas salju. Karena dialah yang akan membimbingmu untuk meniti jalan keselamatan dunia dan akherat. 

Pertanyaan terakhir ketika saya dan anda belajar kepada guru akherat, siapa sebenarnya yang membimbingmu untuk meniti jalan keselamatan? Apakah ustadz, kyai, habib, ulama, syeik? Bukan. Apakah pendekar langit atau peruqyah? Bukan. Apakah guru akherat secara lahiriah? Bukan. Secara lahiriah memang anda belajar dan dibimbing oleh seorang manusia yang mengajakmu ke akherat (surga), tetapi secara ruhaniah bukan. Sebab hakikatnya yang menyelamatkanmu adalah Allah sendiri.

Syukron

Klinik Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

14 Langkah Ruqyah Mandiri & Download Audio Ruqyah

Anda ingin belajar ruqyah mandiri? Simak artikel 14 Langkah Ruqyah Mandiri & Download Audio Ruqyah. Jangan lupa praktekkan, save dan sha...