Camkan Bahwa Guru Akherat Tidak Sama dengan Guru Agama

Kita kadung meyakini bahwa guru ngaji, guru fikih, guru hadits dll adalah guru akherat. Padahal yang sebenarnya bukan. Camkan Bahwa Guru Akherat Tidak Sama dengan Guru Agama, Simak penjelasannya ya?

 

SANTAPAN ROHANI, INI DIA GURU AKHERAT YANG SEBENAR BENARNYA

Aslm alkm. Pak saya ingin berguru. Buat dakwah tauhid Sebab sihir musuh yg susah di lihat bagi orang awam kecuali orang pilihan alloooh

Jawab: Waalaikumsalam.. Apa itu guru? Guru adalah dia yang menguasai sesuatu lalu mengajarkan kepada orang lain yang belum menguasainya. Artinya kalau mau jadi guru maka kuasailah ilmunya terlebih dahulu, setelah itu baru ngajarin orang lain.

Jika anda ingin pinter matematika maka belajarlah kepada guru matematika. Kalau ingin pinter ngomong belajarlah kepada motivator. Kalau pengin pinter ngobatin orang belajarlah kepada dokter. Kalau ingin pinter sepakbola belajarlah kepada ronaldo misalnya.

Apa lagi?

Kalau ingin pinter fikih belajarlah kepada guru fikih. Kalau ingin pinter ngaji dan hapal Al Quran belajarlah kepada guru ngaji. Kalau ingin pinter dalil belajarlah kepada guru hadits. Kalau ingin pinter ceramah belajarlah kepada ustadz penceramah. Kalau pengin pinter ngaji kitab belajarlah di pondok pesantren. Kalau ingin pinter ruqyah belajarlah kepada praktisi ruqyah. 

Semua ilmu ilmu diatas adalah ilmu dunia. Dalam bahasa lain pengetahuan diatas adalah ilmu akal. Dengan mempelajari ilmu ilmu diatas maka kita akan lebih cerdas akalnya. Dan semua ilmu akal/ dunia gurunya adalah manusia atau mahluk. Yaitu manusia yang menguasai ilmunya lalu mengajarkan kepada orang lain.

"Ust bukankah belajar ngaji atau belajar fikih itu ilmu akherat? Jawabannya bukan. Banyak yang menyangka dan meyakini ilmu diatas adalah ilmu akherat, dan itu terserah keyakinan masing masing. Tapi yang sebenarnya ilmu fikih, tafsir, ceramah, ruqyah dll adalah ilmu akal dalam hal ini disebut dengan ilmu pengetahuan agama. Karena lingkupnya masih ilmu akal maka tetap disebut dengan ilmu dunia.

Karena disebut ilmu akal maka yang lebih lama belajarnya biasanya lebih pintar. Misalnya seseorang yang belajar fikih sampai di timur tengah biasanya lebih cerdas pengetahuan agamanya dibandingkan dengan orang lain. Pengetahuan inilah yang diajarkan kepada orang lain yang dangkal/ awam pengetahuan agamanya. Disebut dengan dakwah agama. Tapi camkan dakwah agama tidak sama dengan dakwah akherat ya?

Termasuk saya bisa jadi guru anda, yaitu guru ilmu ruqyah. Mengapa demikian? Sebab saya sudah menguasainya. Ketika saya mengajarkan ilmu ruqyah maka disebut dengan dakwah agama. Yaitu cabang ilmu thibbun nabawi. Dan ini juga bukan ilmu akherat akan tetapi ilmu akal. Yaitu ilmu yang bisa anda kuasai ketika belajar menggunakan akal anda.

Teman kita WA, " Pak saya ingin berguru. Buat dakwah tauhid". Maka dakwah ilmu tauhid disebut juga dengan dakwah agama. Hal ini ketika ilmunya didapatkan dari belajar kepada ustadz atau guru yang menguasai ilmu tauhid. Ketika murid muridnya ikut kuliah tauhid, kajian tauhid, baca kitab tauhid dll lalu lulus maka disebut dengan murid yang lulus sekolah tauhid. Sebab akalnya cerdas tentang ilmu tauhid ini sehingga bisa ceramah tauhid diberbagai tempat.

Tapi ingat bahwa ilmu Tauhid adalah bagian dari ilmu agama islam. Ilmu tauhid ini adalah ilmu akal atau ilmu agama bukan ilmu akherat. Tapi silahkan saja bagi anda yang meyakini ilmu tauhid, tafsir, ruqyah, fikih dll adalah ilmu akherat mangga mangga saja. Cuman nanti jadi ambigu. Mosok orang yang menguasai ilmu tauhid, fikih, tafsir dll pasti masuk surga. Bagaimana nasib petani, nelayan, buruh, pengemis, karyawan dll yang tidak menguasainya. Mosok mereka jadi penghuni neraka? Khan nggak adil.

Tapi yang sebenarnya ilmu diatas disebut dengan ilmu akal. Dalam hal ini disebut dengan ilmu agama. Karena ilmu akal adalah ilmu dunia maka ilmu agama boleh dijadikan sebagai profesi atau ladang mencari uang. Misalnya orang yang hapal Quran lalu ngajar tahfidz dan dibayar. Atau guru fikih lalu ngajar di sekolah lalu dapat gaji. Atau penceramah yang membagi ilmu agamanya lalu dapat amplop. Atau peruqyah yang meruqyah atau mengajarkan ilmu ruqyah lalu dapat infak dari pasiennya. Ini boleh boleh saja bahkan memang seharusnya demikian. Kalau tidak dapat gaji malah jadinya lucu.

"Lalu yang disebut ilmu akherat itu apa ust?". Yang dimaksud ilmu akherat bukanlah ilmu agama loh ya? Ilmu akherat adalah ilmu mengenal Tuhan atau Allah. Ketika kita mampu mengenal Allah maka hidup kita akan selamat dunia dan akherat. Dan yang mengajarkan ilmu ini pasti tidak menginginkan gaji atau dunia. Dalam bahasa lain gurunya tidak berharap apa apa kecuali muridnya bisa selamat dunia dan akherat.

"Siapakah yang disebut dengan guru akherat?". Karena ilmu akherat adalah jalan untuk mengenal Allah maka gurunya adalah siapa coba? Gurunya adalah Allah sendiri. Jika ada yang mengaku sebagai guru akherat maka sudah pasti ia dusta. Tidak ada mahluk sebagai guru akherat kecuali manusia yang menunjukkan jalan kepada guru akherat. Ini sebenarnya bahasa yang sederhana, tapi anda sulit memahaminya karena ketutup oleh nafsu.

Saya ulangi ya? Guru akherat adalah DIA yang mengajarkan ilmu atau jalan mengenal_Nya. Ketika seseorang mampu mengenal Allah maka selamatlah ia. Sehingga jadi lucu ketika anda mencari mahluk sebagai guru akherat. Sedangkan mahluk tersebut belum tentu sudah mengenal_Nya lalu selamat hidupnya. Misalnya ada seseorang yang bilang begini, "Ayoo kesini saya ajarkan ilmu akherat biar bisa kenal Tuhan lalu hidupmu selamat. Kalau kalian tidak mau ikut ilmu dan aliran saya maka kalian masuk neraka". Lalu bandingkan dengan kalam begini, "Ayoo manusia kenalilah AKU, niscaya hidupmu pasti aku selamatkan". Nah dari 2 statement diatas mana yang terasa adem dalam hatimu?

Maka jawabannya sudah pasti kalam yang ke 2. Itulah kalam Tuhan sebagai sebenar benarnya guru akheratku dan juga guru akheratmu. Sehngga kesimpulannya guru akherat bukanlah mahluk atau manusia akan tetapi Allah sendiri sebagai gurunya. Artinya ilmu akherat itu beda dengan ilmu akal/ dunia. Atau dalam bahasa lain ilmu agama bukanlah ilmu akherat. Sehingga ketika anda ingin belajar ilmu akherat maka letakkan akalmu.

Saya tahu bahwa paragraf diatas pasti akan disangkal oleh mereka para guru akal dalam hal ini guru agama. Paragraf diatas akan disangkal oleh guru tauhid, guru fikih, guru tahfidz, guru tafsir, guru ruqyah dan guru guru lainnya. Yaa nggak apa apa, karena memang seperti itulah venomenanya. Paragraf diatas hanya diamini oleh mereka yang hidupnya pernah dibanting banting sehingga pada satu titik mereka meletakkan akalnya. Setelah itu belajar langsung dengan Sang Pemilik Takdir. Belajar apa? Belajar mengenal Allah.

Artinya belajar ilmu akherat bukan menggunakan akalmu akan tetapi menggunakan hati yang ada dalam dada. Belajar ilmu akherat bukan menghapalkan tapi menyaksikan. Belajar ilmu akherat itu bukan menghapalkan hadits, Al Quran, belajar sholat, belajar sunnah dll akan tetapi dengan cara menghidupkan hati untuk menyaksikan cerita Tuhan. 

Ketika murid belajar ilmu akherat langsung bersama Tuhannya maka seringkali yang terjadi adalah suatu kejadian diluar akalnya. Dalam satu kisah bisa berupa adzab dan kisah lain bisa berupa mukjizat. Yaitu adzab dan mukjizat yang seringkali diluar logika. Namanya saja mukjizat sudah tentu tidak masuk akal. Kalau masuk akal bukan mukjizat namanya melainkan disebut dengan pengetahuan atau sains.

Ketika seseorang diuji dengan ujian yang tidak masuk akal maka sebenarnya pada saat itu Allah sedang memaksamu untuk belajar ilmu akherat. Misalnya ujian kena sihir yang menghhancurkan nyaris semua sendi kehidupanmu. Hancur jiwa raga lahir dan batin. Dan pesan ujian yang tidak masuk akal ini sebenarnya sangat jelas yaitu, "letakkan akalmu". Kurang lebih begini kata kata Tuhan, "Letakkan akalmu lalu simak dan saksikanlah AKU". 

Bagi anda yang masih mendewakan akal pasti akan lama belajarnya. Termasuk bagi anda yang mendewakan ilmumu, hapalanmu, gelar ustadzmu, ilmu tauhidmu, ilmu fikihmu, ilmu ruqyahmu dll pasti lama belajarnya. Dalam artian ketika anda masih menggenggam erat akalmu maka akan sulit bahkan mustahil menemukan solusi dan jalan keluar bagi ujianmu. Sehingga yang ada adalah penderitaan sebab tak kunjung menemukan jalan keluar.

Maka kemudian biasanya Allah mengambil satu persatu yang ada dalam akalmu. Tujuannya jelas supaya anda ikhlas untuk meletakkan akal untuk kemudian menjadi penyaksi atas perbuatan Tuhan. Misalnya ditinggal jamaah/ santrinya, diambil kebahagiaan rumah tangganya, disempitkan rezekinya, otaknya dibuat lupa dengan hapalannya dan lain sebagainya. Sehingga ketika akalmu sudah mentok dan tidak bisa menjadi solusi ujian lalu engkau bersedia meletakkannya. Maka setelah itu anda akan melihat mukjizat Tuhan.

Mukjizatnya seperti apa? Apakah tongkat menjadi ular? Atau ada malaikat turun dari langit? Atau laut terbelah? Jawabannya bukan itu. Ketika anda menerima ujian yang tidak masuk akal maka dilain waktu anda akan menyaksikan solusi dari ujian tersebut yang mana cara dan jalannya tidak masuk akal. karena semua terjadi tidak masuk akal maka disebut dengan mukjizat. Ketika semuanya terjadi tidak masuk akal maka pada saat itulah anda menerima kenyataan kalau yang melakukannya pasti bukan manusia. Yang melakukannya adalah Tuhan atau Allah. Dan saat itulah anda sudah mengenal guru akherat yang sebenar benarnya yaitu Allah sendiri. Ketika itulah anda pasti selamat dunia akherat.

Apakah ada manusia guru akherat? Apakah saya bisa menjadi guru akherat? Jawabannya tidak bisa. Manusia yang sudah mengenal Allah sifatnya hanya sebagai penujuk jalan saja. Sementara yang menjalani adalah dirimu sendiri. Sehingga jangan jadikan saya, mursyid atau mahluk lainnya sebagai guru akheratmu. Jangan pula menjadikan guru tauhid, guru fikih, guru ngaji dll sebagai guru akheratmu. Akan tetapi jadikanlah Allah sebagai sebenar benarnya guru.

Tapi kalau saya suatu saat jadi guru ruqyah boleh boleh saja. Anda bisa memanggil saya guru ruqyah misalnya. Seandainya saya mengajarkan ilmu ruqyah, atau menyediakan media ruqyah lalu pasang tarif itu juga boleh boleh saja dan seharusnya begitu. Sebab ilmu ini adalah ilmu akal. Atau ilmu yang didapatkan dari proses pembelajaran. Mungkin saja seorang penceramah tidak menyebutkan tarif, tapi jika sudah ceramah berjam jam tidak ada amplopnya khan kebangetan. Seakan akan ilmunya yang sudah dipelajari bertahun tahun nggak ada harganya sama sekali. Sama seperti peruqyah yang meruqyahmu sejam dua jam lalu anda tidak ngasih sesuatu ini juga kebangetan.

Namun ketika saya menunjukkan jalan menuju Tuhan maka saya tidak akan minta sepeserpun dari dirimu. Makanya di tulisan santapan rohani tidak ada iklannya sedikitpun. Sebab saya berharap anda yang membaca tulisan santapan rohani mau belajar dari Sang Guru akherat yaitu Allah sendiri. Caranya bagaimana? caranya letakkan akalmu dan saksikanlah DIA yang bercerita melalui diirmu. Ketika anda mengikuti cerita dengan meletakkan akalmu maka pada satu titik dirimu akan kenal dengan Sang Pemilik Cerita dunia akherat.

Demikian Camkan Bahwa Guru Akherat Tidak Sama dengan Guru Agama

Syukron

Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Camkan Bahwa Guru Akherat Tidak Sama dengan Guru Agama

Kita kadung meyakini bahwa guru ngaji, guru fikih, guru hadits dll adalah guru akherat. Padahal yang sebenarnya bukan. Camkan Bahwa Guru Akh...