Tingkatan Level Keimanan Akal Hati & Ruh, Anda Sampai Mana?

Keimanan itu ada 3 tingkatan. yaitu keimanan akal hati dan ruh. Mau tahu penjelasannya? Simak Tingkatan Level Keimanan Akal Hati & Ruh, Anda Sampai Mana?. Jangan lupa share ya?

 

SANTAPAN ROHANI, LEVEL IMANMU SUDAH SAMPAI MANA?

Pantesan kepalaku langsung sakit kemaren udah sembuh  plong,,gara2 tersulut emosi,,aku masih merasa aku tadz ,ternyata aku masih sangat LEMAH IMAN,,masih mudah terseret nafsu pancingan setan,,,benarsekali tulisan ustadz brsan di grop,,aku sangat lemah untuk menjadi baik😭

Jawab: Tingkatan iman itu ada 3. Yaitu:

1. Iman tingkat akal

2. Iman tingkat hati

3. Iman tingkat ruh

Kok ustadz bisa tahu seperti itu? Nah saya yakin banyak sahabat yang heran kok tulisan santapan rohani kayak enak dibaca dan anda tidak mampu untuk menolak kebenarannya. Mengapa demikian? Sebab tulisan santapan rohani itu saya tulis pada tingakatan iman di dimensi hati. Kalau iman didimensi hati pasti tidak ada perbedaan, semua akan sepakat. Lain halnya kalau tulisan diluar santapan rohani pasti banyak pro kontra. Sebab saya menulisnya menggunakan akal.

Ada sahabat yang WA, "Btw ustadz latar belakang profesinya dulu apa? Kuliah jurusan apa? Maaf kalau nanya ini ya tadz, krn sy lihat dari menulisnya mudah, ilmu agamanya bgs, dan IT jg OK, maaf tadz". Maka jawabannya saya juga tidak tahu. Wong tulisannya ngalir aja sesuai kondisi hati. Makanya kalau anda ingin menguasai ilmu yang didapatkan tanpa belajar, syaratnya imanmu harus sampai dihati. Sebab yang mengajarkan bukan mahluk, melainkan Allah sendiri.

Saya akan bahas singkat saja tentang level keimanan manusia. Mungkin penjelasan detail di artikel yang berbeda:

1. Iman tingkat akal

Iman di dimensi akal adalah mengenal Allah menggunakan akal. Misalnya meyakini adanya Tuhan karena ada alam semesta. Atau meyakini adanya Tuhan berdasarkan keterangan di kitab suci masing masing. Mereka meyakini Allah itu jauuuh dilangit sana, diatas arasy, diluar alam semesta bahkan ada yang bilang sedang disurga. Jadi seakan akan Allah sedang duduk dikursi raksasa mengawasi perbuatan mahluk ciptaan_Nya. 

Belajar matematika, fisika, psikologi, kedokteran dll menggunakan akal. Pun jika anda belajar fikih, sunnah, tafsir, belajar sholat, ngaji, zakat dll itu masih keimanan di dimensi akal. Makanya keimanan didimensi ini pasti banyak perbedaan sebab imannya masih menggunakan akal pikiran. Dan isi pikiran/ akal mansuia tidak ada satupun yang sama. Itulah sebabnya umat islam terbagi menjadi berpuluh puluh bahkan beratus ratus aliran, golongan, organisasi, madzab, manhaj, tarekat dll. Dan semua golongan merasa paling benar. Benar menurut pendapat dan penafsiran akalnya sendiri.

Dan mungkin anda setuju kalau iman mayoritas umat islam masih didimensi akalnya. Mungkin diatas 90 persen. Jika anda masih berkutat pada halal haram, boleh nggak boleh, riba nggak riba, bidah sunnah, pahala dosa dan semacamnya maka imanmu masih di dimensi akal. Salahkah? Ya nggak salah, emang dari sononya begitu. Kalau mayoritas iman umat islam sudah sampai ke hati nanti malaikat pada nganggur. Kha kasian mereka, hehehe

Bayangkan saat hari penghisaban para malaikat yang sangat cerdas akalnya pada nganggur. Sebab nggak ada yang bisa dihisab. Khan jadi lucu. Itulah hikmah adanya hari pengadilan dimana semua manusia akan diadili dengan pengadilan yang sangat adil. Silahkan anda berargumen dengan malaikat pencatat amal. Bawa saja sholatmu, sedekahmu, ngajimu, fikihmu, sunnahmu dan semuanya. Bawa juga masalahmu saat di dunia kena sihir. Nanti khan akan diadili oleh malaikat yang sempurna akalnya.

2. Iman tingkat hati

Kalau saya nggak mau adu argumen dengan malaikat, karena pasti kalah. Apalagi dosa sebesar dzarah akan dihitung, waah bisa amsyong dah. Karena saya orang biasa, ibadahnya kurang tapi perbuatan dosanya banyak. Kalau timbangan amal kebaikan saya lebih sedikit bisa masuk neraka dong gue.

Maknya dengan asbab musibah kena sihir ayuk saya dan anda belajar untuk beriman kepada Allah sampai didimensi hati atau qalbu. Dan memang untuk sampai ke langit qalbu biasanya harus dibanting banting dulu kesana kemari sampai mentok. Ketika sudah berada disudut ring barulah ia menyerah kepada takdir. Terserah takdir mau melakukan apa.

Nah artinya tingkatan iman di dimensi hati mau tidak mau harus menyerahkan akalnya kepada takdir. Bahasa lainnya harus menyerahkan akalnya kepada Allah. Akalnya jangan main, biarkan takdir yang main apa adanya. Ketika seseorang menyerahkan akalnya maka tidak akan protes dengan realitas takdir apapun. Sebab meyakini takdir itu adalah bagian dari cerita Allah. Mau kena sihir, mau rumah tangga hancur, ekonomi bangkrut, nama baik terinjak injak dll hatinya tidak protes. Qalbunya tetap lapang karena melihat itu semua perbuatan Allah.

Ia tidak menyalahkan orang yang nggak sholat, pelaku syirik, pelaku bidah, pendosa dan lain sebagainya. Dirinya tidak menyalahkan dukun, pelaku dzolim, pasangan, tetangga, kerabat dll. Sebab qalbunya meyakni semua itu juga cerita Allah. Ia tidak merasa paling tahu, paling alim, paling pintar, paling banyak ibadahnya, paling layak masuk surga dll. Sebab qalbunya meyakini yang pintar hanya DIA yang bercerita dibalik takdir. Termasuk yang memasukkan ke surga juga Allah bukan amalnya.

Dilevel atau tingkatan ini ia melihat Allah itu dekat bahkan sangat dekat. Sebab dibalik segala galanya ada Allah. Allah hadir bahkan dibalik satu atom digalaksi paling jauh sekalipun. Termasuk Allah hadir dalam musibah yang anda alami. Hatinya melihat Allah dibalik segala mahluk yang menjadi bagian dari musibahmu. Sehingga dengannya hatinya tidak melawan, memberontak lalu panas membara. Hatinya hanya menyaksikan perbuatan Allah dibalik cerita hidupmu lalu dengan itu lapang qalbunya.

Nah saat hari penghisaban nanti malaikat akan nganggur dan tidak menghisabmu. Sebab anda tidak merasa memiliki peran apa apa saat di dunia. Semua peran sudah diborong oleh Allah. Bahkan dirimu tidak merasa sudah berbuat baik, sudah ibadah, sudah sholat, sudah sedekah dll. "Bagaimana dengan sholatmu?". Kata malaikat. Lalu anda menjawab, "Saya tidak merasa sudah sholat kat". Bingung khan malaikat. Apalagi malaikat melihat hatimu bercahaya, langsung deh gemetar lalu ngacir.

3. Iman tingkat ruh

Saya mengajak diri sendiri dan anda semua untuk naik tingkat keimananmu. Paling tidak beriman didimensi qalbu. Yaitu qalbu yang menyaksikan semua adalah perbuatan Allah. Syukur syukur Allah memperjalankan kita kepada iman paripurna yaitu iman di langit ruh. Di dimensi ini sudah nggak ada siapa siapa termasuk dirimu sendiri. Sebab yang ada hanya Allah sendirian tanpa teman. bahasa arabnya ahad. Dalam bahasa lain dirimu lenyap. Termasuk alam semesta lenyap dalam pandangan hati. Yang ada hanya Yang Ahad. Inilah tauhid paripurna dan dalam artian yang sebenar benarnya.

Dan 3 tingkat keimanan diatas bukanlah teori atau tekstual tapi pengalaman real dilapangan. Bukan berarti anda membaca tulisan ini langsung dikategorikan imannya sampai langit ruh, nggak sama sekali. Akan tetapi tingkatan iman adalah proses perjalanan. Ada yang diperjalankan hanya sampai tingkatan akal, ada yang sampai tingakatn hati ada juga yang sampai tingkatan ruh.

Untuk sampai pada iman ditingkatan hati maka tembok akalnya harus diruntuhkan. Harus bin wajib. Dan hanya satu yang mampu meruntuhkan tembok akal yaitu takdir. Semua manusia sealim apapun, sehebat apapun, sefasih apapun tidak akan mampu membongkar tembok akalnya. Bahkan biasanya semakin alim seseorang maka tembok akalnya semakin tebal. Semakin tinggi ilmu agamanya baisanya membuat tembok akalnya semakin keras dan sulit dihancurkan. Karena sekali lagi yang bisa menghancurkan tembok akal adalah takdir. Atau lebih pasnya DIA yang ada dibalik takdir.

Anda yang kena musibah berat misalnya kena sihir adalah jalan untuk menghancurkan akalmu. Atau anda yang diberikan ujian yang tidak masuk akal adalah jalan untuk merobohkan tembok akalmu. Kapan anda bisa merobohkan tembok akal? Yaitu pada saat anda menyerah kepada takdir. Saat anda tidak menyalahkan siapapun mahluk yang ada dibalik takdir. Anda meletakkan akalmu lalu membiarkan takdir bercerita sesuka diri_Nya.

Kira kira bisa nggak? Jawabannaya sangat sulit bahkan nggak bisa. Yang membisakan hanya Allah. Buktinya sampai hari ini anda masih memendam kemarahan dan dendam khan? Anda masih menyalahkan dukun, pelaku dzolim, pasangan, kerabat dll. Bahkan anda berniat membawa masalah ini di pengadilan akherat. Artinya beriman dengan hati itu sangat tidak mudah. Adapun diluar sana yang sering ceramah tentang iman atau bicara tauhid hanyalah riak riak dipantai. Maaf jangan tersinggung yah?

Anda akan paham apa yang saya maksudkan ketika tembok akalmu sudah hancur. Kalau tembok akalmu belum hancur maka sampai kiamat nggak akan paham. Dalam bahasa lain anda akan mengerti saat ego dan akalmu diserahkan kepada Allah. Anda menyerahkan cerita kepada Allah dan sudah tidak mau bikin cerita sendiri. Anda sudah kapok membuat cerita sendiri sebab endingnya selalu melelahkan. Dan anda merasa sangat nyaman dan lapang ketika semua cerita diserahkan kepada DIA yang ada dibalik takdir.

Anda menikmati apapun takdir Allah. Ajaibnya ketika tembok akalmu sudah runtuh lalu membiarkan Allah bercerita, maka DIA akan mempertontonkan kepadamu bahwa DIA lah Tuhan yang sebenar benarnya. DIA akan menunjukkan kepadamu segala hal yang nggak masuk akal yang membuatmu terpesona. DIA akan membuat cerita yang memnbuatmu bahagia. Dan inilah yang disebut dengan surga yang kekal. Dikatakan kekal sebab dirimu tidak fokus kepada jalan ceritanya tapi fokus kepada DIA yang sedang bercerita.

Nah sekarang pilih mana? Apakah milih iman didimensi akal, atau iman didimensi qalbu? Atau bahkan mau berjalan dilangit ruh? Apapun pilihannya ada ditanganmu sendiri.

Demikian Tingkatan Level Keimanan Akal Hati & Ruh, Anda Sampai Mana?

Syukron

Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ciri Gangguan Jin Pecinta, Lovers, Mahabbah, Jin Nasab & Dampaknya

Setiap gangguan jin ada ciri dan tandanya. Termasuk dampak yang ditimbulkan. Simak penjelasan Ciri Gangguan Jin Pecinta, Lovers, Mahabbah, J...