Banyak yang menyangka bahwa belajar makrifat itu harus meninggalkan kesenangan dunia, meninggalkan anak istri dll. Benarkah? Nggak bener. Baca penjelasan Apakah Belajar Makrifat Harus Meninggalkan Kesenangan Dunia
SANTAPAN ROHANI, MAKRIFAT ITU BUKAN MENINGGALKAN KESENANGAN DUNIA TAPI DUNIANYA DIHANCURKAN
Kalau makrifat meninggalkan kesenangan dunia..anak istri mau di kasi makan apa...yg normal normal saja...lah
Jawab: Apa itu makrifat? Makrifat dari kata arofa yang artinya mengenal. Sehingga makrifat itu artinya kenal. Sedangkan makrifatullah artinya kenal dengan Allah. Apakah ada yang salah dengan kata ini?
Tidak ada yang salah dengan kata diatas. Yang salah adalah mereka membenci alias tidak mau mengenal Allah apapun dalihnya. Yang salah adalah mereka yang menggunakan kata ilmu makrifat untuk ilmu ilmu supranatural, tembus alam gaib dan semacamnya. Yang lebih parah adalah mereka yang nggak ngerti ilmu makrifat tapi seakan akan paling mengerti. Sudah b0d0h lalu memb0d0hi orang lain.
Sahabat diatas mengatakan bahwa ilmu makrifat itu meninggalkan kesenangan dunia, pergi hanya membawa satu pakaian lusuh, meninggalkan keluarganya dalam keadaan lapar. Maka saya yakin sahabat diatas nggak ngerti apa itu makrifat. Hanya ikut ikutan kata orang yang sama sama nggak ngerti. Sehingga nggak ngertinya berjamaah.
Memang benar ada sebagian orang yang belajar ilmu makrifat dengan meninggalkan kesenangan dunia. Apakah dengan itu berhasil mengenal Allah? Itu saya tidak tahu, terserah Allah. Meskipun sebagiannya malah jadi dukun. Sebab tembus alam gaib lalu kerja sama dengan jin yang nyamar jadi wali.
Makrifatullah adalah mengenal Allah. dan dari milyaran manusia yang ingin mengenal Allah hanya dipilih sedikiiit saja untuk mengenal_Nya. Dan itu bukan karena usahanya misalnya meninggalkan kesenangan dunia, dengan banyak amal ibadah dan lain sebagainya. Tapi karena Allah yang memilihnya.
Bayangkan seorang anak kecil yang tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Lalu sang anak mencari cari ayah ibunya diantara sekian milyar manusia. "Kamu ayahku? Kamu ibuku?". Maka semua orang akan mengatakan, "bukan". Mengapa demikian? Sebab mereka memang bukan ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya tidak perlu dicari cari dan tidak perlu berusaha mengenali. Sebab ayah dan ibumu akan memberitahukanmu seiiring waktu. Ntar kalau sudah usiamu 2 tahun mulai mengenal kedua orang tuamu.
Mengapa demikian? Sebab kedua orang tuamulah yang mengenalkan dirinya kepadamu. Kalau tiba tiba kamu mengatakan, "engkau ayah dan ibuku sebab aku sudah mengenalmu", ini khan lucu. Ini seakan akan anda lahir lebih dulu dari kedua orang tuamu sehingga bisa mengenal mereka. Atau sesaat setelah lahir langsung ngomong, "ahaa kamu orang tuaku". Ini khan k0ny0l. Ini nggak bener. Yang benar adalah kedua orang tuamu melahirkanmu lalu memperkenalkan diri mereka kepadamu.
Analogi ini sama dengan mengenal Allah atau makrifatullah. Saya mau bertanya, kamu dan alam semesta vs Allah duluan mana? Maka jawabannya Allah adalah yang awal dan yang akhir. Sehingga tidak ada satu mahlukpun yang bisa mengenal Allah kalau diri_Nya tidak memperkenalkan kepadamu. Allah lah yang memperkenalkan diri_Nya kepadamu sehingga engkau mampu mengenal_Nya.
Artinya dirimu mau berjuang seperti apapun untuk mengenal Allah tidak akan bisa. Apakah engkau meninggalkan kesenangan dunia, meninggalkan anak istri, jadi sufi, rajin amal ibadah, menerapkan ilmu agama, atau apapun. Apalagi engkau ingin mengenal Allah dengan belajar ilmu gaib berbaju ilmu hakikat, malahan semakin jauh tersesat. Camkan sekali lagi bahwa engkau hanya bisa mengenal Allah jika DIA berkenan memperkenalkan diri_Nya kepadamu.
DIA yang datang kepadamu. DIA yang setiap hari menghampirimu supaya dengan itu engkau mengenal_Nya. Bagaimana caranya Allah mendatangi hamba hamba_Nya? Dengan takdir. Yaitu takdir yang membuatmu berhenti mencari. Mengapa demikian? Sebab betapa dahsyat takdir_Nya yang membuatmu hanya bisa melongo terdiam.
Makanya ketika sahabat diatas berkata, ilmu makrifat itu mennggalkan dunia sehingga anak istrinya terabaikan maka pada kenyataannya jauh lebih berat dan lebih dahsyat dari itu. Bukan meninggalkan dunia akan tetapi duniamu akan dihancurkan. Bukan lagi mengabaikan anak istri tapi dalam banyak kasus rumah tangganya juga dihancurkan. Bukan lagi mengindar dari keramaian akan tetapi harga dirimu diinjak injak sehingga tiada seorangpun yang menemani.
Artinya dirinya tidak meninggalkan dunia tapi dunianya yang dihancurkan sehancur hancurnya oleh takdir. Dirinya juga tidak mau meninggalkan anak istri tapi rumah tangganya dihancurkan oleh takdir. Dirinya juga nggak mau ditinggal teman dan relasi akan tetapi kehormatannya dihancurkan oleh takdir. Dengan itulah asbab atau jalan mengenal Allah. Atau bahasa lain dengan itulah Allah memperkenalkan diri_Nya kepadamu.
Kira kira kalau seperti ini mau tidak kenal Allah? Maka saya jamin 100 persen tidak ada satu manusiapun yang mau. Makanya DIA hanya memperkenalkan diri_Nya kepada sedikit hamba yang dikehendaki_Nya. Dan yang sedikit inipun pada awalnya tidak mau mengenal Allah. Sebab jalannya sungguh sangat pedih. Atau kalimat yang lebih pas adalah, sedikit hamba yang dikehendaki_Nya tidak menyadari bahwa kehancuran hidupnya berasal dari diri_Nya.
Misalnya sahabat yang kena sihir dimana menjadi sebab hidupnya hancur sehancur hancurnya. Rumah tangga kandas, harta benda ludes, ekonomi morat marit, diri dan keluarganya digerogoti penyakit, nama baik dan kehormatan hancur dan lain sebagainya. Apakah sahabat yang kena sihir sadar bahwa ujiannya adalah cara Allah memperkenalkan diri_Nya? 100 persen pada awalnya tidak sadar termasuk saya. Atau kalau ditawari apakah sahabat mau kena musibah sihir yang sangat menghancurkan? Saya jamin 100 persen nggak ada yang mau.
Artinya semua manusia satupun tidak ada yang mau kenal dengan Allah. Dan dari semua manusia diuji dengan ujiannya masing masing. Lalu dari sekian milyard manusia dipilihlah sebagian hamba_Nya yang hidupnya dihancurkan sehancur hancurnya supaya dengan itu bisa mengenal_Nya. Dan dari sedikit hambanya yang diberikan ujian besar, dipilih lagi sedikiit yang benar benar mengenal_Nya. Kesimpulannya manusia yang benar benar mengenal Allah jumlahnya sangat sedikit sekali. Yang sangat sedikit sekali inilah yang disebut dengan wali atau kekasih Allah.
Lalu sebagian besar manusia gimana statusnya? Itu Allah yang tahu. Intinya adalah semua manusia sedang dalam perjalanan kembali kepada_Nya. Ada yang tersesat, ada yang baru berjalan satu langkah, ada yang seribu langkah dan ada yang sudah sampai. Dan yang sampai inilah yang sedikit itu.
Kembali ke pertanyaan apakah makrifat itu harus meninggalkan dunia? Maka jawabannya nggak bener. Yang bener adalah orang yang dikehendaki kenal dengan Allah dunianya akan dihancurkan sehancur hancurnya. Supaya apa? Supaya dunia dalam hatinya hancur. Artinya ketika dunianya dihancurkan maka pada awalnya hatinya akan ikut hancur. Mengapa demikian? Sebab selama ini hatinya hanya mengenal dunia tidak mengenal Allah.
Seiring waktu ketika hatinya tidak hancur lagi meskipun dunianya hancur maka inilah tanda dirinya sudah mengenal Allah dibalik takdir. Dalam bahasa lain inilah tanda Allah sudah mengenalkan diri_Nya kepadamu.
Apakah setelah itu ia akan meninggalkan dunia? Apakah setelah itu akan meninggalkan anak istri? Enggak. Orang yang sudah marifatullah atau mengenal Allah tetap kerja, tetap cari rezeki, tetap sholat, tetap ibadah, tetap kumpul dengan anak istri, tetap bersosialisasi dll. Inilah yang disebut dengan dunia. Akan tetapi dunianya tidak sampai masuk ke dalam hatinya. Mengapa demikian? Sebab dihatinya hanya ada Allah. Mau dunianya hancur seribu kali tidak akan membuat hatinya hancur lagi, sebab semuanya termasuk dirinya hanya fana. Yang kekal hanyalah wajah Allah semata mata.
Nah sekarang pertanyaannya apakah anda mau belajar ilmu makrifatullah? Apakah anda tetap mau meskipun suatu saat hidupmu dihancurkan oleh takdir?
Mau tidak mau maka saya, anda dan semua manusia tidak terkecuali sedang diberikan jalan untuk makrifat atau mengenal_Nya. Jalan itu disebut dengan takdir yang membawa ujian. Sebagian dibiarkan tersesat, sebagian lagi berjalan tertatih tatih, sebagiannya berlari dan sebagiannya ditarik langsung kepada_Nya.
Demikian Apakah Belajar Makrifat Harus Meninggalkan Kesenangan Dunia
Syukron

Tidak ada komentar:
Posting Komentar