Kajian Makrifat, Aku ini Sebenarnya Siapa?

Pernahkah anda bertanya tanya sebenarnya aku ini siapa? Siapakah aku? Kalau demikian berarti anda sedang diantarkan untuk bertemu dengan AKU. Yuk simak Kajian Makrifat, Aku ini Sebenarnya Siapa?

 

WHO AM I?

Dalam hidup ini kita sering disuruh untuk mengenali diri sendiri. Sebagian orang mencarinya lewat pencapaian. Sebagian lagi lewat penderitaan. Ada yang berusaha memaknai dirinya melalui masa lalu dan ada pula yang mencarinya lewat cermin cermin sosial, "siapa aku dimata orang, dimata keluarga dan dimata dunia?"

Namun itu semua belum hakikat. Itu baru sebatas kulit dari kulit. Hakikat bertemu diri bukan tentang menjadi seseorang melainkan tentang lenyapnya keakuan. Ia adalah jalan sunyi dimana satu persatu lapisan palsu runtuh, dan yang tersisa hanyalah Yang Meniadakan.

Who Am I? Siapa aku?

Pertanyaan ini bukan tentang identitas. Melainkan tentang asal, dari mana aku datang?. Siapa yang mengadakan aku? Dan mengapa seolah aku punya kuasa padahal hidup ini bukan ciptaanku? 

Ketika pertanyaan ini tumbuh dari rasa yang jujur, jiwa akan mulai gentar. Karna ia melihat semua yang selama ini disebut aku ternyata bukan aku. 

Pikiran datang dan pergi. Perasaan berubah setiap saat. Bahkan tubuh yang kita rawat dan kita banggakan sedang menuju fana, hancur, rusak perlahan lahan.

Lalu siapa aku?

Kalau kita jujur kita akan sadar bahwa yang disebut aku itu bukan satu, tapi berlapis lapis. Ada aku yang dilahirkan oleh nama. Ada aku yang dibentuk oleh cerita. Ada aku yang hidup dari derita. Dan aku yang merasa sebagai pusat segalanya.

Tetapi semua itu rapuh. Karena setiap lapisan itu akan rontok pada waktunya. Dan yang tersisa hanya satu pertanyaan yang tidak bisa didiamkan, "siapa yang menyaksikan semua ini?"

Diri sejati tidak pernah menyebut diri. Diri sejati tidak pernah berteriak "akulah aku". Ia diam, menyaksikan. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia ada tanpa merasa memiliki keberadaan. 

Ia seperti bayang bayang yang tidak berbayang. Seperti cermin yang tak menyimpan pantulan. Ia hidup tetapi bukan dengan hidupnya sendiri. Ia ada tapi keberadaannya adalah tajalli dari Yang Ada.

Inilah rahasia yang tak dikabarkan dunia. Pertemuan sejati dengan diri justru terjadi pada saat "aku" tidak ada lagi. Saat kehendak pribadi luluh dengan kehendakNya. Saat pengetahuan tak lagi penting, karena yang bicara bukan lagi lidah kita, tapi kehendakNya yang sedang menjelma dalam diam kita.

Bertemu diri sejati berarti menyaksikan bahwa yang hidup dalam diriku bukan aku. Tetapi DIA yang menghidupkan segala.

Setelah lelah mencari jiwa akan mengerti bahwa segala pencarian sebenarnya adalah pencarian akan Allah dalam diri. Bahwa tak pernah ada yang jauh, hanya saja tabir keakuan terlalu tebal.

Disaat tabir itu tersingkap engkau tidak akan berkata: Aku telah bertemu diriku. Tetapi dalam air mata dan sujudmu engkau hanya bisa berkata, "Tiada aku, hanya Engkau yaa Robb. Engkaulah yang mengenalkanku padaMu lewat lenyapnya aku yang palsu ini"

"Bukan aku yang menemukan, tetapi Engkau yang memperlihatkan.  Diri ini tak pernah memiliki apa apa, bahkan tak memiliki diri"

Sumber vt mas.h4t


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maafkan Orang Lain Karena Allah Kamu Pasti Dapat Surga

Mau dapat surga? Bentuknya solusi dari permasalah hidup, rumah tangga harmonis, rezeki lancar dll. Mau? kalau mau Maafkan Orang Lain Karena ...