Doa Berbusa Busa Tapi Tidak Terkabul? Baca Ini

Pasti anda sering bertanya tanya, kok doaku tidak terkabul ya? padahal sudah setiap hari berdoa. Nah baca artikel Doa Berbusa Busa Tapi Tidak Terkabul? Baca Ini.

 


DOA BERBUSA BUSA TAPI TIDAK TERKABUL? BACA INI

Sholat malem Alhamdulillah terus istikomah. Dhuha Istikomah. Tilawah Qur'an tiap malem Alhamdulillah udah berjalan. Rukiyag hampir setiap hari sore sama malam. Kenapa masih aja ya tad ...sangat melelahkan kaya doa kita itu nyangkut

Jawab: Yuk teman teman kita belajar bareng bareng tentang konsep doa. Baca dengan seksama supaya tidak salah paham.

Doa itu dari kata du'a artinya menyeru. Menyeru siapa? Bisa menyeru nafsu, menyeru ego atau menyeru Allah. Dalam artikel ini yang saya maksud doa adalah menyeru kepada Allah. Atau bahasa yang sehari hari kita pahami adalah meminta kepada Allah supaya hajat kita dikabulkan.

Berdoa adalah menyeru Allah, sementara ketika kita menyeru atau katakanlah meminta kepada Allah maka butuh yang namanya IMAN atau percaya kepada Allah. Sedangkan iman itu letaknya di hati. Artinya berdoa kepada Allah masuk kepada ranah qalbu atau akidah. Sebagaimana ikhlas, tauhid, sabar, syukur dll adalah ranah akidah yang letaknya dihati.

Silahkan berdoa dengan cara anda misalnya dengan asbab tahajud, sholat semalam suntuk dll. Tetapi mulailah kita belajar menurunkan definisi akidah diatas dari kepala menuju hati yang ada dalam dada. Dari pemahaman tekstual menuju kepada pemahaman iman. Dari menyuruh nyuruh menjadi membuka hati untuk menerima. Dan untuk mendapatkan pemahaman "iman" pasti kita akan dihadapkan pada proses proses dan dinamika yang berliku liku.

Sehingga bisa kita simpulkan DOA adalah sesuatu yang berkaitan dengan yang ada didalam yakni mentalitas. Sama seperti pembahasan akidah yang lain sasarannya adalah menempa mentalitas orang orang yang beriman. Artinya ketika ada orang yang memaksakan kehendak, pokoknya harus begini begitu, kalau tidak begini begitu sesat dan syirik. Ini sama sekali tidak akan bisa menempa mentalitas kecuali hanya memaksakan untuk menelan doktrin, apapun alasannya.

Mengapa demikian? Karena menempa mentalitas itu adalah menempa hati. Sedangkan hati adalah substansi yang paling jujur didalam menerima kebenaran. Yang namanya iklhas, sabar, tawakal dll dalam bingkai iman sama sekali tidak bisa dipaksakan. Rasa yakin (iman) itu tidak bisa dipaksakan. Itulah makna dari "tidak ada paksaan dalam memeluk islam". Dalam bahasa lain, "terserah elu, mau pasrah atau berontak, terserah elu"

Kalau kita kembali kepada konsep DOA maka yang menyeru lisan apa hati? Jawabannya adalah "Hati". Sedangkan lisan adalah manifestasi dari energi dalam hati. Ketika ada lintasan hati kemudian terucap oleh lisan sambil menengadahkan kedua tangan itulah yang disebut "kun". Hanya tinggal mengikuti proses saja maka pasti akan "fayakun".

Contoh kasus begini, anda kena sihir dan seiring proses anda yakin bahwa ujian sihir berasal dari Allah. Otomatis anda yakin bahwa kesembuhan juga dari Allah bukan dari mahluk. Lalu anda berdoa dengan mengucapkan, "Yaa Allah berikan kami kekuatan untuk melawan sihir ini". Kata kata ini berasal dari hati yang menjelma menjadi untaian bait bait doa.

Meskipun doanya sangat singkat tapi penuh energi karena berasal dari hati yang beriman kepada Allah. Lalu energi doa ini akan menggerakkanmu untuk berikhtiar. Kesimpulannya adalah, Doa itu energi dalam hati yang menjelma menjadi ucapan lalu menggerakkan tubuh kita untuk menjemput terkabulnya doa disebuah ruang dan waktu yang sudah ditentukan.

Yang biasanya salah paham adalah mendefiniskan doa hanya sebagai pemanis lisan. Sampai lelah berdzikir ribuan kali, baca ini dan itu, sholat semaleman yang disangkanya bisa menjadi asbab terkabulnya hajat. Atau membaca kalimat doa sesuai sunnah tidak berani sedikitpun untuk tajribah dengan sangkaan cara inilah yang paling mujarab. Mengangkat tangannya harus begini, teksnya wajib begitu dll. Bagi saya ini salah paham.

Bagi saya itu itu doa yang kering makna, sebab segala ucapannya tidak sampai ke hati, hanya sampai di kerongkongan saja. Untaian kalimat thoyyibah tapi berbungkus keinginan dunia yang disangkanya dipanjatkan kepada Allah padahal bingkainya nafsu. Yakni nafsu yang dipertuhankan untuk menyuruh nyuruh Allah mengabulkan keinginannya. Makanya ketika harapan tidak sesuai kenyataan lalu merasa lelah dan menyangka Allah tidak mendengar doa.

Sekali lagi saya sampaikan, doa itu adalah mentalitas yang berasal dari hati yang beriman kepada As Syafii atau yang Maha Menyembuhkan. Ketika hatimu yakin bahwa Allah Yang Menyembuhkan itu sudah lebih baik dari sekedar ucapan dzikir lisan ribuan kali, atau baca ayat ruqyah berjam jam tapi masih ada keraguan.

Ketika anda yakin dengan As Syafii maka seberat apapun ujian yang anda terima, anda akan jauh lebih tegar dan sabar didalam menghadapinya. Sakit tetap sakit, hancur tetap hancur tapi hati kecilmu mengatakan, "nanti juga akan normal kembali". 

Ketika anda diserang sihir tetap saja ngamuk ngamuk, tapi dengan segera anda sadar lalu membaca beberapa petikan ayat ruqyah yang membuatmu tenang kembali. Atau ketika anda beraktifitas tetap saja dihalangi dengan berbagai cara, namun anda terus berjuang dengan keyakinan, "aku berjuang bersama Allah". Maka percayalah cukup satu dua ayat ruqyah saja sudah mampu membangkitkan semangat anda menyala nyala lalu berjuang kembali sampai meraih kemenangan.

Inilah yang disebut dengan tarbiyah atau pendidikan langsung dari Allah. Artinya segala ujian segala musibah dll bukan sebuah keburukan tetapi pendidikan mentalitas orang yang beriman. Inilah jalan agar wajah imanmu tidak selalu menghadap mahluk tetapi mulai menghadap kepada Allah. Ketika arah wajah iman saya dan anda semua sudah menuju Allah inilah yang disebut dengan taubat atau kembali. Kembali ke fitrah... 

Ketika anda sudah berada pada ruang dan waktu "kesembuhan", maka anda akan dapat satu lagi bola bola keimanan. Iman anda makin tebel. Iman anda bahwa "Allah Maha Mengabulkan DOA", makin terhunjam kuat dalam dada. Inilah yang saya maksud dengan mentalitas orang orang yang beriman kepada Allah.

Iman anda yang makin tebal dan kuat sebagai modal atau bekal untuk menghadapi ujian selanjutnya. Sehingga ketika iman anda sempurna maka saat itulah tugasmu di dunia sudah selesai. Kalau sudah selesai kemana lagi? Pulang kampung ke alam keabadian.

Demikian semoga mencerahkan

Wallaahu A'lam

Pendekar Langit



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kena Sihir adalah Jalan Tol Menuju Sukses Skala Quantum

Kena sihir memang memang menghancurkanmu secara lahiriah. Tapi secara ruhaniah kena sihir satau santet justru jalan kesuksesan dunia akherat...