Kita sering mengatakan ini aku, ini tubuhku, ini uangku, ini rumahku dll. Padahal apa yang anda sebut itu sebenarnya tiada. Kok bisa? Yuk simak artikel Segala Sesuatu Tidak Ada, Yang Ada hanya Allah Sedirian
BUKAN AKU DAN DIA, TAPI DIA SENDIRIAN
Jadi bingung pak ustadz 🙏Cara pandang melihat Allah. Ap saya harus ke rumah dukun nya Tah pak ustadz untuk menghentikan nya lalu menyerah kan sejumblah uang
Jawab: Kalau bingung abaikan saja dulu. Semoga suatu saat bisa memahaminya. Ngapain juga ke rumah dukun menyerahkan sejumlah uang? Tidak ada kaitannya dengan cara pandang melihat Allah.
Melihat Allah itu tidak seperti melihat tulisan ini. Bukan melihat dengan 2 mata. Kalau kata melihat Allah membuatmu bingung maka ganti saja dengan "mengenal Allah"
Banyak orang yang berusaha mengenal Allah dengan ibadah sholat, puasa, ngaji dll. Yang lainnya dengan perantara ustadz/ guru. Atau melalui tarekat/ jalan/ manhaj/ madzab.. Ada juga orang yang mengenal Allah melalui perantara mursyid yang sudah makrifat.
Tapi diantara itu semua ada yang mengenal Allah lewat luka. Ia tidak mengenal Allah lewat ibadah, guru, manhaj, tarekat, mursyid dll tapi lewat penderitaan.
Inilah kisah "aku". Dan aku itu bisa saya, anda, mereka dan siapapun jua.
"Aku........."
Aku bukanlah ahli ibadah, bukan juga seseorang yang pintar ilmu dan hukum agama. Aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang pernah dilalaikan oleh dunia.
Aku tidak tahu apakah aku sudah mengenal Allah, sudah dekat dengan Allah, sudah menjadi kekasih Allah. Yang aku tahu aku merasakan DIA Ada.
Aku merasakan DIA. DIA yang sering disebut banyak orang dengan sebutan Allah. Aku merasakan DIA bukan melalui puja puji ibadah dan dzikir setiap malam, tapi lewat luka dan derita.
Aku pernah merasakan sakit dan perih sekali saat satu lapis pakaian duniaku dilepas. Belum sempat aku bernafas lagi lagi satu pakaianku dilepas kembali yang membuatku berteriak meronta ronta.
"Tuhaaan tolong aku. Sakit sekali yaa Allah. Hidupku dirampas orang dzalim ya Allah. Toloong aku". Aku berteriak minta tolong kepada nama yang sering ku lafadzkan saat sholat. Sebuah nama yang katanya maha penolong.
Tapi nyatanya nama itu diam. "Yaa Allah mengapa engkau tidak menolongku?". DIA diam. Lagi lagi DIA diam melihat duniaku dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Rumah tanggaku, anakku, bisnisku, relasiku, kerabatku dirampas. Bahkan diriku sendiri juga dirampas melalui penyakit yang tak kunjung sembuh.
Aku benar benar sendiri... Sendiri tanpa seorangpun menemani. Sepi, sunyi. Sendiri dalam penderitaan lahir dan batin.
Aku terus berontak karena merasa pedih saat pakaianku satu persatu dilepas. Pediiih sekali. Sampai akhirnya aku benar benar tljg.
Didalam kesendirian dan kesunyian aku menangis pilu. Namun sayup sayup aku mendengar suara tanpa bentuk, tanpa rupa, tanpa nada, "Kamu tidak sendiri".
Aku terkesiap karena paham bahwa memang saat dalam kesunyian aku tidak sendiri. Aku masih bersama nafas, bersama degup jantung. Dalam diriku sangat ramai dan sibuk. Aku benar benar bisa merasakannya bahwa aku sedang bersama Hidup.
Aku masih bersama nafas karena pada saat bernafas dalam kesunyian, itu bukanlah aku. Pada saat terdengar detak jantung dalam sepi, itu juga bukan aku. Nafas dan detak jantung terus bernyanyi menghibur hati yang luka.
Akhirnya aku menyadari bahwa tubuh ini bukan aku. Semakin ku longok ke dalam ternyata yang namanya "aku" itu tidak ada. Ini bukan nafasku karena saat aku tidur, ia tetap bernafas. Ini juga bukan jantungku sebab saat aku terlelap ia tetap berdetak.
Mereka (nafas dan jantung) adalah teman setia yang terabaikan saat aku memeluk dunia. Mereka tetap setia saat aku tersungkur dalam luka. Bahkan suara mereka lebih terdengar saat aku sendiri dalam kesunyian.
Aku bukan nafas, aku juga bukan jantung yang berdetak. kalau memang mereka adalah aku, tapi mengapa aku tidak bisa mengontrolnya? Kalau memang mereka milikku mengapa tetap berdetak saat aku terlelap?
Jika tubuhku saja bukan milikku apalagi yang lain? tapi mengapa ketika sesuatu yang bukan milikku dirampas aku merasa sakit? Mengapa saat pakaian dunia yang bukan milikku dilepas aku marah dan berontak? Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya. Ternyata selama ini aku merasa memiliki.
Aku baru sadar kalau ternyata aku tidak memiliki apapun termasuk tubuh ini. Bahkan sebenaarnya aku tidak memiliki "aku", alias aku itu tidak ada. Aku sadar dan sangat yakin kalau "aku" tiada justru saat berselimut luka.
Kalau aku tiada lalu siapa yang sebenarnya Ada? Yang ada adalah Yang Ada. Aku, mereka dan alam semesta hakikatnya tidak ada, karena yang ada adalah Yang Ada. Yang Ada itulah yang biasa disebut dengan nama Allah
Allah terdiri dari 4 huruf alim lam lam ha. Allah adalah DIA, lillah (dibuang alifnya) adalah milik DIA, lahu (dibuang lam awal) adalah untuk DIA, dan HU (dibuang lam akhir) adalah DIA DIA juga.
Aku, mereka dan alam semesta adalah milik DIA, untuk DIA dan DIA DIA juga. Laailaha illallah, segala sesuatu pada hakikatnya tidak ada, yang ada hanya Allah.
Aku makin tersentak ketika teringat kisah tragedi yang membawa luka. Aku baru sadar itu bukan ceritaku tetapi cerita DIA. Kalau semua cerita DIA mengapa aku harus terluka? Mengapa aku tidak mambiarkan saja DIA bercerita?
Ketika dukun datang membawa kehancuran aku tersenyum melihat DIA bersembunyi dibalik wajah dukun. Ketika pelaku dzolim datang aku tertawa melihat DIA bersembunyi dibalik pelaku dzolim.
Ketika hidupku hancur, semua milikku dirampas aku tersenyum seraya berkata, "Iya aku tahu aku memang tiada dan tidak punya apa apa, aku akan menanggalkan semuanya dengan ikhlas tanpa perlawanan". Inilah sujud paling indah yang pernah aku rasakan.
Ketika aku berhasil menemukan DIA yang bersembunyi didalam terang tiba tiba semua luka langsung sembuh total. Derita berganti bahagia karena kini aku mengerti DIA hanya ingin dikenali. Bukan aku yang mengenali DIA, tetapi DIA yang membuka tirai. Ketika tirai dibuka tidak ada lagi aku dan DIA yang ada hanya DIA Ahad.
Wallaahu A'lam
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar