Islam Itu Belajar Sabar Bukan Belajar Fikih atau Tafsir

Selama ini kita menganggap belajar fikih, tafsir dll adalah belajar islam. Padahal bukan. Dan tidak ada korelasi antara belajar fikih dengan islam apalagi masuk surga loh kok? SImak artikel Islam Itu Belajar Sabar Bukan Belajar Fikih atau Tafsir.

 

SAAT KENA MUSIBAH ANDA SEDANG BELAJAR ISLAM

Assalamualaikum,pak ustad setelah ikut akun ustad  .yang banyak pesan mencerahkan qalbu,makin kesini saya mulai mau belajar berdamai dengan takdir, atas semua peristiwa yang terjadi ,meskipun mungkin belum sepenuhnya ikhlas

Jawab: Waalaikumsalam.. Nah ketika anda belajar berdamai dengan takdir meskipun belum sepenuhnya ikhlas maka saya katakan bahwa "andalah yang sedang belajar islam". 

Mereka yang sedang berjuang untuk meredam hati yang bergejolak itulah mereka yang sedang belajar agama islam. Bukan mereka yang duduk dikursi dalam ruangan ber AC mendengarkan ceramah dari ustadz atau kyai, atau belajar baca tafsir Quran, belajar fikih, belajar hukum islam, belajar sunnah dll, bukan itu.

Terus gimana dong? Baca sampai selesai ya? Mohon maaf mungkin tulisan saya ini akan menyinggung dan memicu pro kontra. Tapi tidak apa apa. Siapa tahu dari sekian yang kontra ada satu atau 2 orang yang terbuka hatinya.

Sahabat yang dirahmati Allah. Selama ini kita keliru memahami agama islam. Yang selama ini kita anggap sebagai agama ternyata bukan agama. Kita menganggap belajar fikih, tafsir, hadits dll adalah belajar agama. Sehingga orang yang dalam ilmu ilmu diatas sangat dihormati lalu disebut dengan panggilan/ gelar ustadz, kyai, syeikh dan semacamnya. 

Lalu kita mengklasifikasi ilmu dunia misalnya ilmu fisika dan ilmu akherat misalnya ilmu fikih. Padahal keduanya bisa menjadi ilmu dunia atau bisa juga menjadi ilmu akherat. Parameternya adalah niat dan kebermanfaatan dari ilmu yang dipelajari.

Coba direnungkan dalam dalam, apa bedanya belajar fikih dengan belajar matematika? Apa bedanya belajar hadits dengan belajar biologi? Keduanya sama saja yaitu belajar sebuah bidang ilmu, bukan belajar agama. Apalagi belajar islam. Bagi saya itu jauh sekali.

Kalau anda belajar fikih lalu berubah menjadi kaku dan keras terhadap penafsiran golongan lain lalu bermusuhan apakah itu warna agama islam? Jika anda belajar tauhid lalu mengarahkan jari telunjuk mensyirikkan orang lain apakah itu islam?. Saat anda belajar hukum islam lalu dengannya memisahkan diri dari jamaah karena menganggap golongan lain adalah sesat apakah seperti ini ajaran islam? Cobalah direnungkan dengan hatimu yang jujur.

Kita berkaca di negeri sendiri sebagai sebuah negara dengan penduduk beragama islam terbesar di dunia tetapi warganya mudah sekali diadu domba oleh sebuah isu isu agama yang klasik banget. Katanya islam tapi mudah sekali marah marah. Apalagi bicara islam indonesia dalam skala nasional dimana banyak korupsi, tindak kejahatan, miras, pembnhn dll. Saya yakin anda juga sepakat bahwa wajah islam bukan seperti ini.

Lalu mana yang dikatakan sebagai belajar agama? Atau seperti apa belajar islam?

Sebelum saya jawab kita harus paham dulu definisi agama. Agama adalah ad diin, atau cara pandang atau prinsip hidup. Sedangkan islam adalah hati yang berserah. Jadi belajar agama islam adalah belajar berserah kepada segala ketentuan Allah sebagai bagian dari prinsip hidupnya. Atau dalam bahasa yang pasti anda pahami belajar agama islam adalah belajar tunduk kepada segala ketentuan Allah.

Dalam kata lain belajar agama adalah belajar menata hati/ akhlak. Belajar agama adalah tentang bagaimana caranya kita belajar sabar, belajar ikhlas, tidak mudah marah, tidak menyebar aib orang lain, rendah hati, berprasangka baik, bersyukur, empati, merangkul, dermawan dan lain sebagainya, itulah yang dimaksud dengan pelajaran agama.

Contoh kasus ketika kita dihina berusaha tidak marah, ketika kita kehilangan berjuang meredam kesedihan, ketika kita dikhianati berusaha untuk memaafkan. Atau ketika bekerja mengutamakan kejujuran, pelayanan dari hati, penuh empati dan lain sebagainya. Maka mereka mereka inilah yang REAL sedang belajar islam. 

Apalagi anda yang kena musibah berat dalam hal ini disantet orang lalu berjuang untuk mengendalikan diri, tidak dendam, meredam amarah, kekecewaan dll. Lalu berjuang sangaaaat keras untuk menerima takdir, berdamai dengan diri sendiri, memaafkan orang lain, ikhlas dengan kehilangan, ridho dengan kehancuran dimana semua dibingkai "karena Allah" maka merekalah yang REAL sedang belajar agama islam.

Lalu apa gunanya mondok di pesantren, belajar fikih, tauhid, tafsir dll? Itu semua adalah belajar ilmu, sama seperti belajar jadi montir. Belajar menjadi montir bukan berarti ia seorang montir. Dikatakan praktisi montir ketika sudah berkali kali bongkar pasang kendaraan bermotor. Dalam kata lain dikatakan sebagai montir jika ia sudah mempraktekkan ilmunya setiap hari sampai meresap.

Belajar hadits misalnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menjadi insan yang berakhlak muslim, bukan untuk mencari lawan debat. Belajar fikih bukan agar supaya kita dipanggil ustadz, ngisi ceramah lalu dapat amplop. Itu bukan belajar islam tapi belajar ilmu tentang islam sebagai sebuah profesi. Akan tetapi belajar fikih dimaksudkan supaya kita tahu cara beribadah sesuai petunjuk Nabi shollallaahu alaihi wasallam. Yaitu ibadah yang sampai ke qalbu sehingga menjadi asbab melahirkan akhlak yang terpuji.

Artinya belajar ilmu ilmu diatas adalah panduan untuk belajar agama islam dimana muaranya adalah menempa mentalitas. Sasarannya adalah apa yang ada didalam dada berupa kharakter. Yaitu kharakter/ mentalitas orang yang beriman kepada Allah.

Anyway kalau saya dan anda mau membuka hati selebar lebarnya sebenarnya sekarang ini sangat jarang orang yang mau belajar agama. Yang teramat sangat banyak adalah orang orang yang belajar fikih, hadits, tafsir dll lalu meyakini itu adalah belajar agama yang bisa mengantarkan mereka ke surga. Bagi saya anggapan ini adalah keliru.

Supaya tidak memancing debat kusir saya akhiri tulisan ini dengan sebuah kesimpulan yang makjleb. Coba jawab pertanyaan saya, agama itu produk (buatan) manusia atau Tuhan? Saya yakin 100% sepakat bahwa agama adalah produk Tuhan sebagai bagian dari pendidikan/ tarbiyah untuk memahami kehidupan.

Oleh karena itulah Allah memberikan ujian kepada seluruh manusia sebagai bagian dari tarbiyah tersebut. Supaya dengan ujian tersebut kita semua belajar agama agar kita selamat dunia dan akherat. 

Cuman sedikit yang mau benar benar mempelajarinya. Kalau tidak percaya coba saja lihat mereka yang diuji dengan kehilangan supaya mengikis rasa memiliki dalam hatinya. Akan tetapi mayoritas berontak dan marah marah terhadap takdir (kehilangan). Atau lihat saja mereka yang diuji dengan berbedaan supaya dengannya saling merangkul dan memahami. Tapi kenyataannya saling membenci, bermusuhan bahkan menabuh genderang perang. Lalu baik yang berontak maupun yang bermusuhan sama sama teriak sedang memperjuangkan agama islam. Ini khan lucu.

Makanya kemudian Allah memberikan musibah yang besar misalnya kena sihir kepada sebagian hambaNya yang membuat hidupnya hancur lebur. Sebenarnya musibah ini bukan sebuah adzab akan tetapi pendidikan agama langsung dari Tuhan. Supaya saya dan anda mau menjadi islam (berserah) kepadaNya sehingga melahirkan sifat atau akhlak yang terpuji.

Ketika kena sihir ekonominya hancur sebenarnya ini pelajaran agama islam langsung dari Allah supaya saya dan anda tidak menuhankan bisnis, pekerjaan dan ikhtiar. Saat anda dikhianati pasangan dan teman sebenarnya ini pendidikan agama islam supaya saya dan anda tidak mencintai mahluk dengan berlebihan.  Saat dijauhi kerabat, tetangga dan teman ini pendidikan agama supaya saya dan anda tidak bersandar kepada mahluk sehingga kecewa.

Sedangkan muaranya adalah mendidik hati untuk ikhlas, sabar, tangguh, tegar, syukur dll. Sehingga pada akhirnya akan memicu hati yang empati, peduli, merangkul, dermawan, tulus dll dimana bingkainya adalah bismillah, semua karena Allah. Inilah the real muslim.

Ketika anda sudah ada dimaqom ini, yakni maqom hati yang berserah sepenuhnya kepada Allah lalu melihat sendiri janji Allah adalah benar maka beritahu yang lain. Wabil khsusus beritahu mereka yang sedang diuji dengan musibah yang berat. Bukan dengan mencela orang lain yang berbeda pemahaman keislamannya dengan kita akan tetapi beritahu mereka untuk "bersabar". 

"Ikhlaslah sob, sabar sejenak. Sujudlah dalam sholat dengan penerimaan bukan pemberontakan. Karena ketika engkau sujud (ikhlas dan ridho) maka yakinlah Allah akan mengganti apa yang pergi dan hilang dengan pergantian yang lebih berharga dari dunia dan seisinya". Jika anda melakukannya ketahuilah saat itu anda sedang mengajak kepada "agama islam" yang sebenar benarnya.

Demkian dan maaf jika menyinggung, tapi maksud hati saya tidak hendak menyinggung siapapun juga. Hanya mencoba mengetuk hatimu yang selama ini terkunci.

Semoga mencerahkan, share ya?

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

14 Langkah Ruqyah Mandiri & Download Audio Ruqyah

Anda ingin belajar ruqyah mandiri? Simak artikel 14 Langkah Ruqyah Mandiri & Download Audio Ruqyah. Jangan lupa praktekkan, save dan sha...