Setiap orang ada ujiannya masing masing. Dan ujiannya orang ahli agama biasanya tentang kehormatan dan kemuliaan. Sebelumnya dimuliakan lalu direndahkan. Yuk simak Ini Dia Ujian Terbesar Para Kyai, Ustadz dan Ulama.
UJIAN TERBESAR BAGI PUBLIC FIGURE & TOKOH AGAMA
mohon maaf radz. sy pengen nyampein unek2 bahwa yg disebut kiyai besar pimpinan pondok besar kok marah ya hanya karna katanya di hina.terus merembet ke kiyai besar lain yg pernah di undang ke desaku .beliau juga ikut nangis2 kuliat di vtnya .aneh ya tadz sekelas kiyai besar sakit hati yg sangat mendalam apalg aku ini
Jawab: Sok atuh unek uneknya sampaiin aja. Kalau sekedar Kyai atau Ustadz yang marah ketika dihina itu unek unek biasa. Banyak kok yang unek uneknya vulgar misalnya menyangkut masalah r4njang. Dan saya sudah biasa dengan hal ini.
Iya nih lagi viral berita tentang penistaan tradisi pesantren yang dikupas oleh salah satu TV swasta lalu memancing reaksi yang beragam. Bahkan konon TV tersebut di demo seiring dengan proses hukum yang sedang diurus.
Hei... Kamu yang tidak suka dengan tradisi pesantren jangan seneng dulu. Roda terus berputar. Ada saatnya Ustadzmu juga akan dinista.
Saya tidak akan membahas masalah tradisi pesantren yang menurut sebagian kalangan terlalu berlebihan. Saya hanya ingin bercerita diri sendiri.
Dahulu saya tokoh masyarakat kecil kecilan dilingkungan. Tokoh masyarakat yang kaya, pinter dan berkharisma. Saya benar benar dihormati oleh warga. Para warga yang ketemu saya biasanya mendekat lalu salim, demikian pula anak anak.
Kalau dilingkungan bisnis lebih dihormati lagi. Saya punya komunitas bisnis dengan anggota ribuan orang diseluruh Indonesia. Setiap ada pertemuan nama saya selalu dielu elukan. Bahkan nyaris setiap hari ada saja orang jauh yang bertamu untuk berguru ilmu bisnis dan ilmu kehidupan lainnya.
Kesimpulannya saya dulu layaknya artis atau lebih tepatnya publik figure... Fakta dan realita kalau saya dahulu tokoh masyarakat yang dimuliakan, ketua organisasi yang dihormati, orang kaya yang dermawan, insan cerdas dan bijak yang dijadikan guru oleh orang lain. Ini fakta kebenaran loh ya? Bukan kaleng kaleng.
Memang beda dengan Kyai yang punya pesantren, atau ustadz yang punya jamaah. Tapi auranya sama yaitu banyak follower yang sangat menghormati dan memuliakanku. Kalau namaku dijelek jelekkan orang lain selalu ada yang membela. Mereka menjadi garda terdepan untuk membelaku mati matian.
Apakah saat itu saya tinggi hati? Enggaklah.. Saya selalu merendah kok. Bahkan mengutip banyak dalil tentang keutamaan rendah hati. Tapi ada satu yang tidak bisa dibohongi yaitu hati yang ada dalam dada. Saya tidak bisa bohong kalau saat itu bangga dan senang kalau dipuji, dihormati dan dimuliakan. Ketika ada yang menghinaku, lisan ini tidak membalas dengan kata kata kasar. Tetapi membalas dengan kata kata cerdas dan spiritual, meskipun nuansanya sama saja. Yaitu tidak terima direndahkan.
Mulut boleh saja manis, tapi hati berkobar kobar. Seakan akan mengatakan, "berani beraninya anak kemarin sore menghina seperti itu. Terhormat enggak, kaya enggak, punya jabatan enggak tapi berani beraninya mengkritik dan menyalahkan. Harusnya dia ngaca, anak bau ingusan sudah berani lancang".
Dan tahukah anda merasa diri terhormat dan mulia adalah kesalahan terbesar sepanjang masa. Merasa diri harus dihormati dan dimuliakan dan tersinggung kalau ada orang lain yang merendahkan adalah suntikan Iblis durjana. Percayalah jika anda terus begitu, tunggu saja takdir yang akan merendahkanmu serendah rendahnya.
Saya tidak sadar kalau ternyata dahulu kala telah merampas selendang Tuhan. Selendang kebesaran, kehormatan dan kemuliaan yang saya rampas. Selendang kesombongan Tuhan yang saya aku akui dan saya pakai dengan perasaan bangga. Lalu dengan kesombongan ini hidupku benar benar dibalik. Dari puncak gunung yang tinggi dihempaskan ke dalam lembah yang terdalam.
Jangan ditanya rasanya bagaimana.... Sekali lagi jangan ditanya rasanya bagaimana. Karena kepedihannya tidak akan pernah bisa dilukiskan dengan kata kata. Bayangkan sebelumnya saya orang yang dihormati dan dimuliakan lalu tiba tiba berubah menjadi pesakitan. Harga diri dan kehormatanku benar benar dinjak injak, lebih hina dari keset. Harga diriku benar benar sudah tidak ada nilainya sama sekali. Kehormatan dan harga diriku sudah m4ti.
Oleh karena itu camkan kata kataku ini wahai manusia yang merasa dirinya terhormat dan mulia. Ketika harga diri, kehormatan dan kemuliaanmu direndahkan berusahalah untuk menerima. Sulit memang tapi terimalah sesuatu yang pasti sangat menyakitkan hatimu. Ketahuilah itu semua sebenarnya obat hatimu yang merasa lebih tinggi dari orang lain.
Jangan sampai engkau marah dan berontak. Apalagi sampai menyusun kekuatan untuk menyerang balik. Jangan sampai duniamu dibalik balik karena engkau tidak sadar dengan kesombongan yang selama ini engkau pamerkan. Yaitu kesombongan karena sudah merampas selendang kebesaran, kehormatan dan kemuliaan Tuhan.
Karena ketika duniamu dibalik oleh takdir belum tentu engkau kuat menanggungnya. Karena ketika duniamu dibalik jangan tanya rasanya. Sungguh pedih seperti sakaratul maut.
Mengertilah bahwa ketika ada yang menghinamu sebenarnya itu teguran Allah. Supaya engkau sadar lalu bertaubat. Supaya engkau mengerti bahwa kebesaran, kehormatan dan kemuliaan yang selama ini engkau sandang hanya sekedar titipan.
Dan camkan juga bagi sahabat lain.. Mungkin hari ini para kyai yang jadi buah bibir, tetapi pada saatnya para ustadz publik figure, peruqyah papan atas, para gus, para habib akan dapat gilirannya. Oleh karena itu tidak usah ikut ikutan menghujat, menuduh, memvonis, menyudutkan dll. Doakan saja semoga Allah merahmati kita semua.
Sahabat yang kena sihir sehingga harga dirinya diinjak injak sedang dapat giliran. Dan camkan bahwa giliranmu pasti datang cepat atau lambat. Pasti akan datang teguran ketika ada sebiji kesombongan dalam hatimu. Ketika teguran itu datang sekali lagi jangan ditanya rasanya...
Adapun teguran kesombongan di dunia adalah tanda kasih sayang Allah. Oleh karena itu terimalah dan bersyukurlah. Sebab kalau sudah diakherat, "tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada kesombongan meskipun hanya sebesar biji sawi (baca hadits)".
Semoga mencerahkan, share ya?
Wallaahu A'lam
Pendekaar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar