Makna Bersandar dan Ikhlas Karena Allah yang Benar

Banyak sekali yang nggak paham tentang makna bersandar kepada Allah. Mereka tidak ngerti arti dari ikhlas karena Allah. Makanya ijinkan saya menjelaskannya ya? Simak artikel Makna Bersandar dan Ikhlas Karena Allah yang Benar.

 

SEMUA AKAN HAPPY ENDING JIKA "KARENA ALLAH"

....aku merasakan kadang lelah, kadang capek, tapi dibiarkan saja karena kita harus kuat demi keluarga

Jawab: Kalau malam hari biasanya saya menulis tema sentuhan qalbu. Tulisan yang seharusnya anda baca dibanding tulisan lainnya. 

Sahabat, kita sering mengatakan begini, "saya ikhlas melakukannya semata mata karena Allah". Atau, "saya hanya punya Allah tempat mengadu". Atau, "saya menerimanya karena Allah". Atau, "saya ikhlas saja, biarkan Allah yang membahas". Atau. "kalau tidak karena Allah, aku pasti membalasmu". Atau, "kamu jahat, aku akan menuntutmu dihadapan Allah nanti di akherat".

Kesannya bagus ucapannya. Bagus sih... Lanjutkan. Cuman seakan akan ada 3 entitas. Ada kamu yang didzalimi, ada musuhmu yang dzalim dan ada Allah yang menjadi hakim. Atau seakan akan ada kamu yang berada dipihak yang benar, ada musuhmu yang salah sesat dan kafir, dan ada Allah yang akan mengadzab musuhmu. Atau seakan akan ada kamu yang masuk surga, ada musuhmu yang masuk neraka dan ada Allah yang membelamu. Betul tidak?

Sekarang kita geser sedikit ke tema lain.. Yang menciptakan manusia dan segala mahluk siapa? Jawabannya Allah. Artinya Allah masih menciptakanmu sampai detik ini sebab sel selmu masih membelah, tubuhmu terus tumbuh, otakmu terus berkembang, hatimu terus mendewasa dll. Sehingga statemen Al Quran yang mengatakan bahwa Allah lebih dekat dari pada urat nadi jadi nyambung.

Artinya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Lihat Qaaf : 16).

Pertanyaan berikutnya yang memberikan ujian siapa? Jawabannya semua sepakat, "Allah". Artinya ketika kamu diuji dengan datangnya orang orang yang dzalim, njengkelin, bikin dongkol dll semua atas ijin Allah. Atau bahasa lainnya semua adalah skenario Allah. 

Tujuannya dari ujian apa? Tujuannya untuk meneguhkan mentalmu dan menyempurnakan iman dalam jiwamu. Artinya tujuan diberikan ujian bukan supaya orang lain dapat adzab, itu salah sambung namanya. Itu tipuan hawa nafsu. Tujuannya ya "kamu". Supaya kamu lebih sabar, lebih tenang, lebih dewasa dan lebih yakin kepada Allah. Sehingga nanti saat diakherat tidak kesasar, alias langsung berada dalam pelukanNya.

Saya ingat saat kecil sering ditamparin, bahkan digebukin emak pakai ranting pohon karena nakal. Sudah tahu sore hari masih main hujan hujanan. Meskipun dicubit, ditampar dan digebukin sama emak saya nerima aja. Mengapa saya diam dan menerima meskipun nangis nangis? Sebab yang melakukan adalah "emakku sendiri". 

Saat itu saya digeret sama emak ke kamar mandi, lalu dimandikan. Setelah itu digendong masuk rumah dan pakaikan baju celana. Setelah itu dibikinkan indomie dan disuapin. Setelah itu diajak kekamar dan dikelonin. Akhirnya saya tidur dalam pelukan emak. Damai sekali rasanya.

Analogi diatas semoga bisa memahamkan hatimu. Bahwa yang menamparmu, yang mencubitmu bahkan yang menggebugmu adalah Allah. Yang memberikan ujian dan atau musibah bertubi tubi adalah Allah. Sebab kamu nakal sih?

Mengapa jiwamu berontak ketika diberikan ujian? Mau tidak mau kita semua harus mengakui kalau kita belum mengenal Allah dengan benar. Kalau kenal pasti menerima meskipun pakai acara nangis nangis. Sama seperti pertanyaan, "mengapa saat dijewer emak kita nurut aja?". Sebab itu emakmu.

Ketika kamu belum mampu melihat Allah dibalik ujian maka dikasih lagi ujian yang lebih berat. Sampai akhirnya nafsumu yang liar menjadi jinak. Setelah jinak barulah ketahuan kalau selama ini yang njewer kamu adalah Allah. Setelah itu barulah anda menerima ujian dengan sabar. Mengapa anda mau menerima ujian berat? Karena yang ngasih ujian adalah "Allah" yang menciptakanmu, memeliharamu, kasih makan kamu dll.

Menerima ujian karena Allah inilah yang disebut dengan ikhlas... Inilah yang disebut dengan "aku hanya punya Allah" sebagaimana yang sering kamu katakan. 

Cuma sebelumnya kata katamu itu gombal mukio alias nggombal. Ucapannya, "aku menerima karena Allah" tapi alsinya nafsunya berontak berisi kemarahan, dendam dan kekecewaan. Setiap malam berdoa supaya musuhmu kena adzab. Artinya ucapanmu "karena Allah" sebenarnya jeritan nafsu yang dibungkus dengan kalimat agamis. Tapi lama lama saya dan anda akan paham kok. Setelah paham barulah anda nyadar kalau selama ini sudah membohongi diri sendiri.

Sekarang kita kembali kepada ujian. Misalnya anda kena sihir. Dalam lingkaran sihir ada dukun, jin, pelaku sihir, pasangan, anak, tetangga, kerabat, orang tua, relasi dll yang menjadi bagian dari kehancuran hidupmu. Pertanyaannya siapa yang menciptakan, memelihara, kasih makan dll kepada dukun, pelaku dll? Jawabannya Allah.

Siapa yang membuat dukun bisa melihat, mendengar, baca mantra, dll? Jawabannya Allah. Jangan sampai anda menjawab dukun punya kekuatan sendiri selain Allah ya? nanti bisa jadi syirik loh.

Pertanyaan berikutnya hanya mengulang, siapa yang memberikan ujian kepadamu? Jawabannya 100 persen menjawab Allah. Artinya dukun, jin, pelaku, pasangan, teman, kerabat dll siapa yang mendatangkannya kepadamu sebagai bagian dari ujian? Tentu saja jawabannya juga Allah. Sampai disini masih sepakat ya?

Nah sekarang kita masuk ke pembahasan yang lebih dalam... Simak baik baik.

Allah yang memberikan ujianmu yaitu dalam bentuk sihir. Allah lah yang mendatangkan dukun cs kepadamu. Kedatangan mereka menjadi sebab kehancuran hidupmu. Kalau anda memandang jauh ke lubuk hati sebenarnya siapa yang menghancurkanmu? Kalau anda jujur seharusnya menjawab "Allah". 

Versimu "hidupmu hancur karena dukun cs"., Tapi versi iman beda. Allah sedang mengambil sebagian titipanNya. Nggak ada urusan dengan kehancuran. Anda merasa hancur, menderita, sakit hati dll karena nafsu merasa memiliki. Padahal yang benar tidak ada sebesar dzarah milik kita di dunia ini. Semua milik Allah termasuk dirimu sendiri.

Apakah dengan itu pantas engkau mengucapkan, "Ya Allah adzablah orang dzalim itu dengan adzab yang pedih". Atau, "saya akan menuntutmu kelak diakherat di hadapan Allah". Kalau pandangan keimanan ucapan itu sebenarnya tidak pantas.

"Tapi khan mereka kafir syirik ustadz. Mereka khan dzolim dan pantas dapat adzab? Mengapa aku harus menerima kedzaliman mereka?". Ketahuilah ini semua ucapan hawa nafsu. Camkan bahwa saya dan anda tidak berhak mempertanyakan perbuatan Allah, tetapi kitalah yang akan ditanya. "Kita" bukan orang lain. Oleh karena itu fokusnya ada pada "aku" bukan orang lain. Apakah "aku" sudah bersabar, menerima, ikhlas, ridho dll. Adapun urusan dukun cs itu urusan Allah, jangan ikut campur. Camkan baik baik.

Karena itulah saya mengajak diri sendiri dan adna semua untuk lebih banyak muhasabah diri atau introspeksi. Longok hati masing masing apakah ada penerimaan atau pemberontakan? Apakah ada ketenangan atau kemarahan?. Sekali lagi longok lebih dalam.

"Bagaimana mungkin saya bisa menerima didzalimi seperti ini, bagaimana caranya?". Saya kasih tahu caranya simak ya? Caranya adalah pandang dengan hatimu bahwa dibalik dukun dan orang yang dzalim ada Allah yang menggerakkan. Mata kepala memang melihat wajah pelaku sihir yang menyebalkan, tapi mata hati memandang Allah dibalik mahluk dan dibalik segala galanya. Dengan cara ini niscaya pelan pelan engkau akan menerima lalu hatimu pelan pelan mulai tenang kembali.

Contoh kasus dalam sihir perceraian anda digeret kepada kenangan masa lalu yang sangat kelam dengan pasangan. Lalu dada anda bergemuruh penuh kebencian dan ingin ngamuk. Rasa rasanya ingin cerai. Maka lihatlah sekali lagi suamimu atau istrimu yang pernah melukaimu. Selama ini kamu menyangka yang melukaimu adalah mahluk padahal bukan.

Lihat lagi pasanganmu dengan kedua matamu. Nampak wajah yang selama ini berjuang untuk keluargamu. Lalu sihir merusak segala galanya. Rumah tangga dalam prahara dan tragedi bahkan bertahun tahun. Nggak ada ayem ayemnya. Mengapa nggak adem ayem? Sebab selama ini yang engkau lihat adalah mahluk. Oleh karena itu coba lihat dengan hatimu siapa yang memukulmu. 

Sekali lagi lihat dengan mata hatimu siapa yang menjewermu, memukulmu, menggebukmu? Kalau dalam kisah diatas yang melakukan adalah "emak". Kalau dalam kehidupanmu yang melakukan adalah "Allah". 

Maka ketika ingatanmu digeret setan untuk mengenang memori kelam masa lalu, maka lihatlah bahwa yang melukai dan menghancurkan hatimu adalah Allah. Mengapa hatimu dihancurkan? Supaya tidak ada tuhan tuhan selain Allah dalam hatimu. Supaya kamu tidak meyakini setan, jin dan pasangan memiliki kekuatan tanpa seijin Allah. 

Sekali lagi saat anda terbayang suamimu atau istrimu melakukan sesuatu yang membuatmu terluka maka lihat dengan mata hatimu dibalik suami atau istri ada Allah yang menggerakkan. Lihat lagi dengan relung hatimu yang terdalam sebenarnya yang melakukan demikian adalah "Allah". Ketika kamu marah kepada pasanganmu sebenarnya engkau sedang marah kepada Allah. Ketika kamu kecewa, benci, ingin cerai dll artinya engkau ingin menceraikan Allah.

Ingatlah engkau pernah ditampar oleh pasanganmu, tapi sebenarnya yang menamparmu adalah Allah. Ingat engkau terluka karena pengkhianatn pasanganmu, sebenarnya yang melakukannya adalah Allah. Ketika engkau kecewa sebenarnya engkau sedang kecewa kepada Allah. Ketika engkau menerima sebenarnya engkau sedang menerima Allah.

Maka lihatlah pasanganmu yang hari ini cukup lelah bekerja, atau lelah mengurus rumah tangga. Lalu katakan, "Ya Allah sekarang aku nggak marah lagi, nggak kecewa lagi, nggak mau cerai lagi. Aku menerimaMu". Setelah itu dekati pasangan dan peluklah. Secara lahiriah engkau memeluk pasanganmu, tetapi secara pandangan mata hati Allahlah yang sedang memelukmu. Maka percayalah rumah tanggamu akan lebih harmonis dari sebelumnya seiring dengan lancaranya segala urusan.

Lakukan hal yang sama ketika teringat dukunnya, jinnya, pelakunya, tetanggamu, anakmu, kerabatmu, orang tuamu, temanmu, relasimu dan semua yang menjadi asbab kehancuranmu. Terimalah mereka sebagaimana engkau menerima suamimu atau istrimu. Terimalah cubitan dan pukulan dari Allah. Itu bukan cubitan kemarahan tapi cubitan dari Yang Maha Penyayang.

"Tapi kalau dukun dan setan menyerang apakah kita harus diam ustadz?".

Diam juga nggak apa apa malah bagus. Diam menahan rasa sakit karena Allah. Diam menerima pukulan Allah. Maka ketahuilah ini yang disebut dengan, "aku melakukannya karena Allah". Percayalah rasanya sungguh syahdu. Justru dengan cahaya keimanan seperti ini yang memancar dalam qalbumu mampu membuat setan setan terbakar.

Atau anda bisa juga melakukan ruqyah mandiri juga boleh dan bagus. Membaca ayat ayat ruqyah yang dipahami dan dihayati maknanya. Kalau sebelumnya anda membaca ayat ayat ruqyah dengan niat membakar setan, tapi kali ini anda membaca ayat ruqyah untuk memperkuat iman dalam hatimu. Semakin kuat iman dalam hatimu semakin bercahaya qalbumu semakin membuat setan akan kepanasan lalu terbakar.

Terkait dengan pertanyaan sahabat "....aku merasakan kadang lelah, kadang capek, tapi dibiarkan saja karena kita harus kuat demi keluarga". Maka supaya tidak lelah dan capek anda harus kuat demi/ karena Allah. 

Sudah bagus anda mencoba kuat demi keluarga.. Meskipun suatu saat nanti bisa saja nggak kuat. Atau paling tidak anda merasa capek dan lelah selama bertahun tahun bahkan sampai akhir hayat. Oleh karena itu pelan pelan ganti ucapan, "aku harus kuat demi keluarga", menjadi "aku harus kuat karena Allah". Dengan begini niscaya capek dan lelah anda akan hilang.

Mengapa capeknya akan hilang? Sebab iman dalam hatimu meyakini semua yang terjadi adalah perbuatan Allah. Biarkan saja Allah yang berbuat dan mengurus semuanya, kita tiduran saja. Jika anda melakukannya maka percayalah meskipun ujiannya sebesar gunung semua akan baik baik saja. Percayalah semua akan happy ending. 

Mengapa semua akan baik baik saja dan happy ending? Karena anda sudah menyerahkan nafsumu kepada Kebesaran Tuhan. DIA lah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang akan membereskan semuanya.

Demikian semoga mencerahkan, share ya?

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Begini Cara Naik Ke Langit 7 dan Bertemu Allah

Hidup di dunia adalah start awal dalam perjalanan kembali ke asal. Dan asal kita adalah dari Allah maka akan kembali kepada_Nya. Simak artik...