Yang kita tahu para ustadz, kyai, alim ulama, habib, sarjana agama dll adalah orang yang paling islami dan paling pantas masuk surga. Padahal tidak demikian, semua berpeluang yang sama. Simak Miskin Lusuh & Awam Agama Bisa Lebih Islam Dibanding Ustadz Penceramah.
BURUH LUSUH BISA LEBIH ISLAM DARI USTADZ YANG SERING CERAMAH
Orang Islam itu: - Patuh - Tunduk - Menyerah - Tidak melawan - Tidak mengikuti keinginan pribadi fokusnya pada apa yg Alloh inginkan - Mematikan ego. Ketika sudah bisa seperti itu maka akan tumbuh keyakinan, rasa ta'zhim pengagungan kepada Alloh. Yg membuat tidak tenang/marah/sebel/dongkol/uring uringan/tidak nerima keadaan karena realitas tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
Jawab: Diatas adalah catatan dari sahabat yang dikirimkan ke saya. Dan josss itu, memang betul. Artinya sahabat kita diatas sudah paham tinggal prakteknya. Karena prakteknya ternyata tidak mudah.
Apa itu ISLAM?
Islam itu memiliki beberapa makna yaitu berserah, selamat, tenang, damai, sejahtera. Dan dari semua makna diatas sasarannya ada di hati yang ada dalam dada. Artinya islam itu ada didadamu, bukan dikepalamu. Ini harus benar benar dicamkan.
Yang berserah itu hatinya, yang damai itu hatinya dan yang selamat adalah hatinya. Sasarannya adalah kondisi perasaan dan keyakinan dalam hati bukan apapun yang ada di kepala. Sedangkan hapalan, kepinteran, kecerdasan dll ada di kepala. Artinya pinter ngaji tidak jaminan hatinya berserah (islam). Pinter ceramah tidak jaminan hatinya islam, pinter baca dalil tidak jaminan hatinya islam, bergelar sarjana agama juga tidak jaminan hatinya islam.
Bergelar ustadz tidak jaminan hatinya berserah (islam), pengarang kitab hadits tidak jaminan hatinya islam, berpakaian ala arab tidak jaminan hatinya islam, mengaku islam juga tidak jaminan hatinya islam. Tidak jaminan artinya bisa jadi hati mereka sudah berserah bisa jadi belum berserah.
Saya menulis demikian supaya saya dan anda tidak terjebak dan tertipu oleh penampakan lahiriah. Hanya karena sering ceramah, pakaiannya syarie, fasih mengutip dalil lalu anda beranggapan dialah islam yang sempurna. Berarti anda ketipu penampakan dzohir.
Menjadi muslim itu bukan karena KTPnya islam. Islam itu bukan stempel atau cap dari manusia lain akan tetapi stempel dari Allah. karena yang tahu isi hati apakah berserah atau belum hanya Allah. Tidak ada manusia yang tahu kecuali hanya sekedar menduga duga.
Tanda dan indikasi seseorang menjadi muslim adalah kondisi hatinya yang berserah, tenang, damai dan bahagia apapun yang terjadi. Ketika dikasih nikmat berserah, ketika dikasih ujian tetap berserah, ketika hidupnya hancur lebur tetap berserah. Orang yang seperti inilah yang disebut dengan muslim sejati apapun pekerjaan dan bagaimanapun level kecerdasannya.
Muslim itu adalah mereka yang hatinya terbuka melihat Allah dibalik segala galanya lalu berserah kepadaNya. Lawan kata hati yang terbuka adalah hati yang tertutup. Sehingga lawan katanya muslim adalah kafir. Karena makna kafir adalah ketutup. Sehingga orang yang hatinya tertutup tidak harus non muslim, atheis dll tetapi bisa juga orang yang KTPnya islam tapi selalu berontak terhadap ujian.
Apa tanda dan indikasi seseorang hatinya ketutup (kafir). Tandanya adalah saat diberikan nikmat mereka berfoya foya, saat dikasih ujian meronta ronta, saat hidupnya hancur penginnya mati saja. Hatinya gersang penuh penderitaan apapun keadaannya.
Artinya semua manusia bebas memilih apakah mau berserah atau berontak. Dalam bahasa lain semua manusia bisa menjadi muslim atau kafir, terserah masing masing. Itulah makna "tidak ada paksaan masuk agama islam". Karena berserah itu tidak bisa dipaksakan. Berserah adalah kondisi hati yang natural.
Sehingga semua manusia bisa menjadi muslim, tidak harus mereka yang ber KTP islam, pinter ceramah atau berpakaian islami. Apakah buruh, petani, orang gunung, orang kota, orang indonesia, orang amerika, orang arab, orang afrika dll bisa menjadi muslim. Petani lusuh yang nggak pinter ngaji tapi hatinya berserah bisa saja lebih muslim dari ustadz yang sering ngisi kajian tapi suka marah marah. Sekali lagi indikatornya adalah apa yang ada dalam hatinya.
Sehingga ada hadits yang bunyinya, "“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).
Terakhir saya mau mengutip sebuah hadits yang dishahihkan sebagian ulama dan didhaifkan ulama lain. Tapi secara makna mak jleb banget, bunyinya sbb: dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda, “Perbarui iman kalian”. “Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbarui iman kami?” tanya para sahabat. Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.”
Pertanyaannya iman itu sumbernya dimana? Sumber iman berasal dari hati. Sedangkan ucapan dan perbuatan adalah kenyataan atau ungkapan untuk melihat iman dalam hati. Untuk ngecas iman sesuai hadits diatas caranya bagaimana? Caranya hatimu sering mengucap "laailaaha ilallaah" setelah itu otomatis akan mengkondisikan hati untuk berserah diri.
Apakah hati bisa berucap? Tidak bisa. Yang bisa berucap adalah lisan dan pikiran. Sedangkan ucapan hati tidak berhuruf dan tidak bersuara. Ucapan hati dalam bentuk lintasan keyakinan (iman). Ucapan dalam hati dalam bentuk "paham" dalam diam. Dalam hal ini paham laailaaha illallah atau tidak ada tuhan selain Allah. Atau bahasa lainnya paham bahwa segala sesuatu tidak ada yang ada hanya Allah.
Contoh kasus, ketika gajian dari bos anda senang, lalu mulailah nafsu mengajak berfoya foya. Maka hatimu segera berucap (ingat) laailaaha illallah. Seakan akan saja ada bos yang ngasih rezeki tetapi hakikatnya tidak ada bos, yang ada hanya Allah. Sehingga anda mengingkari ajakan hawa nafsu lalu berserah dengan cara menggunakan rezeki dari Allah dengan sebaik baiknya.
Contoh lain, ketika anda dihina, disalahkan, disesat sesatkan orang lain hampir saja anda membalas. Seandainya anda langsung membalas maka sejatinya hatimu tertutup. Bahasa arabnya kafir. Akan tetapi segera hatimu berucap laailaaha ilallaah. Seakan akan saja ada yang menghinamu, tetapi hakikatnya tidak ada yang menghinamu melainkan Allah sedang mendidikmu untuk bersabar. Sehingga ketika anda dihina tidak buru buru membalas akan tetapi tetap mengkondisikan hatimu berserah dengan cara kalem. Meskipun klarifikasi tetap dengan tenang.
Contoh lain, ketika kena sihir yang menghancurkanmu maka pasti anda meronta ronta. Bagaimana tidak? Rumah tangga, ekonomi, relasi, kesehatan dll hancur lebur. Hari hari hatimu diliputi dengan kemarahan, dendam, kekecewaan, kesedihan dll. Lalu hatimu mengatakan, "ini gara gara dukun, jin dan pelaku sihir yang sangat dzalim. Demi Allah aku akan menuntut diakherat kelak".
Tapi setelah anda membaca artikel ini mulailah belajar hatimu berucap "laailaaha illallaah". Yaitu ucapan tanpa huruf dan tanpa suara. Ucapan keimanan, paham dalam diam. Setelah anda membaca tulisan ini, mulai belajar meyakini dalam hati bahwa, "bukan gara gara sihir hidupku hancur, sebab sihir tidak memiliki kekuatan apa apa". Ucapan hatimu mulai diganti dari "laailaha ila sihir menjadi laailaha ilallah".
Setelah itu hatimu mulai meyakini bahwa sihir yang menghancurkan adalah pendidikan iman langsung dari Allah. Hati mulai meyakini bahwa Allah sendiri yang menghancurkan tuhan tuhan lain dalam hatimu. Setelah itu hatimu mulai berserah, menerima kenyataan takdir. Saat itulah anda sedang berproses menjadi muslim.
Seiring dengan hati yang penuh kemarhan, kekecewaan, kesedihan dll mulai merasa tenang makin tenang dan makin tenang. Hati mulai merasa damai dan bahagia. Saat itulah hatimu sudah selamat dari kegelapan. Yaitu kegelapan dari iblis (sihir, jin, dukun dll) yang mengajakmu ke neraka. Selamat bahasa arabnya islam. Artinya saat itulah hatimu sudah berislam.
Demikian semoga mencerahkan, share ya?
Wallaahu A'lam
Klinik Pendekar Langit
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar