Ini yang Terjadi Setelah Sembuh dari Sihir yang Menghancurkan

Setelah sembuh apakah dukunnya tewas? Apakah pelakunya kena adzab? Ternyata tidak. Simak Ini yang Terjadi Setelah Sembuh dari Sihir yang Menghancurkan.

 

SANTAPAN ROHANI, APA YANG TERJADI SETELAH SEMBUH DARI SIHIR?

Ustad gmn sih dulu pengalaman ustad pas saat kena sihir berat hingga ustad sembuh total ...Apa seletah sihir nya hilang ustad banyak perubahan dan semua ancaman dan penyakin yg selama ini mengintai ikut lenyap jg ...Dan kita bisa ibadah sama allah dengan aman dan nyaman lg

Jawab: Ada beberapa pertanyaan yang mirip dengan pertanyaan diatas. Intinya adalah apakah ketika saya sudah sembuh hidup normal kembali seperti sedia kala. Lalu biasanya mereka kepo beberapa hal sbb:

1. Bagaimana nasib dukunnya

2. Apa yang terjadi pada pelakunya

3. Apakah setannya kadang masih menyerang

4. Apakah bisnis normal kembali

5. Apakah rumah tangga utuh kembali

6. Dll

Wabil khusus banyak sahabat yang selalu kepo dengan berita dukun dan pelakunya. Mereka ingin mendengar dukunnya m4ti kena serangan balik lalu pelaku sihirnya kena adzab. Sementara disisi lain bisnis normal bahkan menjadi kaya, punya jabatan, dihormati orang lain dan sebagainya.

Kalau secara lahiriah mungkin iya dalam beberapa kasus. Misalnya dukun dan pelakunya sakit sakitan bahkan meninggal dunia. Ini konsekwensi dari para setan yang dikirim banyak yang terbnh. Ketika setan setannya m4ti maka dukunnya otomatis juga akan sakit sakitan. Mengapa demikian? Sebab selama ini setan setannya menjadikan jiwa dukun sebagai rumahnya.

Artinya dalam jiwa dukun ada banyak penumpang. Atau dalam satu nyawa ada 2 jiwa yang saling mempengaruhi. Yaitu jiwa dukun dan jiwa setan setan. Ketika setan setannya sakit maka dukun ikut lemes. Ketika banyak setannya yang m4ti maka dukun bisa sek4rat.

Apakah kehidupan normal kembali? Secara lahiriah seharusnya iya. Rumah tangga harmonis kembali. kekerabatan tersambung lagi, bisa membangun usaha lagi, semangat muncul kembali, Kalau pertanyaannya apakah hidupnya kaya lagi? Tentu semua perlu proses, sebab harus membangun usaha dari nol lagi. Sebab usaha yang pernah dibangun hancur karena sihir.

Tapi kalau hanya itu tujuannya maka bagi saya ini hal yang biasa. Kena sihir lalu diruqyah, ruqyah mandiri kemudian sembuh dan normal seperti semua bagi saya ini tidak mendapatkan apa apa kecuali hanya lepas dari capek dan lelah yang satu menuju lelah lainnya. Mosok kena ujian yang bwweegitu berat melelahkan jiwa dan raga lalu tujuannya hanya ingin sembuh doang?

Artinya hikmah dibalik musibahnya nggak dapet. Susah payah anda memproses buah kelapa tapi nggak dapat minyaknya. Bagi saya ini sia sia karena hanya dapat lelahnya doang. Bayangkan saja nasib buah kelapa. Sudah dijatuhkan dari tempat yang tinggi, lalu dikelupas, lalu dipecah, lalu dicongkel d4ging/ buahnya, lalu diparut, lalu di jemur, lalu direbus, lalu diperas. Coba hitung berapa kepedihan yang dirasakan buah kelapa sebelum menjadi minyak?

Mosok anda hanya ingin sembuh doang, dan nggak mau minyak dari perasan takdir kehidupan? padahal minyak inilah sari pati yang harus anda dapatkan pada saat menjalani ujian yang sangat berat. 

Kalau di Indonesia analoginya minyak kelapa. Kalau di Arab ada minyak zaitun dimana proses pengolahannya hampir sama. Minyak inilah dahulu kala yang digunakan untuk menyalakan lampu ketika malam tiba. Lampu yang digunakan sebagai penerang kegelapan.

Cuma kalau dirimu diibaratkan kelapa atau zaitun maka minyak hasil perasan takdir kehidupan bukanlah minyak kelapa yang tumbuh di Indonesia atau dimanapun. Tidak tumbuh dibarat maupun ditimur. Tetapi meskipun begitu minyak ini sama sama mampu digunakan untuk menyalakan lampu menerangi kegelapan. Jika minyak zaitun untuk menyalakan lampu secara lahiriah, kalau minyak ujian digunakan untuk menyalakan lampu/ lentera qalbu. Inilah zaitun, minyak dari surga.

Coba sahabat yang kehidupannya sedang diperas peras renungkan surat At Tiin. Ayat 1 dimulai dengan, Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,". Ada apa sih dengan buah Tin dan Buah Zaitun? Maka saya melihta bahwa 2 buah ini dijadikan Allah sebagai permisalan saja. Sebab ayat selanjutnya menjelaskan permisalan tersebut.

"sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya," (QS At Tiin: 4-5)

Maka bayangkanlah saat sebelum diberikan musibah (sihir) hidup anda benar benar diangkat setinggi tingginya. Untuk kemudian dilemparkan serendah rendahnya. Apakah takdir yang seakan kj4m ini hanya main main atau ada pesan rahasia?

"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal sholeh). Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya. Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu? Bukankah Allah hakim yang paling adil?" (QS At Tiin: 6-8)

Maka cobalah flashback kepada kehidupanmu yang hancur karena sihir. Apakah dengan itu wajah imanmu tetap menghadap Allah lalu dengannya mengerjakan amal amal sholeh. Kalau kebanyakan orang menganggap amal sholeh adalah sholat, ngaji dll. Padahal makna sholeh berasal dari shollu, sholat, sholawat yang maknanya adalah connecting, terhubung atau menyatu. Yaitu amalan yang dilakukan dalam keadaan hati terhubung kepada Allah, itulah amal sholeh.

Artinya ketika kita cucoklogi dengan ayat 6 surat At tiin diatas adalah, apakah keadaanmu yang dilempar serendah redahnya engkau tetap menghadapkan wajah imanmu kepada Allah atau kepada mahluk? Apakah dengannya anda tidak melampiaskan kemarahan dan dendam dan memilih bersabar? Apakah engkau tetap berjuang untuk ikhlas dan ridho? Kalau iya artinya anda sudah melakukan amal yang sholeh (terhubung). 

Ketika anda berada di titik nadzir namun tetap berjuang menghadapkan wajah imanmu kepada Allah, maka anda saat itu sedang memeras minyak zaitun. Dan anda pasti akan mendapatkan minyaknya untuk digunakan menyalakan lentera hati yang sudah redup. Ketika lentera hatimu menyala maka blarrr terang benderanglah semua muanya. Bahasa Qurannya, "falahum ajrun ghoiru mamnuun".

"Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu?" (QS At Tiin: 7). 

Ketika lentera hatimu menyala maka kamu akan benar benar paham akan adanya hari pembalasan diakherat kelak. Sebab anda sudah melihat dengan mata kepala sendiri prototipenya. Anda paham tentang alam kubur, neraka dan surga dengan ainul yaqin bahkan haqqul. Sekali lagi karena anda sudah melihat dan merasakannya sendiri by pengalaman menjalani takdir kehidupan.

Yaitu ketika jiwamu terkubur dalam tanah yang bernama jasad, lalu ketika hidupmu dihancurkan anda tak mampu menjawab pertanyaan "man robbuka". Dengan itulah anda mencicipi neraka selama bertahun tahun disebabkan hatimu gelap (kafir) dari melihat Allah dibalik ujian. Yang dilihat selalu saja mahluk yang menyebabkan api (naar) dalam hatimu semakin berkobar kobar. Yaitu api dendam, kemarahan dan kekecewaan. Bagaimana rasanya neraka? Pedih khan?

Hingga pada akhirnya ketika hatimu mampu melihat Allah dibalik ujian maka pelan pelan api neraka mulai terasa dingin. Pelan pelan hatimu mulai lapang, tenang damai dan bahagia. Inilah bau bau surga yang sudah anda rasakan dengan haqqul yakin saat di dunia.

Ketika maqom saya dan anda sudah disini maka pertanyaan "apakah setelah sihir hancur, setan tidak berusaha menyerang lagi?" menjadi tidak relevan. Sebab pada saat itu kondisinya adalah, "mau diserang silahkan, nggak diserang juga monggo, terserah Allah saja". Ketika diserang iblis biasa saja, nggak diserang juga biasa saja. Mengapa bisa sedemikian? Karena dalam hatinya sudah tidak melihat mahluk lagi tetapi yang dilihat adalah Allah dibalik segala sesuatu.

Kalau kebanyakan orang membaca taawudz atau baca doa, atau baca ayat ruqyah khan tujuannya supaya setan terbakar, sihir hancur dll. Padahal ada loh ras iblis yang mana dibacakan doa berjam jam mereka malah ketawa tawa. Kalau sudah begitu anda pasti keder khan? Dan ketika maqom anda sudah disini, ketika anda baca taawudz mau setannya ngacir, kebakar atau mereka ketawa, jingkrak jingkrak sudah sabod0 teuing. Udah nggak ngefek. Teserah Allah saja.

Misalnya membaca, "Bismillahilladzi la yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa la fis sama'i wa huwas sami'ul 'alim." Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan di langit tidak akan membahayakan. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.". Ketika anda membaca doa ini tujuannya sudah bukan lagi supaya setannya lari terbirit birit, melainkan apa dan bagaimanapun serangan mereka silahkan saja sebab sudah nggak ngefek. Atau ngefek dikit seperti digigit semut yang lucu dan imut. Sehingga mau diserang silahkan, enggak juga silahkan dan semuanya terasa biasa saja.

Termasuk apakah dukunnya m4ti atau tidak, pelakunya sek4rat atau tidak sudah bukan menjadi tujuannya. Apakah seetlah itu hidupnya kaya atau tidak sudah bukan menjadi prioritasnya. Karna saat itu hatinya asyik dengan Allah. Makin hari makin asyik, terpesona dan kagum dengan diriNya. Allah saja yang dilihat, dibalik segala persitiwa, segala cerita dan segala sesuatu.

Tapi kalau maqom kita belum disini pasti akan kebingungan lalu mengatakan saya halu, lebay. sesat dan semacamnya. Oleh karena itulah saya mengajakmu untuk sampai disini. Caranya dengan menahan diri untuk melampiaskan kemarahan karena Allah. Saat dendam dengan pelaku dzolim dinetralkan dendamnya karena Allah. Saat mau cekcok dengan pasangan diurungkan karena Allah, saat mau ngamuk dikendalikan karena Allah. Maka ketahuilah perjuanganmu yang seperti inilah yang akan menghasilkan tetes demi tetes minyak zaitun, minyak dari surga.

Semakin lama minyak zaitun tersebut akan mampu membersihkan dan menyalakan lentera dalam qalbumu yang sebelumnya penuh debu. Yaitu qalbu yang bercahaya yang berasal dari nuur Allah. Cahaya atau nuur Allah inilah yang anda pantulkan dari jiwamu, memancar keluar menerangi semesta alam. Cahaya yang keluar dari hatimu akan menerangi mereka yang sedang dalam kegelapan. Anda mampu memantulkan cahaya Allah berkat minyak zaitun yang menyalakan kaca dalam lentera hati. Yaitu minyak yang dihasilkan dari perasan takdir kehidupan.

Inilah cahaya Allah. Nuurullah. Cahaya yang bertingkat tingkat, berlapis lapis. Cahaya diatas cahaya.

Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang (miskat) yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nuur: 35)

Wallaahu A'lam

Klinik Pendekar Langit 

Sumber ayat https://tafsirweb.com/ dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Cara Belajar Ilmu Makrifat?

AKhir akhir ini banyak yang membahas tentang ilmu makrifat. Apa sebenarnya ilmu makrifat? Apakah belajar ilmu ini bisa jadi sakti? SImak Bag...