Kitab Saya Buang, Sebab 30 Tahun Belajar Islam Nggak Ada Gunanya

Labih dari 30 tahun saya belajar agama dan syariat islam. Selama itu saya merasa sudah berada di jalan yang benar? Ternyata tidak, saya salah. Simak Kitab Saya Buang, Sebab 30 Tahun Belajar Islam Nggak Ada Gunanya.

 

LEBIH 30 TAHUN BELAJAR AGAMA TERNYATA NGGAK ADA GUNANYA

Biasa itu ustadz. Karena kan memang paham dalam Islam itu banyak ustadz.... Dari ormasnya dan madzhabnya. Maaf kalau ustadz madzhab yg mna

Jawab: Kita tidak membahas dialog antar umat beragama. Tapi antar umat seagama alias umat islam saja yang sulit sekali akur. Kita tahu bahwa umat islam secara syariat sama tidak ada perbedaan. Tetapi kalau membahas penafsiran akan ada banyak paham. Berbedaan inilah yang memicu perdebatan tiada akhir. 

Dahulu saya suka debat dan adu argumen. Karena saat itu saya merasa cukup mumpuni ilmunya. Hapalan saya banyak. Mau debat sama siapa ayok aja.

Namun seiring bertambahnya umur makin lama makin mengurangi aktifitas debat keagamaan, sampai pada satu titik saya muak melihat mereka mereka yang berdebat. Karena yang saya lihat perdebatannya bukan membahas masalah yang prinsipal melainkan seputar urusan khilafiyah yang menguras energi.

Pada akhirnya ujung dari perdebatan sengit tersebut bermuara pada, "aku yang benar dan kamu yang salah". Sehingga bukan lagi kebenaran dan rendah hati yang dijunjung tinggi melainkan "aku" alias ego atau hawa nafsu. "Aku dengan pemahamanku yang benar dan kamu dengan pemahamanmu yang salah, sesat, bid'ah, syirik dan semacamnya", inilah yang selalu saja dipaksakan dalam sebuah debat.

Saking memaksakan kebenaran menurut versinya sendiri sampai sampai otonya keluar semua. Dengan dada yang bergemuruh berisi kemarahan berusaha keras untuk memaksakan kebenaran versi masing masing. Saya tahu betul tentang ini, khan saya dulu tukang debat.. Kalau liat musuh debat kita terkapar nggak mampu lagi membawa dalil, puasnya nggak ketulungan. Bukankah ini nyata nyata nafsu?. Hawa nafsu berbalut agama dan kebenaran.

Pada akhirnya debat tidak akan menjadi solusi kebaikan umat justru sebaliknya. Yakni memicu kebencian, perpecahan dan permusuhan. Sehingga cita cita mempersatukan umat hanyalah mimpi disiang bolong. 

Saat ini saya melihat debat antar aliran, golongan, manhaj, tarekat, madzab dll semua sama. Yaitu hanya nambah musuh, makanya saya muak melihatnya. Ditambah saya melihat perdebatan mereka adalah membahas sesuatu yang sangat remeh temeh. Bukan substansi dalam beragama yaitu menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat untuk sesama dan semesta alam.

Singkat cerita dahulu tahun 90an saya sudah mulai ngaji. Saat itu saya ngaji di pondok NU. Pondok kecil kecilan. Saya ngajinya pindah pindah. Ada (mungkin) puluhan kitab saya khatamkan. Lalu mulai tahun 2000an saya merantau ke semarang. Di kota ini saya ikut beberapa aliran, yaitu HTI dan salafi. Sekitar 5 tahun saya ikut manhaj ini sehingga menjadikanku militan. Sampai sampai temanku ceramah di angkot angkot.

Tahun 2010an saya merapat ke muhammadiyah. Bukan menjadi pengurus hanya merapat dan sering ikut kajian mereka. Sebab masjid di dekat rumah saya adalah masjid muhammadiyah. Tahun 2014an saya ikut komunitas pengusaha muslim, mulai dari Aa Gym, UYM, Ary Ginanjar dll saya ikuti. Dari sinilah skill bisnis saya terasah dan sempat merasakan menjadi pebisnis sukses.

Mulai tahun 2017an saya ikut jamaah tabligh. Saya beberapa kali ikut tabligh di masjid 3 hari 3 malam. Kalau yang 40 hari 40 malam saya belum pernah ikutan. 

Kemudian singkat cerita saya kena sihir/ santet yang membuat semua aktifitas keagamaan, bisnis dan sosial mandeg. Ujian sihir benar benar menghancurkan nyaris segala galanya. Dan tahukah anda pengalaman saya lebih dari 30 tahun malang melintang di organisasi/ aliran keagamaan sama sekali tidak bisa menjadi solusi? 

Ngaji di NU, salafi, HTI, muhammadiyah, pengusaha muslim, jamaah tabligh dll tidak bisa menjadi solusi saat kami terkena musibah. Seharusnya khan saya bisa sabar ketika dapat ujian, sebab ilmu saya cukup luas. Saya hapal dalil tentang tauhid, kesabaran, keikhlasan dll. Nyatanya bertahun tahun hidup saya dipenuhi dengan kemarahan, dendam, kekecewaan, kesedihan, ketakutan dll. 

Nggak guna... Ngaji saya selama ini nggak guna... Saat saya baca dalil dalil saat terkena musibah semua nggak guna. Sebab semua hapalan itu tidak mampu meredam hati yang berontak dan bergejolak. Maka mulai saat itu saya membuang semua buku dan kitab yang saya kumpulkan selama ini. Ada ribuan buku dan kitab yang nilainya berpuluh puluh juta saat itu saya bagikan gratis kepada netizen.

Termasuk keyakinan keyakinan lama yang saya pegang erat selama ini saya buang. Sebab saya sangat kecewa ternyata perjuangan, jihad dan dakwah agama selama ini nggak ada gunanya. Buat apa mempertahankan sesuatu yang tidak bisa menjadi solusi kehidupan? Jika saya tetap mempertahankannya artinya sebuah kebodohan yang nyata.

Saat itu saya lebih memilih, "ngaji urip" atau mengaji kehidupan saja. Ngaji urip dengan segala drama, dinamika dan kisah yang mengharu biru. Ngaji agama lewat kesedihan dan air mata yang tiada hentinya. Bertahun tahun saya melakukan pencarian.. Yaitu ada pesan apa dibalik musibah yang menimpaku? Ada apa dibalik air mata yang tiada berhenti mengalir? Ada apa dibalik segala kehilangan dan kehancuran? 

Lebih dari 30 tahun saya ngaji kitab sehingga saking banyaknya kitab yang saya miliki dijuluki ahli kitab, tapi saat kena musibah tidak bisa menjadi solusi. Sementara kurang dari 5 tahun saya ngaji urip justru bisa menjadi solusi. Kurang dari 5 tahun saya ngaji berteman dengan penderitaan dan air mata, justru mendapatkan jawaban yang sangat meyakinkan.

Justru saat itu saya menemukan hampir semua jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang selama ini menggelayut. Yaitu untuk apa aku hidup? Mengapa aku diberikan ujian? Saya jadi paham apa itu iman, islam, tauhid, hijrah, taubat, takdir, ikhlas, ridho, iblis, jin, malaikat, kafir, syirik, bid'ah, kiamat, surga, neraka dan istilah istilah keagamaan lainnya. Ternyata makna makna ini jauh berbeda dengan apa yang saya pahami sebelumnya. 

Saya dahulu gemar sekali kalau berdebat dengan tema akidah, tauhid dan kesyirikan. Apalagi saat merantau disemarang dimana setiap minggu mengadakan halaqoh beberapa kali. Ternyata pemahaman saya saat itu salah. Saya baru sadar kalau saat itu salah tapi merasa benar. Sebagaimana saat ini dilakukan oleh banyak orang yang berdebat lalu merasa dirinya paling benar. Anda sama seperti saya dahulu. Keliru tapi merasa berdakwah kebenaran.

Makanya saya muak ketika melihat perdebatan tentang tema diatas. Karena pasti debat kusir yang tidak akan pernah menjadi penyelesaian masalah. Yang ada malah marah marah lalu nambah musuh.

Tapi.... Tapi pada akhirnya saya sadar inilah proses. Prosesku dan prosesmu. Saya meyakini anda yang suka debat dan merasa paling benar sendiri akan berproses. Suatu saat engkau akan mengerti bahwa kebenaran yang kamu pegang saat ini pasti akan engkau lepaskan. Suatu saat engkau akan paham bahwa perjuangan dan dakwahmu menyampaikan kebenaran menurut versimu ternyata semua nggak ada gunanya.. 

Yaitu pada saat dirimu mendapatkan giliran diuji. Bukan ujian abal abal tapi ujian yang ugal ugalan. 

Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.  (QS Al Ankabur: 2-3)

Suatu saat engkau pasti akan diuji. Pada saat itulah engkau akan sama seperti saya bahwa ucapan beriman itu ternyata tidak cukup. Harus dibuktikan dengan nyata, saat engkau dalam lumpur ujian. Dan pada saatnya engkau juga sama seperti saya yaitu membuang ilmu yang selama ini engkau pelajari, lalu lebih memilih belajar kehidupan atau ngaji urip. Siapa gurunya? Karena anda sedang ngaji kehidupan maka gurunya bukan manusia akan tetapi DIA Yang Maha Hidup.

Dan ketika engkau sudah lulus di gembleng oleh univesitas kehidupan maka engkau akan sama seperti saya. Yaitu menganggap mereka yang suka debat layaknya seperti anak anak yang berebut mainan. Dan engkau juga akan sama seperti saya yaitu mengatakan, "suatu saat mereka akan paham"

"Maaf kalau ustadz madzhab yg mna?". Apa madzab, aliran, manhaj, tarekat atau jalan yang saya ikuti sekarang? Kalau secara lahiriah semua madzab sudah pernah saya ikuti. Secara lahiriah saya bunglon aja. Saat bersama orang NU saya jadi NU, saat ngaji sama salafi, saya jadi salafi, saat dialog dengan muhammadiyah saya jadi muhammadiyah.

Tapi.. Kalau manhaj/ jalan hati semua manusia sama. Jangan bawa bawa madzab ketika sudah masuk ke hati, nanti kamu tersesat nggak tahu jalan pulang. Sebab tarekat, madzab atau jalan hati adalah mudik ke kampung halaman, kembali kepada Allah. Madzab hati adalah berserah kepada Allah apapun kehendak dan keputusanNya, bahasa arabnya innaddiina 'indallaahil islam...

Sehingga pada akhirnya madzab saya dan kita semua adalah, "innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun", kembali mudik kepada Allah.

Syukron

Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

13 Rekomendasi Peruqyah Syarie Seluruh Indonesia

Anda mau diruqyah onlien maupun offline? Coba hubungi salah satu nomor peruqyah ini. Berikut ini 13 Rekomendasi Peruqyah Syarie Seluruh Indo...