Semua orang ingin hidupnya bahagia. Banyak yang rela mengeluarkan berjuta juta untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun nggak bahagia juga. Oleh karena itu anda wajib baca tulisan ini ya? Begini Cara Jalani Hidup Ringan Meskipun Banyak Cobaan
SANTAPAN ROHANI, SETELAH MELANGLANG BUANA AKHIRNYA PAHAMNYA DISINI
Saya memang belum mengijinkan sahabat untuk datang ke rumah saya dengan tujuan ruqyah. Karena saat ini saya libur, tidak praktek ruqyah dirumah. Ketika klinik ruqyah pendekar langit sudah buka baru anda boleh datang. Bahkan harus datang meskipun luar pulau bahkan luar negeri. Biar kita bisa dialog kemudian bareng bareng menemukan langkah langkah kesembuhan.
Meskipun saya melarang tetap saja ada beberapa sahabat yang datang ke rumah saya. Misalnya saat sebelum puasa saya kedatangan tamu Mas Angga dari jakarta. Beliau sudah punya KPS atau kitab penghancur sihir. Konon kata beliau saat menerima KPS sampai muntah muntah sendiri. Aneh ya?
Beliau ini orangnya tidak mau kalah dengan orang lain. Misalnya ketika berdebat tentang masalah tertentu, ataupun tentang karier. Pun dengan keinginannya yang harus kesampaian apapun caranya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kharakter beliau, sebab masing masing memiliki kharakter sendiri sendiri. Yang jadi masalah adalah protes dan marah kepada Tuhan. Misalnya sudah berdoa, sudah belajar, sudah maksimal ikhtiarnya tapi kok nggak terkabul juga.
Jadi seakan akan hendak ngatur ngatur Tuhan sesuai dengan keinginannya. Atau bahasa lainnya ingin ngatur Tuhan sesuai dengan logika akal pikiranya. Contoh kasus sudah dhuha rutin, sudah sedekah, sudah bekerja maksimal tapi kok rezekinya gitu gitu aja? Sementara yang lain nggak ibadah, ikhtiar biasa saja malah kaya raya. Wah ini nggak bener. Tuhan salah membagi rezeki nih. Kurang lebih seperti itu.
Tapi setelah sering memabca tulisan saya dengan tema santapan rohani akhirnya beliau paham dan mengerti. Beliau tidak bisa mengelak bahwa apa yang saya tulis pada santapan rohani adalah sebuah kebenaran. Padahal sudah belasan tahun mas Angga belajar kesana kemari tentang hikmah kehidupan. nggak paham paham juga.
Beliau sadar bahwa selama ini hawa nafsu, ego dan keinginan sudah menutupi kebenaran. Sadar kalau selama ini yang jadi tuhan sebenarnya adalah logika dan akal pikirnya. Sadar kalau selama ini sering ngatur ngatur Allah. Atas sebab itulah hidupnya gersang, kering dari kebahagiaan. Hidupnya lelah karena dibawa oleh ambisinya yang besar.
Sekarang umur mas Angga sudah mau kepala 4. Katanya beliau ingin mati dalam keadaan menerima Allah. Dan sekarang ia sudah mengerti bagaimana caranya menerima Allah. Yaitu terimalah realitas apa adanya tanpa penghakiman dan tanpa pemberontakan.
Kata mas Angga saat ini beliau sudah lebih tenang menjalani kehidupan. Kalau dahulu harus begini dan harus sesuai dengan keinginannya, sekarang nafsunya lebih lemas. Lebih bisa menerima kenyataan apa adanya meskipun tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.
Beliau sedang berjuang untuk mengalahkan egonya yang maunya menang sendiri. Yakni mengalahkan ego yang ingin melawan takdir. Meskipun pada akhirnya takdirlah yang menang. Takdir yang sudah memporak porandakan mimpi dan cita citanya dari kecil, lalu membuangnya jauh dari keluarga yang dicintainya.
Untuk apa berjuang mengalahkan ego? "Untuk membaca keinginan Allah", gitu kata mas Angga. Wah sudah pinter nih. Sudah lulus alumni universitas santapan rohani kayaknya. Lulus semester satu tapinya. Lanjut semester 2 dan seterusnya sampai akhir hayat.
Dan memang ketika kita berjuang untuk mengalahkan ego atau diri sendiri salah satu tujuannya adalah untuk membaca keinginan Allah. Artinya mas Angga sedang dalam proses perjalanan syahadat atau penyaksian. Ia menjadi saksi atas perbuatan Allah, pada saat keinginan hawa nafsunya dikalahkan. Artinya baru menjelang 40 tahun mas Angga mulai belajar membaca syahadat sebagai bagian dari rukun islam yang pertama.
Nah loh, selama ini kemana saja? Mengapa baru menjelang 40 tahun belajar syahadat?
Yang saya maksudkan bukanlah membaca lafadz syahadat. Kalau lafadz 2 kalimah syahadat sudah dibaca semenjak SD dan sudah hapal diluar kepala. Maksud saya adalah engkau sedang berporses membaca, melihat dan menyaksikan perbuatan Allah pada saat keinginan hawa nafsumu ditngglmkan.
"Ashaduan laailaha ilallah arti harfiahnya adalah tidak ada Tuhan selain Allah. Tetapi yang saya maksud disini maknanya adalah segala sesuatu hakikatnya tidak ada, yang ada hanya Allah. Atau segala sesuatu tidak memiliki daya upaya meskipun sebesar dzarah, melainkan semua tas kehendak dan ijin Allah. Ketika syahadat tauhid ini sudah menghunjam dalam hati maka otomatis akan meyakini bahwa mahluk dan segala sesuatu itu nggak punya kekuatan apa apa. Atau dalam bahasa lainnya dibalik mahluk dan segala sesuatu ada Allah.
"Wa ashadu anna muhammadar rosuulullah arti harfiahnya adalah penyaksian bahwa nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam adalah utusan Allah. Tapi yang saya maksud lebih dalam dari itu. Yakni engkau menjadi saksi untuk dirimu sendiri bahwasanya dirimu sendiri adalah perangkat untuk menyaksikan kebesaran Allah. Artinya perangkat untuk syahadat adalah dirimu sendiri sebagai bagian dari utusan Allah yang diutus untuk menyaksikan pertunjukan Tuhan.
Untuk menyaksikan/ syahadat perbuatan Tuhan caranya dengan sholat. Maksud saya tidak hanya sekedar sholat secara ritual tetapi juga secara ruhaniah. Sebagaimana makna sholat adalah tersambung atau terhubung, maka supaya engkau benar benar menyaksikan perbuatan Allah wajib hatimu harus koneksi dengan Allah setiap detik.
Caranya bagaimana? Caranya sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya yaitu kalahkan diri, ego dan hawa nafsumu lalu terimalah realitas takdir apa adanya. Atau dalam bahasa lain hatimu harus kosong dari mahluk dan yang nampak hanya Allah saja. Contoh kasus lahiriahmu melihat dukun, pelaku sihir, pasangan, bos dll tapi secara ruhaniah yang anda lihat adalah Allah. Bukankah sudah disepakati sebelumnya dalam kalimat syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah?
Secara lahiriah memang anda kena sihir dari dukun, tapi secara ruhaniah itu Allah yang datang bersama realitas takdir untuk menguji wajah imanmu. Yaitu apakah hatimu beriman kepada dukun atau kepada Allah? Kalau anda beriman kepada dukun artinya qalbumu ketutup ego atau nafsu. Karena ketutup makanya gelap. karena gelap makanya tidak bisa menemukan jalan keluar kecuali neraka. Sedangkan manifestasi neraka adalah kemarahan, dendam, ingin menuntut balas, ketakutan, kesedihan dan masih banyak lagi.
Kalau wajah imanmu hanya menghadap Allah maka otomatis hatimu lebih lapang untuk menerima kenyataan yang sangat pahit. yaitu kenyataan rumah tanggamu yang nyaris kandas, cita citamu menguap, bisnismu hancur, relasimu menjauh dan lain sebagainya. Mengapa hati mampu menerima kenyataan pahit? karena yang anda pandang bukan mhluk melainkan Allah. Anda beriman atau meyakni yang mendesain demikian adalah Allah lalu belajar bersabar dengannya.
Dan ketika itulah persaksian sedang dimulai.. Sedang dimulai loh ya? Artinya baru langkah pertama dari langkah yang tak terhingga. Menyaksikan apakah gerangan? Sekali lagi menyaksikan cerita Allah dalam hidupmu sendiri. Jika engkau menyaksikan cerita Allah kira kira ceritamu akan berakhir sedih apa bahagia? Sudah pasti happy ending sebab Allah itu ar rohman dan ar rohim.
Jika engkau bersyahadat/ menyaksikan lalu sholat/ terhubung maka percayalah semua akan berakhir happy ending. Misalnya engkau akan diberikan kesembuhan, rumah tanggamu harmonis kembali, bisnismu bangkit, relasimu datang lagi dan harga dirimu normal kembali.
Kalau dalam kasus mas Angga maka saya meyakini cerita beliau pasti happy ending asalkan hati tetap lempeng melihat wajah Allah dibalik segalanya. Misalnya dipersatukan kembali dengan keluarganya, kariernya naik, dimuliakan relasi dan lain sebagainya.
Apakah tujuan syahadat adalah rumah tangga harmonis, bisnis melesat, dihormati orang lain dll? TIDAK seperti itu meskipun saya meyakini anda akan merasakannya. Adapun segala kenikmatan dan karunia adalah bagian dari realitas surga yang pasti dialami dan dirasakan oleh orang orang yang hatinya lempeng kepada Allah. Tetapi ketika anda sudah dimaqom/ dikelas tersebut itu semua bukan tujuan. Dalam bahasa lainnya surga sudah bukan lagi menjadi tujuan. Sebab tujuannya adalah Yang memiliki surga yaitu Allah.
Artinya ketika anda sudah membuktikan sendiri janji Allah kepada orang yang beriman/ percaya kepadaNya, maka jangan berhenti disitu. Jangan engkau bermesraan dengan surga, sebab surga hanyalah mahluk. Akan tetapi bermesraanlah dengan Allah sekarang dan selamanya.
Sebagai contoh kisah mas Angga.. Saat ini ia dijakarta sementara anak istrinya dijawa timur. Seandainya nanti Allah menyatukannya maka sudah wajar mas Angga akan bahagia, sebab baru saja mendapatkan surga. Tapi jangan berhenti sampai disitu, lanjutkan ke maqom surga berikutnya sampai pada akhirnya sudah tidak fokus lagi kepada surga. Kalau surga menjadi fokus maka pada saatnya nanti bisa masuk neraka. mengapa demikian? Sebab anda menduakan Allah dengan mahluk, yaitu surga.
Misalnya mas Angga terlalu bahagia karena berkumpul kembali dengan keluarganya lalu melupakan Allah yang mendesain cerita demikian. Maka ketika mas Angga kehilangan keluarganya sudah pasti akan shock dan bersedih. Artinya surganya sudah menjadi neraka karena menduakan Allah dengan mahluk. Oleh karena itu jangan sampai anda lalai lalu bermesraan dengan surga, akan tetapi ingatlah DIA yang memberi surga. Jika anda melakukannya maka anda akan mendapatkan surga surga lainnya.
Misalnya selain berkumpul dengan keluarga kariernya ditempat yang baru juga naik, gajinya naik, bisa beli rumah yang bagus, kendaraan yang bagus, dihormati relasi dan lain sebagainya. Ketika suatu saat nanti pekerjaannya diambil oleh Allah maka hatinya tetap tenang. Mengapa demikian? Karena surga bukan lagi tujuan, melainkan Yang memberikan surga. Maka percayalah mas Angga akan diberikan pekerjaan lain yang jauuuh lebih baik dari sebelumnya.
Begitu seterusnya... Appaun yang diambil oleh Allah tidak membuatya bersedih, sebab hatinya sudah sangat yakin bahwa Allah itu maha baik, maha cinta dan maha pemurah. Hatinya sudah meyakini apa apa yang diambil akan diganti dengan yang jauh lebih baik. Mengapa sebegitu yakin? Sebab selama ini mengalami sendiri kalau bersandar kepada Allah tidak pernah kecewa sekalipun. Inilah syahadat atau penyaksian yang sebenarnya.
Hatta ketika ajal hendak menjemput. Memang dadanya berdebar debar saat menjelang ajal, tapi bukan debaran ketakutan. Melainkan debaran penasaran, harap dan cemas. "Habis ini Allah akan membawaku ke surga mana ya? Kalau di dunia ini saya sudah mengalami berbagai macam surga. Kalau di alam sebelah surganya seperti apa ya?", kurang lebih begitu. Ada rasa penasaran, kepo dalam dada yang berdebar debar. Mirip dengan debaran calon pengantin ketika hendak bertemu dan bertatap wajah dengan pasangannya.
Dan untuk memiliki keyakinan yang seperti paragraf diatas ternyata prosesnya sungguh berliku liku penuh dinamika. Dalam beberapa kasus hidupnya harus dibanting banting dulu sampai mentok tidak ada jalan keluar. Ternyata untuk sampai kepada maqom hati beriman ekpada Allah itu sungguh tidak mudah. Tetapi jika anda sudah sampai di maqom/ kelas ini niscaya engkau akan menjalani hidup dengan ringan sekali. Tidak ada ketakutan, kekhawatiran dan bersedih hati. Adanya senang, nyaman, damai dan bahagia. Sebab semua sudah dipasrahkan kepada Allah. Dan ketika kita pasrah/ bersandar kepada Allah, tidak pernah kecewa sekalipun.
Apakah sahabat ingin bahagia dunia akherat? Kalau pengin baca tulisan ini sampai benar benar meresap dalam hati, lalu praktekkan.
Syukron
Klinik Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar