Perbuatan Maksiat itu dari Allah atau Mahluk? Kalau dari mahluk berarti ada sesuatu selain Allah. Kalau dari Allah mosok Tuhan bermaksiat? Bingung khan? Tidak usah bingung. baca penjelasan Perbuatan Maksiat itu dari Allah atau Mahluk?
SANTAPAN ROHANI, APAKAH MAKSIAT ITU DARI ALLAH?
Ukurannya, patokannya dan benar tidak nya itu bukan berdasarkan akal dan nafsu tapi syariat dan Alloh. Bagaimana dengan perbuatan maksiat, dan kezholiman, apakah sama karena Alloh. Cara memandangnya gmn?
Jawab: Cara memandang atau cara pandang disebut dengan prinsip hidup atau paradigma. Bahasa arabnya Ad Diin, ditranslate lagi dalam bahasa indonesia menjadi agama. Artinya cara pandangmu terhadap kehidupan itulah agamamu.
Dari definisi paragraf diatas ada sebuah statement yang mungkin membuatmu terhenyak lalu marah marah kepadaku. Bahwa legitimasi beragama bukanlah tentang pakaian dan identitas lahiriah akan tetapi tentang cara pandangnya menyikapi kehidupan. Dalam bahasa lain islamnya seseorang tidak bisa disimpulkan dari gamisnya, sholatnya, ibadahnya dll melainkan seberapa besar ketundukan hatinya didalam menghadapi dinamika kehidupan (ujian).
Dan cara pandang itu ada 7 lapis dimensi. Artinya cara memandang kehidupan itu tidak hanya sekedar apa yang terlihat oleh mata memandang. Boleh saja anda memandang jamur itu beracun dan mematikan. Tapi jangan paksa orang lain memandang sama dengan kamu. Sebab ada orang yang melihat jamur beracun bisa menjadi makanan lezat jika tahu cara mengolahnya. Ada lagi yang memandang jamur itu cuan. Yang lain memandang jamur adalah obat.
Kalau dalam dunia sihir yang sangat menghancurkan juga melahirkan berbagai cara pandang. Ada yang memandang sihir itu sangat kejam dan pelaku/ dukunnya harus diadzab dengan keras. Itu tidak salah. Paling tidak sesuai dengan pemahamanmu. Yaitu cara pandangmu bahwa sihir adalah kejahatan besar dan harus dibalas dengan yang serupa. Itulah maqom dalam hatimu yang tidak bisa kau dustai.
Tapi ada juga yang memandang bahwa sihir bukanlah sebuah keburukan malah sebaliknya. Ada yang memandang sihir adalah ujian dari Allah yang mana menyuruh kita untuk bersabar. Sihir adalah jalan untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenar benarnya. Artinya maqom orang ini tidak memandang sihir, dukun, iblis, setan dan pelaku sihir adalah orang kejam. Akan tetapi mereka alat dari Allah untuk memperkenalkan diri_Nya kepada siapapun hamba yang dikehendaki_Nya.
Sehingga orang yang sudah di maqom ini juga tidak akan pernah bisa didustai hatinya. Mau seribu kali engkau memprovokasi bahwa sihir adalah kejahatan yang besar, maka orang yang sudah dimaqom ini tidak akan bergeming. Demikian pula orang yang memandang sihir adalah sebuah kejahatan maka tidak akan bisa diprovokasi untuk meyakini bahwa terkena sihir adalah sebuah kebaikan.
Kesimpulannya keduanya adalah benar. Benar menurut penafsiran dan maqomnya masing masing. Dan maqom dalam hati itu bertingkat tingkat. Dalam artian paradigma atau cara pandang seseorang tentang sihir itu berbeda beda. Dan perbedaan cara pandang ini tentang perjalanan hati didalam memahami hikmah kehiduapn. Dalam bahasa lain segala musibah dalam hal ini sihir adalah proses perjalanan untuk mengenal Allah.
Ini relate dengan pertanyaan sahabat diatas, "Bagaimana dengan perbuatan maksiat, dan kezholiman, apakah sama karena Alloh. Cara memandangnya gmn?". Maka jawabannya tergantung cara pandang atau paradigmanya masing masing. Ada orang yang memandang bahwa perbuatan maksiat itu tidak ada kaitannya dengan Allah. Artinya Allah berlepas diri dengan perbuatannya untuk kemudian menanyakan serta menghukumnya di akherat.
Sekali lagi paradigma diatas tidak salah. Sebab seperti itulah keyakinan dalam hatinya yang tidak bisa didustai. Mengapa demikian? Sebab memang proses perjalanannya memahami hikmah kehidupan masih sebatas itu. Kalau pardigma orang lain yang mengatakan bahwa segala maksiat itu juga atas ijin Allah maka pasti akan disangkal dengan hatinya.
"Mosok perbuatan jadi maling, pezin4, pembnh, dukun, perampok dll semuanya atas ijin Allah. Jadinya Allah nggak adil dong? Mosok memilih sebagian mahluk ciptaannya jadi pendosa lalu masuk neraka. Berarti Allah kejam dong?". Nah seperti inilah bentuk penyangkalan dalam hatinya.
Artinya mau orang tersebut diyakinkan bahwa semua atas ijin Allah maka selamanya tidak akan percaya/ beriman. Mau diyakinkan bahwa semua adalah cerita Allah juga akan menyangkal. Sehingga ketika diajak untuk menerima ujian, bersabar, ikhlas, lapang dll akan sangat sulit. Sebab pemahaman ini baru sampai akal yang penuh dengan penilaian.
Kapan orang tersebut yakin bahwa maksiat juga atas ijin Allah atau kena sihir juga dari Allah? Itu terjadi ketika Allah mendekatkan diri_Nya kepadamu. Semakin Allah mendekat maka semakin merubah cara pandang atau paradigmamu. Dan proses ini bukan dialami dengan banyak membaca teori sebagaimana anda membaca buku, kitab atau tulisan ini. Melainkan oleh pengalaman yang melahirkan rasa.
Dalam bahasa lain paradigma yang melahirkan keyakinan itu tidak bisa dipaksakan. Semua mengalir natural dalam hatimu seiring dengan proses perjalanan memahami takdir. Termasuk orang yang sabar, ikhlas, lapang dll saat menghadapi musibah juga tidak akan pernah bisa dipaksakan. Mustahil memaksakan seseorang untuk lapang menerima ujian ketika maqom hatinya masih berada di akal. demikian pula mustahil mengajak orang untuk marah dan dendam ketika maqom hatinya sudah ikhlas.
Mungkin kesimpulan terkait dengan perjalanan seseorang menuju Allah begini...
Ada orang yang meyakini bahwa sihir itu adalah kekafiran yang harus dilawan. Dalam bahasa lain Allah memberikan kesempatan untuk membalas. Pun perbuatan maksiat seseorang karena dirinya memang memilih untuk bermaksiat. Dan ini adalah benar menurut cara pandangnya. Artinya akalnya menilai benar salah, baik buruk, pahala dosa dll. Sehingga ketika diakherat nanti semaunya akan diadili dengan pengadilan yang seadil adilnya.
Ada juga orang yang pada akhirnya memiliki cara pandang bahwa ujian sihir itu atas ijin Allah. Pun meyakini bahwa segala maksiat dimuka bumi ini terjadi atas ijin Allah. Sehingga dengannya meskipun hidupnya hancur dan dadanya penuh amarah tidak ada keinginan untuk membalas melainkan fokus kepada kesembuhan saja. Ini juga tidak salah menurut cara pandangnya. Inilah tingkatan atau maqom yang lebih tinggi.
Ada juga orang yang pada akhirnya meyakini bahwa dibalik musibah (sihir), dibalik maksiat, kejahatan dll ada Allah. Sehingga dengannya berjuang sekuat tenaga untuk melapangkan hatinya selapang lapangnya. Terus berjuang agar hatinya menerima ikhlas dan ridho. Dan paradigma ini juga benar, sebab orang tersebut memang sudah sampai di maqom ini.
Akan tetapi dari sekian banyak manusia ada juga yang meyakini bahwa semua adalah cerita Allah termasuk dirinya sendiri. Dalam bahasa lain hatinya sudah benar benar bertauhid, "laailaaha illallah", segala sesuatu itu hakikatnya tidak ada, yang ada hanya Allah. Sehingga dengan itu nggak ada rasa apa apa alias hambar. Tidak marah dan juga tidak senang. Meskipun kena sihir yang membuat hidupnya hancur rasanya biasa saja. Ketika suatu saat sihir hancur lalu hidup kaya dan mulia juga biasa saja. Wong semua cerita Allah ngapain komen apalagi protes? Biasa saja.
Dan dari semua cara pandang/ paradigma/ agama diatas semuanya adalah benar. Benar menurut keyakinan dalam hatinya masing masing yang tidak akan pernah bisa didustai. Pun tidak bisa dipaksakan. Sehingga jawaban pertanyaan, "Apakah maksiat itu dari Allah atau dari mahluk" maka semua jawabannya adalah benar.
Akan tetapi meskipun semua jawaban adalah benar saya tetap mengajak sahabat semua untuk terus melakukan perjalanan. Yaitu perjalanan kembali kepada Allah. Paling tidak maqom hatimu sampai di cara pandang yang meyakini bahwa semua yang terjadi atas ijin Allah. Sehingga dengan itu saya dan anda akan berjuang untuk meredam kemarahan, dendam dan kekecewaan akibat takdir yang tidak sesuai dengan keinginan. Terus berjuang melapangkan hati, ikhlas dan ridho meskipun bermandi ujian.
Supaya apa? Supaya hisabnya ringan. Meskipun tidak benar benar ikhlas dan ridho yang penting sudah berjuang. Dan perjuanganmu untuk menerima takdir apa adanya inilah yang akan memberingan hisabnya nanti diakherat.
Syukron
Santapan Rohani Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar