Secara lahiriah umat islam itu milyaran, tetapi secara ruhaniah yang benar benar berislam hanya sedikit. Kok bisa begitu? Simak penjelasan Ternyata Banyak Umat Islam yang Belum Berislam.
SANTAPAN ROHANI, JAWAB PR YANG SAYA BERIKAN DENGAN JUJUR YA?
Bersabar karena belum bisa bersabar. Nyerah aja ah semakin banyak keinginan semakin banyak harapan semakin banyak kecewa. Nyerah aja ah karena ngotot juga gak kesampaian juga
Jawab: Menyerah itu sinonim dengan tunduk lalu patuh. Sedangkan tunduk patuh bahasa arabnya islam. bahasa lainnya berserah diri. Yang menyerah apanya? Dirinya, makanya disebut dengan berserah diri.
Berserah diri kepada siapa? Kepada takdir. Bahasa lainnya menyerah kepada takdir yang mendatangimu. Atau lebih pasnya menyerah kepada DIA yang menciptakan, membawa dan hadir bersama takdir. Siapakah yang datang bersama takdir? Allah.
Kesimpulannya orang yang islam adalah dia yang menyerah kepada Allah yang mengujinya dengan takdir. Takdir yang seperti apa? Takdir yang tidak sesuai dengan keinginan diri lalu menyerah. makanya disebut dengan berserah diri.
Mengapa menyerah? karena dirinya tidak mampu melawan takdir. Meskipun anda mengerahkan ilmumu, harta bendamu, tentaramu, relasimu dan segala galanya toh tetap kalah juga. Karena kalahnya sangat telak pada akhirnya mengibarkan bendera putih.
Apa contohnya menyerah terhadap takdir yang tidak sesuai dengan keinginan diri? Ada teramat banyak sekali. Misalnya takdir kalau dirinya punya wajah pas pasan, tidak kaya, sering dihina, dapat pasangan yang buruk dll. Atau takdir kena sihir, rumah tangga diujung tanduk, bisnis hancur, penyakitan, harga diri diinjak injak dll. kalau dalam kasus global misalnya menerima ketika kita berbeda, beda manhaj, beda aliran, beda agama, beda penafsiran, beda suku dll.
Dimana menyerahnya? Dihatimu. Yaitu hatimu lapang dengan takdir yang tidak sesuai dengan keinginan diri. Dirimu tidak protes terhadap takdir, tidak menilai benar salah, baik buruk dll. Alias menerima takdir apa adanya.
Berarti tidak melakukan apa apa dong? Nah saya sering menulis santapan rohani tapi masih ada sahabat yang belum paham juga. Khan tadi saya tulis yang menyerah hatimu. Hatimu lapang dengan kenyataan yang terjadi. Hatimu tidak marah, berontak, dongkol, kesal, sedih, kecewa, takut, was was, cemas dll.
Adapun ikhtiar tetap dilakukan. Misalnya rumah tanggamu diujung tanduk maka berserah dirilah kepada kenyataan. Akan tetapi dialog tetap harus dilakukan. Dialog dalam hati yang lapang. Jika dengan dialog tetap menemukan jalan buntu maka hatimu tetap lapang. Jangan karena beralibi dialog, tabayun, kalrifikasi malah berujung kepada cekcok. Keduanya tidak mau mengalah. Ini namanya sama sama belum berpasrah diri.
Mengapa saya menekankan demikian? Karena banyak sahabat yang WA saya dan mengatakan sudah menasheati pasangan, sudah mendakwahi, sudah mencermahai dan semacamnya namun pasangannya malah marah marah. AKhirnya keduanya cekcok karena tidak ada titik temu. "Saya capek dan lelah ustadz, karena pasangan tidak mau dinasehati dan selalu cekcok ketika diceramahi". Maka saya katakan keduanya belum berpasrah diri meskipun membawa bawa nama Tuhan saat bertengkar.
Atau saat kena sihir maka lapangkan hatimu lalu lakukan ikhtiar ruqyah. Jika dengan ikhtiar ruqyah sihirnya belum hancur total maka hatimu tetap lapang. Jika dengan ikhtiar ruqyah sihirnya hancur maka hatimu terus lapang. Jika dampak sihir membuat rumah tangga kandas, bisnis bangkrut, harga diri diinjak injak tetap hatinya lapang. Kira kira bisa tidak seperti ini? Memang tidak bisa, tapi suatu saat anda akan melakukannya. Mengapa demikian? Sebab sudah mentok dan tidak ada jalan keluar lagi.
Mengapa terus lapang? kembali lagi kepada pembahasan awal karena sudah menyerah. Yaitu menyerahkan diri. Diri yang selama ini suka menilai baik buruk benar salah. Diri yang selama ini marah dan berontak terjadap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Emang apa yang terjadi ketika kita berserah diri, tunduk dan patuh kepada Allah yang datang bersama takdir? Yang terjadi adalah takdir akan membawa solusi. Dalam bahasa lain takdir akan membawa jannah. Memang solusinya tidak sehari dua hari tapi berproses seiring dengan tingkat penyerahan dirimu.
Ada yang WA, "Ustadz saya sudah ikhlas, sudah pasrah tapi kok masalahnya tidak kunjung selesai. Saya lelah ustadz". Pertanyaan ini berarti yang bersangkutan belum paham makna pasrah. Sahabat merasa sudah ikhlas dan pasrah tapi kenyataannya belum. Mengapa belum? karena hatinya masih sempit. Sebab tanda dirinya sudah menyerah adalah hatinya lapang dengan apapun keadaannya. Sehingga kesimpulannya ikhlas dan pasrah itu bukan dimulut tapi di hati.
Hari ini diserang setan hati tetap berserah. Esok jualan sepi hati tetap lapang. Lusa dapat fitnah hati tetap tenang. Begitu seterusnya. Sampai kapan? Sampai Allah mendatangkan solusinya. Dan solusi itu pasti 100 persen datang ketika memang sudah waktunya.
Point dari tulisan ini adalah orang islam adalah mereka yang berserah diri. Mereka percaya kepada Allah yang datang bersama takdir lalu menyerahkan segala cerita kepada_Nya. Appaun itu mau baik menurutmu, buruk menurutmu tetapi dalam hatimu selalu yakin kepada Allah. Ketika hatinya yakin kepada Allah maka tetap tenang meskipun ada badai dan hujan. Ketika hatinya tenang maka kharakter terpuji akan mengikuti. Misalnya tetap tangguh, sabar, jujur, tulus, dermawan, empati dan lain sebagainya.
Sehingga orang islam atau orang yang patuh tunduk kpada Allah nggak ada takut takutnya. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Hatinya tetap tenang, lapang, damai, bahagia dan sejahtera. Dan inilah surga yang sebenar benarnya. Mengapa surga? Sebab hatinya selalu bersama Allah kapanpun dan dimanapun.
Nah sekarang ada PR yang harus saya dan anda jawab. Silahkan dijawab bukan dengan lisan dan akalmu. Bukan juga dijawab dengan ritual ibadahmu. Akan tetapi jawab dengan hatimu sendiri. PRnya dalam bentuk pertanyaan yaitu, "Apakah dirimu sudah Islam?"
Syukron
Santapan Rohani Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar