Mengapa Mulut Bilang Ikhlas Tapi Hati Sulit Menerima?

Mengapa Mulut Bilang Ikhlas Tapi Hati Sulit Menerima? Sebab lain dimulut lain dihati. Bahasa lainnya munafik. Dan inilah penderitaan yang sesungguhnya. Sebab ibadahnya rajin tapi kok dapat musibah terus? Nggak masuk akal khan? Simak penjelasannya


SANTAPAN ROHANI, MENGAPA LAIN DIMULUT LAIN DIHATI?

Untuk benar-benar sadar bahwa semua cerita Alloh itu tidak mudah, otak dan lisan bisa aja berkata demikian tp hati belum tentu. Kondisi Hati seperti itu adalah murni pemberian dr Alloh. Apakah nunggu di kasih Alloh atau ada latihannya?

Jawab: Untuk mengantarkan ilmu tauhid sebagaimana yang sering saya tulis pada artikel santapan rohani perlu pelan pelan. Terkadang saya menyampaikannya blak blakan, dan tahu apa responnya? Responnya selalu ada yang mendebat dan menghujat. 

Mengapa demikian? Sebab tingkatan iman masing masing orang itu beda beda. Ada yang jalan ditempat, ada yang sudah satu langkah, ada yang setengah perjalanan dan ada yang sudah sampai. Misalnya ketika saya menulis meskipun hidupmu dihancurkan orang dzalim harus ikhlas, karena itu cerita Allah. Bagi anda yang imannya masih didimensi akal mana bisa menerima? Sebab hukum orang yang imannya masih didimensi akal adalah ketika didzalimi harus membalas dengan setimpal.

Yang mereka inginkan adalah membalas pelaku dzalim dan atau berharap pelaku dzalim dapatk karma/ adzab yang setimpal. Selama pelaku dzalim belum mendapatkan balasannya maka tak henti henti berdoa kepada Allah supaya menimpakan murka kepadanya.

Atau ketika saya menulis sekedar sholat, ngaji, puasa secara ritual belum cukup menjadi jaminan keselamatan. Yang menjadi jaminan keselamatan ketika ragamu sholat jiwamu juga sholat. Jiwamu harus nyambung/ sholat ke Allah bukan ke mahluk yang dibuktikan dengan hati yang tetap lapang saat menerima ujian. Maka tulisan ini pasti disangkal oleh mereka yang rajin sholatnya. Sebab dalam anggapannya yang penting sholat secara ritual itu sudah lebih dari cukup. 

Mereka baru mau merevisi keyakinannya ketika dihadapkan kepada musibah yang besar. Meskipun sholatnya makin rajin, ngajinya makin rutin, puasanya makin gencar dll tapi musibahnya juga makin menajdi jadi. Saat itulah ia mulai meragukan ibadah ritualnya. Semakin lama semakin ragu dan terasa sangat menyakitkan sebab menganggap Tuhan tidak adil. Hidupnya sangat menderita ketika menghadapi kenyataan makin rajin sholatnya makin hancur hidupnya. Inilah puncak penderitaan. Dalam bahasa lainnya inilah kerak neraka. Mengapa berada dikerak neraka? Sebab lain dimulut lain dihati. Bahasa lainnya muna....

Saya menulis bahasa yang sebenarnya sederhana tapi tetap saja disangkal oleh beberapa orang. Tapi tidak apa apa namanya juga edukasi memberikan pencerahan. Wajar ketika kebanyakan belum sepakat dan hanya sedikit yang sepakat. dan saya meyakini sahabat yang merasa diirnya sudah berislam lalu sedang diuji dengan ujian besar suatu saat akan menyetujui tulisan saya ketika maqomnya sudah sampai. 

Apa yang ditulis sahabat benar sekali. "Untuk benar-benar sadar bahwa semua cerita Alloh itu tidak mudah, otak dan lisan bisa aja berkata demikian tp hati belum tentu". Dalam bahasa lain untuk meyakini bahwa musibah yang kita alami adalah ujian dari Allah ternyata tidak mudah. Sebab indikasi keyakinan tersebut adalah kondisi hati yang lapang ketika menerima ujian. 

Seribu kali kita mengatakan dengan lisan, "ini ujian Allah, aku sabar dan ikhlas", maka seribu kali pula berdusta. Mengapa demikian? Sebab lisan mengakui tapi hati mendustai. Buktinya adalah dada yang sempit berisi kemarahan, kesedihan dan kekecewaan. 

Mengapa marah, sedih dan kecewa? Sebab hatinya tidak meyakini ujian itu datangnya dari Allah. Hatinya meyakini semua yang terjadi karena mahluk. "Hidupku hancur gara gara pelaku dzolim", nah perkataan ini cukup menjadi bukti bahwa dihatinya ada sesuatu selain Allah. Siapa itu? pelaku dzolim. Karena meyakini hidupnya hacnur karena mahluk itulah yang menyebabkan hatinya marah, sedih dan kecewa.

Ini seperti perkataan, "Aku orang beriman, aku islam, aku sholat karena Allah, aku cinta Allah" dan kalimat semacamnya yang diucapkan oleh lisan. Bisa jadi ucapan diatas adalah dusta. Seribu kali mengklaim sudah islam, sudah bertauhid, sudah taat dll bisa jadi seribu kali berbohong. Bagaimana cara mengetahui kebohongan tersebut? Tidak usah bertanya kepada siapapun cukup lihat kondisi hatimu sendiri. Ketika dirimu kehilangan sendal lalu marah marah, menuduh, mengancam dll ini sudah jadi bukti bahwa hatimu masih buta dari Allah.

Lalu bagaimana caranya supaya lisan dan otak yang mengatakan bahwa semua adalah cerita Allah lalu diamini oleh hati? Atau bagamana meyakini semua dari Allah sehingga hatinya lapang?

Jawabannya semua berproses. Oleh karena itu ikuti prosesnya. Bagaimana cara mengikuti proses? Tentu saja jalani takdirmu yang penuh dinamika. Cuman harus saya katakan apa adanya ketika anda menginginkan supaya bisa merasakan iman yang natural biasanya ujianmu akan ditambah. Dalam bahasa lain hidupmu akan semakin hancur. 

Dalam bahasa lain ketika anda sangat menginginkan bisa kenal Allah maka biasanya musibahmu akan ditambah. Dan bertambahnya ujian itu akan membuat dadamu semakin sempit dan sesak. Dalam bahasa lain anda akan dipukul oleh takdir sampai membuatmu benar benar tidak berdaya. Secara kongkrit misalnya rumah tanggamu diujung tanduk, usahamu benar benar hancur, harga diri terinjak injak dll. Kira kira kalau seperti ini berani tidak?

Sekali lagi supaya hati benar benar mengenal Allah lalu harus dibayar dengan hidup yang hancur lebur kira kira anda bersedia tidak? Jawabannya 99.99 persen tidak mau. Sebagaimana saya pernah menulis 99.99 persen manusia itu enggan mengenal dan bertemu Allah lalu diprotes oleh beberapa sahabat yang belum paham.

Akan tetapi bagi hamba yang dikehendaki Allah maka akan dipaksa untuk mendekat kepada diri_Nya. Sebab kalau tidak dipaksa tidak ada seorang manusiapun yang mau. Semuanya menolak untuk beriman kepada Allah. Bagaimana cara Allah memaksa sebagian hamba_Nya? Caranya hidupnya dihancurkan sehancur hancuranya oleh takdir yang tidak bisa ditolak.

Apa cara mengenal Allah lalu beriman kepada_Nya selalu dengan musibah besar? Ya nggak juga sih, sebab semua terserah Allah. Saya menyampaikan bahwa musibah adalah jalan untuk mengenal Allah lalu beriman kepada_Nya karena mengalami. Dan pengalaman kami inilah yang ingin saya share kepadamu khususnya kepada sahabat yang detik ini sedang diberikan musibah yang berat.

Mengapa Allah memperkenalkan diri_Nya lewat musibah demi musibah? Itu semua untuk mendesak otak, pikiran dan jiwa/ egomu. Itu semua untuk memukul akalmu yang keras kepala. Jika hatimu belum juga beriman/ percaya kepada Allah maka akan dipukul lebih keras lagi. Secara kongkret dirimu akan dibuat lebih hancur lagi. Begitu seterusnya nggak ada berhentinya.

Kapan pukulan itu akan berhenti? Sampai dirimu tidak bisa mikir lagi sebab memang sudah tidak mampu. Yaitu pada saat anda mengerahkan otakmu, akalmu, ilmumu dan semuanya namun tidak bisa merubah keadaan. Dalam bahasa lainnya sampai dirimu menyerah. Yang diserahkan apanya? Otaknya yang berisi pikiran, ilmu, kecerdasan, kehebatan, kefasihan dll. 

Kalau dalam bahasa kita kita begini, "Aku sudah mengerahkan segalanya, berkoban semuanya namun hidupku tetap hancur. Ya sudah yang terjadi terjadilah. Kalau memang hidupku harus berakhir tragis ya sudahlah. Aku sudah tidak mau melawan lagi". Nah saat itulah anda sedang menyerahkan akal pikiranmu kepada takdir. Dalam bahasa lain saat itu anda sedang belajar menyerah/ islam.

Apa yang terjadi ketika dirimu menyerah/ islam? Yang terjadi adalah keajaiban. Justru pada saat dirimu tidak melawan takdir, malahan mulai muncul jalan solusi dari arah yang tidak disangka sangka. Ketika dirimu nggak lagi mikir, tidak lagi mendewakan akal dll malah solusi itu datang. Semakin lama semakin terang benderang.

Pada saat itulah hatimu mulai hidup. Dalam hatimu mulai tumbuh keyakinan diluar logika dan akal. Artinya semakin hatimu yakin semakin akalmu pudar. Yakin pada apa? Yakin bahwa ada kecerdasan lain diluar diri dan akalmu yang mendatangkan solusi itu. Sebuah kecerdasan yang tidak bisa diuraikan dengan kata kata tapi nyata adanya. Dalam bahasa orang islam itulah Allah.

Sahabat kita bertanya, "Kondisi Hati seperti itu adalah murni pemberian dr Alloh. Apakah nunggu di kasih Alloh atau ada latihannya?". Jawabannya secara lahiriah itu karena usahamu, tapi secara ruhaniah semua karena pemberian Allah. Dalam bahasa lain iman dalam hati adalah murni pemberian Allah. Tapi ketika muncul secara lahiriah semua karena usahamu.

Atau dalam kalimat lain seakan akan itu semua karena usahamu padahal bukan. Itu semua (hati yang beriman) murni pemberian Allah. Ini seperti anda bekerja lalu dapat gaji dari bos. Seakan akan saja kamu sudah bekerja, dan seakan akan bos ngasih gaji. Padahal secara pandangan keimanan 100 persen rezekimu itu dari Allah.

Karena tulisan ini membahas kondisi hati maka keimanan itu murni pemberian Allah. Bagaimana cara Allah memberimu hati yang beriman? Caranya dengan memberikanmu ujian yang besar sehingga dirimu menyerah. Dalam dunia lahiriah datang ujian bertubi tubi, lalu anda jatuh bangun sampai pada satu titik akal dan egomu menyerah kepada takdir. 

Ketika akal dan egomu menyerah/ diserahkan maka saat itulah mata hatimu hidup. Dengan hidupnya hati yang ada dalam dada anda melihat bahwa segala ujian sebesar apapun itu semua dari Allah. Dalam bahasa lain pada akhirnya anda mengakui bahwa semuanya adalah cerita Allah. Kapan itu terjadi? Yaitu pada saat logika akal pikirmu ditutup, lalu hatinya dibuka. Kapan akal pikir ditutup? Jawabannya kembali ke paragraf awal yaitu pada saat anda diberikan ujian sampai mentok tidak ada jalan keluar.

Apa yang terjadi ketika hatimu melihat Allah sedang bercerita? Jawabannya ceritanya akan berubah. Inilah yang saya maksud dengan didatangkannya solusi secara ajaib dan tidak masuk akal. Dalam bahasa lain ketika engkau mampu mengenal dan melihat Allah dibalik segala galanya maka engkau akan melihat dan mengalami surga. 

Demikian Mengapa Mulut Bilang Ikhlas Tapi Hati Sulit Menerima?

Syukron

Santapan Rohani Pendekar Langit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengapa Mulut Bilang Ikhlas Tapi Hati Sulit Menerima?

Mengapa Mulut Bilang Ikhlas Tapi Hati Sulit Menerima? Sebab lain dimulut lain dihati. Bahasa lainnya munafik. Dan inilah penderitaan yang se...