Saya yakin anda sering belajar tauhid. Tapi saya yakin anda belum mengerti tentang puncak tauhid. Saran saya nggak usah mengerti sebab bisa bahaya. Puncak Tauhid, Kalau Tulisan Ini di Baca Bisa Menyebabkan Gila
JANGAN DIBACA KALAU BELUM SIAP, INILAH PUNCAK TAUHID
Saya memang ada ketakutan ketika jauh dengan suami, takut ada serang2an, tapi lagi2 saya tertampar dengan postingan terbaru ust. Kalau begitu sama saja saya menyekutukan Allah, menggantungkan perlindungan pada selain Allah, saya perlahan ingin membakar tuhan-tuhan palsu itu. Tidak ingin beranggapan pelaku, dukun, jin punya kekuatan selain Allah..
Jawab: Sahabat yang saya cintai, apapun madzab dan aliranmu ayuk kita baca tulisan ini dengan hati nuranimu yang paliiiing jujur. Sementara letakkan dulu madzab dan pengetahuanmu, meskipun dilingkungan anda dianggap ustadz, supaya apa yang kami terangkan biidznillah bisa meresap dalam hati. Indikasi sudah meresap dalam hati akan terasa "mak nyesss" adem.
Saya mulai dengan pertanyaan, "Siapa yang memberi rezeki?". 99.9 persen akan menjawab Allah. Jawabannya betul namun kebanyakan hatinya "berdusta". Berbeda antara ucapan lisan dengan hati. Karena realitanya kebanyakan kita beriman/ percaya kepada mahluk.
Sekali lagi siapa yang memberi rezeki? Kalau jawabanmu Allah. Allahnya mana? Bayangkan saya kerja dari pagi sampai sore lalu gajian, pertanyaannya adalah siapa yang ngasih gaji? Jawabannya bos atau perusahaan. Sama sekali tidak ada andil Allah disitu. Kalau memang ada mana? Kok nggak keliatan?
"Siapa yang ngasih makan soto ayam yang lezat pagi ini?". Kalau engkau menjawab Allah, Allahnya mana? Wong saya dapat gaji lalu membeli soto di tukang soto. Yang ngasih saya soto adalah tukang soto ayam bukan Allah. Kalau memang Allah, mana? Kok nggak ada?
Kalau memang engkau meyakini rezekimu dari Allah mengapa engkau kikir? Kalau emang Allah yang kasih makan mengapa engkau habiskan sendiri? Kalau memang ilmu itu dari Allah mengapa engkau merendahkan orang lain? Kalau memang semua dari Allah mengapa engkau takut kehilangan? Bukankah artinya ini semua ucapan "dusta?"
Ada pertanyaan lagi nih? "Siapa yang menyembuhkanmu saat kena sihir?". Kalau jawabanmu Allah, mana Allahnya? Selama ini anda gigih ruqyah, diruqyah oleh peruqyah, menggunakan media ruqyah pendekar langit, membaca Kitab Penghancur Sihir dll sehingga pelan pelan keluhan anda hilang. Sekali lagi mana Allahnya? Kok nggak keliatan?
Kalau anda bersikeras membentak saya dengan mengatakan, "Allah yang memberi rezeki, kasih makan dan yang menyembuhkan" ya sudah gpp. Tapi mengapa kita susah sekali untuk mengakui dan meyakini hal yang lain yang berperan adalah Allah?
Misalnya, "Siapa saja yang menyebabkan hidupmu hancur?". Mengapa anda langsung menjawab dengan penuh amarah bahwa dukun, jin dan pelaku sihir penyebab kehancuran?. Mengapa sulit sekali mengakui kalau sihir itu juga dari Allah? Apa yang membuatmu sulit mengakui?
"Siapa yang ibadah saat engkau sholat, siapa yang memberi saat engkau sedekah, siapa yang gigih ruqyah saat engkau terkena sihir?". Mengapa anda langsung menjawab aku yang ibadah, aku yang kerja, aku yang sedekah, aku yang ruqyah?. Mengapa sulit sekali mengakui kalau sebenarnya engkau tidak bisa bergerak kecuali digerakkan oleh Allah. Apa yang membuatmu sulit mengakuinya?
Sahabat pernah membaca kisah Qorun? Kalau di masa sekarang Qorun adalah orang orang kaya yang cerdas dan pekerja keras. Mengapa Qorun harus diadzab sedangkan ia hanya mengatakan "ini semua karena kerja kerasku". Bukankah secara kasat mata jawaban Qorun benar? Selama ini Qorun nabung dikit dikit, lalu investasi, bisnis dll lama lama menjadi orang yang sangat kaya karena kegigihan dan kerja kerasnya. Salahnya dimana coba?.
Sama seperti kisah saya dimana dahulu saya pebisnis sukses, tokoh masyarakat, orang dermawan, relasinya luas dll. Tapi mengapa saya harus diadzab (oleh sihir) karena meyakini "aku" yang kaya, aku yang pintar aku yang punya kehormatan, aku yang dermawan dll?. Saya 13 tahun pontang panting, jatuh bangun sampai berd4rah darah sehingga akhirnya sukses loh? Lalu katanya semua dari Allah, Allahnya mana? Kok nggak keliatan? Lelucon macam apa ini?
Statement semua dari Allah tidak ada sebesar dzarah berasal dari selainNya adalah BENAR. Cuma faktanya mata hati kita ketutup alias buta. Ketutup itu bahasa arabnya kafir. Karena selama ini saya kafir makanya masuk neraka. Hari hari penuh dengan kesedihan, kemarahan, kedengkian, kekecewaan, ketakutan dll. Sudah bagus dimasukkan neraka dunia tidak seperti Qorun yang tidak sadar sampai ajal menjemput.
Kalau kita kembali ke pertanyaan awal, "siapa yang kasih rezeki?". Maka jawabannya Allah. Tapi pandanganmu jangan melihat mahluk, karena sampai kiamat anda tidak akan pernah melihat dan menemukan Allah. Allahnya dimana? Ya nggak akan kelihatan. Tetapi lihatlah dengan hatimu.
Ketika anda gajian seakan akan bos ngasih uang ke kamu. Itu seakan akan saja. Seolah olah saja. Bosmu tidak akan bisa bergerak kalau tidak digerakkan oleh Allah. Kalau dalam bahasa hati yang lebih dalam tidak ada bos, yang ada hanya Allah. Hati memandang bahwa dibalik mahluk yang ngasih rezeki ada Allah.
Cara pandang seperti ini sama untuk segala galanya tidak terkecuali. Seakan akan saja anda sedang makan soto yang dibeli ditukang soto. Padahal hakikatnya Allah sedang memberi makan mahlukNya. Seolah olah keluhan sihir anda reda karena diruqyah oleh peruqyah. Seolah olah karena ruqyah padahal hakikatnya Allah sedang memproses kesembuhan anda.
Kalau kasus diatas saya yakin pelan pelan anda akan mengakuinya. Yang sulit mengakui adalah ketika dirimu diberikan ujian. Saya dan anda sulit mengakui bahwa musibah yang anda alami juga dari Allah. Kita sulit mengakui kalau sihir itu dari Allah. Datangnya jin dan pelaku sihir yang membuat hidupmu hancur juga dari Allah. Suliiiit banget, makanya kesembuhan sulit diraih.
Kita sulit menerimanya karena meyakini kalau yang baik baik dari Allah, kalau yang buruk buruk dari mahluk. Secara pandangan lahiriah statement ini benar, tapi kalau anda memandang dengan kaca mata qalbu statement diatas musyrik karena menduakan Allah. Karena saya musyrik makanya masuk neraka. Sebab saat melihat keburukan sihir yang menyebabkan hidupku hancur, saya meyakini dalam hati itu karena dukun bukan karena Allah. Karena meyakini mahluk memiliki kekuatan selain Allah menyebabkan hari hari diliputi dengan amarah, dendam dan kebencian. Inilah neraka dunia yang rasanya sangat pedih tak terlukiskan.
Oleh karena itu jangan tebang pilih. Imani/ yakini dalam hatimu bahwa baik buruk, benar salah dari Allah juga. Dan semuanya pasti mengandung hikmah yang besar dimasa depan. Hanya karena anda belum melihat hikmahnya jangan lalu berprasangka buruk terhadap Allah.
Makanya ketika saat itu saya mengatakan, "Saat ini aku hanya punya Allah. Hanya Allah dihatiku? Hanya Allah yang mengerti aku ketika didzalimi orang lain. Hanya Allah yang tahu bahwa aku sedang terluka. Biarlah Allah yang memberikan balasan kepada orang dzalim. Aku hanya bisa bersujud dihadapanNya dengan berlinangan air mata". Sebenarnya statement saya saat itu adalah tanda bahwa saya belum mampu melihat Allah. Saat itu hati saya masih ketutup.
Sudah bagus ketika kita mengadu kepada Allah, lanjutkan. Tetapi seiring dengan terus belajar dan muhasabah diri. Sampai akhirnya engkau mengatakan dalam sujudmu, "Terimakasih ya Allah engkau sudah datang lewat musibah (sihir) ini. Tolong kuatkan hamba untuk menerima kedatanganMu". Dan engkau tetap berlinangan air mata tetapi air mata bahagia yang tidak bisa diutarakan dengan kata kata.
Pertanyaannya mudah apa sulit? Swuuuliiit khan? Menyakini rezeki dari Allah relatif gampang, tapi meyakini musibah datangnya dari Allah faktanya syuuuseeehh... Buktinya kita masih berada dalam neraka kesedihan, kemarahan dan kekecewaan khan? Lisannya mengatakan hanya Allah dihatiku, tetapi faktanya marah dan kecewa saat Allah datang. Bahkan mengusir, membentak dan melaknat Allah yang datang dibalik mahluk.
Ada satu lagi yang paliiiiiing syuuuliiit. Yaitu beriman/ mengakui diri kita sendiri hakikatnya tidak bisa apa apa, tidak memiliki apa apa dan tidak kuasa apa apa. Kita sulit mengakuinya karena ketutup oleh "diri" kita sendiri yang merasa ada, merasa hidup, merasa bisa dan merasa kuasa. Kita sangat enggan untuk melepaskannya karena takut kehilangan "harga diri".
Sebenarnya kasusnya sama persis dengan pertanyaan "siapa yang kasih rezeki?". Jawabannya adalah Allah. Mosok bosmu adalah Allah khan bukan. Tetapi lihatlah dengan mata hatimu bahwa dibalik bosmu ada Allah yang menggerakkan. Ini sama saja dengan dirimu sendiri, bahwa engkau juga digerakkan oleh Allah dalam segala hal. Dalam segala hal loh ya?
Secara teori mungkin banyak sahabat yang mampu menerima statement saya barusan. Tapi ketika praktek syuuuliiit sekali. Karena keyakinan kita sudah kadung melekat kuat bahwa "aku yang hidup, aku yang melihat, aku yang mendengar, aku yang berbuat dll". Termasuk ucapan, "Ini tanganku, ini kakiku, ini pasanganku, ini anakku, ini rumahku, ini hartaku, ini mobilku, itu temanku, itu kerabatku, itu sawahku dll". Juga kadung melekat kuat keyakinan kalau, "ini kerja kerasku, ini ilmuku, ini kecerdasanku, ini amalku, ini sedekahku, ini itu ini itu semua diakui diri dan miliknya.
Bukankah ini sama saja dengan Qorun? Bahkan lebih parah...
Makanya ketika satu persatu diri dan milikmu dilepas rasanya sakiiiiit sekali. Apalagi ketika nyaris semua dilepas rasanya sungguh tak terlukiskan. Misalnya karena asbab sihir yang menghancurkan segala galanya. Pedihnya diatas normal. Mengapa sakit dan pedih? Karena hatimu but4 dari melihat Yang sebenarnya Ada dan Yang Sebenarnya Memiliki.
Saya dan anda bisa menerima kalau rezeki dari Allah meskipun faktanya dikasih bos. Adapun dikasih bos itu seakan akan saja. Bahasa lainnya seolah olah atau pura pura saja. Termasuk ujian yang anda alami sebenarnya pura pura saja untk membuktikan kemana arah imanmu menghadap. Apakah menghadap Allah atau menghadap mahluk. Kalau menghadap mahluk pasti kecewa dan masuk neraka, kalau menghadap Allah pasti hatimu tenang.
Artinya diri, milik dan segala perbuatanmu juga sama saja sebagaimana "rezeki ditangan Allah". Seolah olah, seakan akan kamu yang melakukannya. Hanya seakan akan saja. Dan selama ini kita tertipu dari "seakan akan". Seakan akan ada air di gurun tetapi setelah didekati tiada apapun jua. Airnya sangat nyata dari kejauhan tetapi setelah didekati ternyata tidak ada apapun juga.
Seakan akan saya sedang mengetik, dan anda sangat yakin kalau yang mengetik tulisan ini adalah pendekar langit. Tapi setelah didekati ternyata pendekar langit tidak ada. Seakan akan saja anda melihat dengan matamu, tetapi setelah didekati ternyata mata tidak ada. Secara sains dalam fisika sudah sangat jelas diterangkan bahwa alam semesta ini sebenarnya ruang kosong. Misalnya mata anda yang digunakan untuk melihat ketika didekati dengan mikroskop elektron ternyata berisi atom dimana 99.99 persen adalah ruang hampa atau ketiadaan.
Dalam fisika dijelaskan bahwa materi adalah energi yang memadat. Sedangkan energi dalam fisika dikatakan tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Alias kekal tidak ada awal dan tidak akan ada akhirnya. Kalau bahasa saya energi yang dimaksud bahasa islamnya disebut dengan "nuur". Atau nurullah, yaitu cahaya Allah. Allaahunurussamaawaati wal ardh, nuur Allah meliputi langit dan bumi.
Artinya siapa yang hidup dan bergerak ketika engkau melakukan aktifitas? Siapa yang melihat saat engkau melihat? Siapa yang mendengar saat engkau mendengar?
Jawabannya adalah seakan akan engkaulah yang bergerak tetapi sebenarnya engkau bergerak karena digerakkan Allah. Engkau bisa melihat karna diberikan penglihatan oleh Allah. Dan semuanya tidak terkecuali karena diijinkan oleh Allah. Atau bahasa yang paling dalam sebenarnya semua Allah Allah juga tidak ada yang lain. Apakah engkau tidak menyadarinya?
Lalu apa yang membuat saya dan anda sulit menerima kenyataan ini? Jawabannya adalah "egomu" yang merasa ada, hidup, bisa dan kuasa. Dia adalah nafsu yang menutupi pandangan mata hati dan hanya melihat dari sisi lahiriah/ kemakhlukan saja.
Pengakuan (syahadat) ini memang suliiit sekali. Tetapi jika hati anda dibuka lalu menerimanya maka percayalah everything is oke. Semua akan baik baik saja. Ketika "egomu" dipinggirkan lalu mempersilahkan Tuhan membuat cerita dan nafsu tidak merecoki, maka hatimu mulai tenang. Dan percayalah cerita Tuhan pasti happy ending. Meskipun dalam cerita hidupmu ada babak yang mengharu biru percayalah endingnya adalah kebahagiaan (surga).
Lagian mana ada film best seller yang tidak ada konflik. Sutradara terbaik pasti membuat skenario terbaik biar filmnya laris manis. Dan sutradara terbaik dari yang terbaik adalah Sang Sutradara alam semesta.
Sahabat yang dirahmati Allah. Tulisan ini bukan teori tetapi pembelajaran real dilapangan. Bukan berarti saya sudah sampai tetapi saya dan anda terus belajar mentauhidkan Allah dalam segala galanya sampai akhir hayat. Sampai disebuah masa dimana ada kerinduan yang teramat besar untuk bertemu Yang sebenarnya Ada, Yang sejatinya Hidup dan Yang Kekal Abadi... Allah subhanahu wata'ala.
Yaitu saat ajal datang, disitulah pertemuan dengan Sang Kekasih. Saat dimana jiwa (ruh) keluar dari cangkang atau penjara jasad (kubur) dengan suka cita. Saat itulah pertemuan abadi selama lamanya dalam cinta sejati yang tidak akan pernah pudar. Saat itulah kerinduan yang memuncak langsung terobati.
Semoga mencerahkan, share ya?
Wallaahu A'lam
Pendekar Langit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar